Berat Badan Turun Drastis karena Masalah Emosional - Kompas.com

Berat Badan Turun Drastis karena Masalah Emosional

Kompas.com - 08/11/2011, 12:05 WIB

KOMPAS.com -  Atasi masalah emosional dengan tepat, karena jika tidak, anorexia (gangguan makan) bisa mengancam. Inilah yang terjadi pada Rebecca Jones (26) yang menderita gangguan makan sejak belia. Kini, berat badan Jones menurun drastis hingga 32 kilogram, lebih rendah dari berat badan normal anak perempuannya yang berusia tujuh.

Berat badan Jones lebih rendah dari putri semata wayangnya, Maisy (7). Jika melihat keduanya berdiri berdampingan, orang lain akan mudah mengira mereka adalah kakak beradik. Akibat anorexia, ukuran tubuh Jones tak normal untuk perempuan seusianya.

Tidak diketahui secara khusus penyebab anorexia (gangguan makan). Seperti banyak penyakit lain, ini merupakan kombinasi faktor biologis, psikologis dan sosiokultural.  Gangguan makan disebabkan mereka yang terobsesi terhadap berat badan dan makanan yang mereka makan.

Cara keliru atasi masalah emosi
Namun, anorexia nervosa tidak benar-benar mengenai makanan. Ini merupakan cara tidak sehat untuk mengatasi masalah emosional. Seperti yang terjadi pada Jones. Ibu muda ini mengalami gangguan makan sejak usia 11, saat orangtuanya bercerai.

Sejak orangtuanya bercerai, Jones tak mampu mengontrol kebiasaan makan. Berat badannya pun naik drastis hingga 95 kilogram di usia belia. Kepercayaan diri Jones pun terusik. Ia diejek teman-temannya di sekolah. Karenanya, mulai usia 13, Jones mengatasi masalah emosinya dengan mencoba berhenti makan. Alhasil, Jones berhasil menurunkan berat badan, teman-teman memujinya, dan keluarga tak melihat adanya masalah.

"Saya merasa senang, karena kata ibu, saya berhasil menghilangkan lemak dari tubuh," tuturnya.

Namun, gangguan makan yang dialami Jones membuatnya harus kehilangan berat badan secara drastis. Dalam dua tahun, berat badan Jones menurun drastis hingga 50,8 kilogram. Ia pun tak lagi mengalami menstruasi.

"Tubuh saya sangat lemah dan saya tak bisa beranjak dari tempat tidur," akunya.

Masalah emosional tak hanya terjadi pada Jones saat ia remaja. Di usia 19, saat kuliah di Manchester University, Jones mulai berkencan dengan ayah Maisy. Ia berasumsi, penderita anorexia seperti dirinya takkan subur apalagi hamil. Namun hasil scan menunjukkan, Jones hamil 26 minggu.

"Saya tak menyangka. Karena ukuran tubuh saya kecil, berat badan tak bertambah dan perut saya rata," katanya.

Lantaran mengalami gangguan makan, perut Jones tak mampu menerima makanan dengan baik. Anjuran dokter untuk mengonsumsi ayam sebagai asupan protein, dan minum vitamin untuk membantu pertumbuhan janin dalam kandungan, tak berhasil dijalankannya.

"Perut saya terbiasa makan dalam jumlah sedikit. Makan makanan dalam jumlah normal, membuat saya ingin muntah," jelasnya.

Meski sulit makan, Maisy lahir sehat meski berukuran kecil. Jones juga tak bisa menyusui. Namun Jones kembali mengalami gangguan makan, terutama setelah berpisah dengan pasangannya, ayah Maisy. Jones juga menjalani diet dengan hanya mengonsumsi cairan seperti jus. Diet inilah yang akhirnya membuat Jones kehilangan berat badannya, hingga 32 kilogram.

"Sekarang saya bertukar pakaian dan jeans dengan Maisy. Rok Maisy muat untuk ukuran saya," kata Jones.

Jika Jones sulit menerima makanan (meski sangat ingin mengonsumsinya), namun yang terjadi pada Maisy adalah kebalikannya. Maisy menyukai cokelat dan cupcakes. Meski Jones lebih tinggi dibandingkan anak perempuannya, namun berat badan Maisy masih di atas ibunya, sekitar 36 kilogram.

Ibu dan anak yang tinggal di Manchester ini menyadari bahwa gangguan makan merupakan sesuatu yang buruk. "Saya sudah memberi tahu Maisy bahwa saya mengalami gangguan makan, dan dia memahami bahwa itu adalah hal buruk," kata Jones yang mengaku Maisy mengkhawatirkan berat badan ibunya.

Awal tahun ini, hasil pemeriksaan darah menunjukkan Jones memiliki level potasium rendah, kondisi yang disebut sebagai hypokalemia, menyebabkan melemahnya otot secara ekstrem. Dokter juga memeringatkan Jones, ia bisa terkena serangan jantung yang fatal jika tak segera menaikkan berat badannya.

"Saya takut tak bisa menyaksikan Maisy bertumbuh besar. Saya suka makan, saya ingin makan siang bersama Maisy, tetapi saya tidak bisa makan," akunya.

Editorwawa

Terkini Lainnya

Kenapa Olahraga Harus Jadi Agenda Wajib Meksipun sedang Sibuk?

Kenapa Olahraga Harus Jadi Agenda Wajib Meksipun sedang Sibuk?

BrandzView
Kaitan Polusi Udara dengan Kanker Payudara

Kaitan Polusi Udara dengan Kanker Payudara

Feel Good
Seberapa Sering Sprei Harus Dicuci?

Seberapa Sering Sprei Harus Dicuci?

Feel Good
Pakai Pelumas Saat Berhubungan Seks Hambat Kehamilan?

Pakai Pelumas Saat Berhubungan Seks Hambat Kehamilan?

Feel Good
Berikan Pemahaman pada Anak Tentang Waktu Bermain Gadget

Berikan Pemahaman pada Anak Tentang Waktu Bermain Gadget

Feel Good
Banyak Minum Air Putih Bisa Turunkan Berat Badan?

Banyak Minum Air Putih Bisa Turunkan Berat Badan?

Eat Good
5 Resep yang Membuat Anak Ketagihan Bawa Bekal dari Rumah

5 Resep yang Membuat Anak Ketagihan Bawa Bekal dari Rumah

Eat Good
Tips Agar Anak Rutin Minum Air Putih

Tips Agar Anak Rutin Minum Air Putih

Eat Good
Jangan Pernah Tidur Tanpa Melepas Lensa Kontak

Jangan Pernah Tidur Tanpa Melepas Lensa Kontak

Feel Good
Otot Tak Juga Terbentuk, Apa yang Salah?

Otot Tak Juga Terbentuk, Apa yang Salah?

Look Good
KFC Melansir Lini Fashion

KFC Melansir Lini Fashion

Look Good
Rekomendasi Asupan Air Minum untuk Anak Setiap Hari

Rekomendasi Asupan Air Minum untuk Anak Setiap Hari

Eat Good
Mengapa Pria Gemuk Lebih Disukai Wanita?

Mengapa Pria Gemuk Lebih Disukai Wanita?

Feel Good
Busana Pernikahan ala 'Royal Wedding' dari Berbagai Negara

Busana Pernikahan ala "Royal Wedding" dari Berbagai Negara

Look Good
5 Kebiasaan Untuk Memperlambat Kebotakan

5 Kebiasaan Untuk Memperlambat Kebotakan

Look Good
Close Ads X