Semur, Hidangan Sarat Tradisi Saat Lebaran - Kompas.com

Semur, Hidangan Sarat Tradisi Saat Lebaran

Kompas.com - 26/08/2011, 14:42 WIB

KOMPAS.com - Hidangan nusantara punya ciri khas yang menjadi pembeda. Bukan hanya kaya bumbu rempah, hidangan khas Indonesia juga sarat nilai historis. Seperti semur daging, dengan citarasa beragam dan nilai historis yang berbeda dari setiap daerah.

Sejarahwan JJ Rizal mengatakan semur merupakan produk kebudayaan yang dimiliki Indonesia dengan nilai kearifan, sarat keanekaragaman, juga multikultural. Senada dengan Rizal, ahli budaya Betawi, Indra Sutisna SKom, dan ahli semur Palembang, chef Idham Mirwan berbagi cerita mengenai tradisi menyiapkan dan menyajikan semur daging jelang lebaran.

"Semur merupakan produk persilangan budaya dan lahir di masa kolonial. Pengolahan daging ini sudah ada sejak masa prasejarah. Masyarakat meramu daging dengan aneka bumbu. Rempah-rempah merupakan basis dasar bumbu semur. Layaknya produk kebudayaan, semur juga berevolusi dalam hal pengayaan bumbu. Semur merupakan simbolisasi Indonesia. Ada nilai kearifan dalam hidangan yang biasanya disajikan di hari istimewa ini. Salah satunya saat lebaran," jelas Rizal dalam acara "Kenduri Semur Nusantara" diadakan kecap Bango di Jakarta beberapa waktu lalu.

Jika Anda menyajikan semur saat lebaran nanti, tak berlebihan jika dikatakan Anda turut andil melestarikan warisan budaya ini. Semur tak hanya bicara selera, namun juga sejarah. Selain lezat dan kaya citarasa, menyajikan semur di meja makan saat hari raya adalah juga bagian dari upaya mewariskan sejarah. 

Nah, dengan kekayaan semur Indonesia, seperti semur Betawi, Palembang, Samarinda, Anda bisa memilih sesuai selera. Khusus untuk hari raya Idul Fitri, biasanya semur Betawi dan Palembang yang tersaji di meja makan masyarakat setempat. Anda juga bisa menghadirkannya saat lebaran nanti.

Memasak sesuai ritual tradisi

Apa pun pilihan semur yang disajikan sebagai hidangan lebaran nanti, pastikan Anda juga mewariskan cara pengolahan sesuai tradisi. Menurut Rizal, semur lahir dari tradisi komunal di hari istimewa. Semur bukan sekadar makanan, namun juga simbol kebersamaan.

"Semur bukan cuma bicara soal rasanya yang kuat, namun yang perlu didahulukan adalah kebersamaannya. Ada ritual di balik pengolahan semur dan semangat gotong royong dalam memasak semur. Semangat ini bisa hilang menjadi individualistis dengan cara pengolahan yang tak mengikuti ritual tradisi," tutur Rizal.

Rizal menambahkan, adalah tantangan bagi masyarakat masa kini, yang terbiasa dengan sesuatu yang instan, mudah, praktis untuk tetap melestarikan tradisi semur. "Masyarakat memilih, mau yang instan atau tetap mempertahankan gotong royong," tambahnya.

Jadi jangan terheran-heran, jika para orangtua masih mempertahankan cara memasak semur mengikuti ritual. Salah satunya memasak dalam waktu panjang, dengan tahapan dan teknik memasak tertentu yang sudah menjadi tradisi. Alhasil, bumbu rempah dan kecap meresap kuat dalam daging. Semur daging juga awet disimpan berhari-hari, dan masih nikmat untuk disantap.

"Semakin lama dimasak, semur daging semakin bagus," tutur Chef Idham menambahkan semur daging tak basi selama seminggu kalau cara memasaknya tepat. "Semur daging juga biasanya melewati tahapan digoreng lalu dimasak kembali dengan bumbu rempah," ujar Indra menjelaskan tahapan memasak semur Betawi.
Proses memasak yang lama dan bertahap inilah yang membuat semur daging khas nusantara menjadi berbeda. Bahkan proses memasak yang lama tadi, justru membuat bakteri mati, kata chef Idham.

Masak lama hilang nutrisinya?
Kalau soal nilai nutrisi, Rizal berpendapat, keutamaan dari semur adalah pada bumbu rempah bukan pada dagingnya. Selain juga nilai tradisi di dalamnya. Jadi jika ada yang mengkhawatirkan nilai gizi dari daging yang dimasak lama, ini menjadi tantangan chef untuk bisa berkreasi dan berinovasi.

Namun utamanya, semur kaya dengan bumbu yang menggoda selera. Meski begitu, makan semur bukan hanya bicara selera yang mengenyangkan perut saja. "Menyantap makanan khas nusantara, seperti semur yang kaya nilai sejarah dan tradisi, juga perlu mengenyangkan pikiran bukan hanya bicara selera yang mengenyangkan perut saja. Jadi, justru 'murtad' jika makan semur jika tidak sesuai tradisi," tegasnya.

Masyarakat yang mempertahankan tradisi bahkan sudah memperhitungkan kesehatan. Semur tak dihidangkan sendirian. Tersedia juga acar atau sajian pendamping lainnya yang fungsinya menjadi penawar kolesterol akibat makan daging. Inilah nilai tradisi yang semestinya juga dipatuhi saat menghidangkan semur.

Editorwawa
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM