Malinda Dee, Sosialita yang Salah Kaprah? - Kompas.com

Malinda Dee, Sosialita yang Salah Kaprah?

Kompas.com - 07/04/2011, 12:39 WIB

KOMPAS.com — Perempuan berpenghasilan tinggi dengan gaya hidup sekelas sosialita boleh jadi jumlahnya tidak banyak di Indonesia. Namun, kelas sosialita di Indonesia terbukti ada. Namun, banyak yang salah kaprah. Gaya hidup yang dijalani sebatas untuk mendapatkan pengakuan atas kekayaannya, untuk membangun citra diri semu.

Pengamat gaya hidup, Fira Basuki, dan penulis buku serial Miss Jinjing, Amelia Misniari, adalah contoh dua perempuan yang bersentuhan dengan kalangan sosialita. Menurut kedua perempuan ini, banyak sosialita di Indonesia yang salah kaprah. Dalam bincang-bincang di program 8-11 Show di Metro TV pagi tadi, Kamis (7/4/2011), keberadaan dan gaya hidup sosialita Indonesia dipertanyakan.

Mengapa sosialita di Indonesia salah kaprah? Fira mendefinisikan sosialita sebagai seseorang yang memiliki karakter kuat untuk menggerakkan masyarakat, membagi sesuatu yang lebih kepada orang lain untuk menghasilkan sesuatu yang lebih.

"Di luar negeri, sosialita adalah kalangan yang memang berasal dari keluarga kaya atau seseorang yang berpengaruh dan punya kemampuan. Mereka mampu menarik masyarakat menjadi sesuatu hal yang positif. Jadi, ada sosok pribadi yang menonjol dalam diri sosialita, bukan berkelompok seperti kebanyakan di Indonesia," ungkap Fira.

Pada kesempatan lain, motivator muda Bong Chandra mengatakan, mereka yang terjebak dalam kesenangan, tak mampu menunda kesenangan, dan menikmati penderitaan sementara adalah kalangan yang fokus pada lifestyle dan mengabaikan wealthstyle. Gaya hidup tak sesuai kemampuan kemudian mendorong mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Mereka ingin merasakan kenyamanan yang semu. Kalangan ini tak mampu hidup dalam ketidaknyamanan dan menjadi manusia yang tak bertumbuh.

Amelia mempunyai pandangan yang sedikit berbeda. Menurutnya, di Indonesia, sosialita berkontribusi terhadap masyarakat secara berkelompok. "Kalaupun mereka mengadakan penggalangan dana, misalnya, mereka beramal ramai-ramai, tak ada sosok yang menonjol," kata Amelia. Namun ia sepakat, yang menonjol dari karakter sosialita di Indonesia adalah gaya hidupnya. Mereka saling menandingi dalam hal kepemilikan sejumlah barang bermerek hingga barang mewah, termasuk kendaraan.

Kasus Malinda Dee menjadi contoh nyatanya.

"Di Indonesia, sosialita adalah mereka yang naik Ferrari, punya barang bermerek, eksis di pesta, beramal ramai-ramai, kurang banyak sosok pribadi yang menonjol," ungkap perempuan yang berprofesi sebagai personal buyer ini.

Menurutnya, kebanyakan sosialita di Indonesia menghabiskan dana jutaan untuk perawatan tubuh dan kecantikan. Biaya perawatan tubuh lebih tinggi dibandingkan anggaran belanja tas yang bernilai ratusan juta per buahnya.

"Saat menghadiri pesta atau peluncuran program bank yang bekerja sama dengan merek tertentu, kalangan sosialita itu enggak berbelanja. Mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk manicure pedicure dan perawatan lainnya. Mereka bahkan sudah tidak tahu caranya mencuci rambut sendiri. Gaya hidup yang juga tinggi adalah, saat menghadiri pesta mereka, harus mengenakan busana bermerek beserta aksesori dengan merek sama dari ujung rambut ke ujung kaki. Sulit untuk memasuki kalangan sosialita dan bertahan di antara mereka," lanjutnya.

Fira menambahkan, sosialita seharusnya memiliki sesuatu yang dibanggakan dan mempunyai penghargaan atas dirinya, nilai kemanusiaan dan kejujuran, dan bukan sesuatu yang semu. "Seharusnya, sosialita memiliki kepercayaan diri, menggali dan mempelajari kelebihan diri. Kalau tidak, mereka akan menggunakan topeng di balik sesuatu yang palsu dan semu," kata Fira.

Sosialita, terutama perempuan, harusnya menjadi inspirasi, memiliki kekuatan dan karakter yang membanggakan, serta berkontribusi terhadap masyarakatnya. Perempuan kalangan atas seharusnya tidak dilihat dan menonjol karena menjadi istri tokoh ternama. Sosok sosialita dalam arti sebenarnya bisa didapati dari diri Dewi Soekarno.

"Ada sosok sosialita, Dewi Soekarno, tapi itu sudah lama sekali. Saat ini sosialita sudah bergeser definisinya," tutup Fira.

EditorDini

Terkini Lainnya

Pilot di Seluruh Dunia Punya Bahasa Rahasia

Pilot di Seluruh Dunia Punya Bahasa Rahasia

Feel Good
Suka Minuman Berenergi? Ketahui Juga Bahayanya

Suka Minuman Berenergi? Ketahui Juga Bahayanya

Eat Good
Hati-hati, Virus HPV Juga Sebabkan Kanker Tenggorokan

Hati-hati, Virus HPV Juga Sebabkan Kanker Tenggorokan

Feel Good
Tren Pamer Tulang di Instagram Dianggap Menyesatkan

Tren Pamer Tulang di Instagram Dianggap Menyesatkan

Feel Good
10 Rahasia Taklukkan Hati Calon Mertua

10 Rahasia Taklukkan Hati Calon Mertua

Feel Good
Bentuk Feses Bisa Cerminkan Status Kesehatan

Bentuk Feses Bisa Cerminkan Status Kesehatan

Eat Good
9 Cara Mengusir Rasa Takut yang Berlebihan

9 Cara Mengusir Rasa Takut yang Berlebihan

Feel Good
Memilih Produk Kosmetik yang Aman untuk Kulit

Memilih Produk Kosmetik yang Aman untuk Kulit

Look Good
Cara Memilih Krim Wajah untuk Pria

Cara Memilih Krim Wajah untuk Pria

Look Good
Bukti Teknologi Malah Membuat Kita Makin Bodoh

Bukti Teknologi Malah Membuat Kita Makin Bodoh

Feel Good
Tips Hadapi Milenial di Dunia Kerja...

Tips Hadapi Milenial di Dunia Kerja...

Feel Good
Inilah Alasan Mengapa Cokelat Baik untuk Kita

Inilah Alasan Mengapa Cokelat Baik untuk Kita

Eat Good
Perubahan yang Terjadi pada Penis Saat Pria Menua

Perubahan yang Terjadi pada Penis Saat Pria Menua

Feel Good
Hanya Satu dari Empat Milenial yang Terlibat dengan Perusahaan

Hanya Satu dari Empat Milenial yang Terlibat dengan Perusahaan

Feel Good
Jangan Langsung Mencuci Muka Setelah Terpapar Sinar Matahari

Jangan Langsung Mencuci Muka Setelah Terpapar Sinar Matahari

Look Good
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM