Khairiyyah Sari: Gaya Sepanjang Hari - Kompas.com

Khairiyyah Sari: Gaya Sepanjang Hari

Kompas.com - 27/08/2012, 10:11 WIB

KOMPAS.com - Jika Anda bingung harus berbusana seperti apa, tanyakan kepada Khairiyyah Sari. Santai saja kepadanya. Derai tawanya yang renyah akan memecah situasi sebeku apa pun. ”Banyak lho orang yang tiap hari bingung mau pakai baju apa,” kata Sari.

Sore itu kami bertemu di balkon Magnum Cafe, Grand Indonesia, Jakarta. Gayanya luwes. Ia mengenakan setelan blazer dusty pink dipadu celana panjang biru indigo yang terlihat chic membalut tubuhnya yang semampai.

Obrolan ringan mengalir dari bibir tipisnya. Sesekali tawa renyahnya pecah berderai, dibawa angin yang berembus cukup kuat sore itu.

Tanpa mengungkapkan identitas sang klien, Sari bercerita baru saja menangani seorang klien warga negara asing yang tinggal di Jakarta. Problem sang klien itu pun klasik, yakni senantiasa bingung harus mengenakan busana seperti apa sehari-hari. Menurut dia, banyak orang punya problem yang sama dalam hal berpenampilan, yakni menyimpan rasa tak percaya diri. Apalagi orang urban, koleksi baju berlemari-lemari pun kerap masih membuat kepala pening untuk memilih busana yang harus dikenakan saban hari.

Ya, soal penampilan adalah dunia Sari sehari-hari sebagai seorang konsultan penampilan, yang kadang boleh juga disebut sebagai fashion stylist. Kliennya tak hanya individual, seperti para profesional, politisi, pejabat, dan nyonya. Ia juga memberi pelatihan seputar menata penampilan bagi para karyawan di perusahaan perhotelan hingga badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pengelolaan bandara. Menurut Sari, bagaimanapun sulit ditampik bahwa penampilan amat berpengaruh mengirim pesan positif atau negatif dalam beraktivitas sehari-hari.

Prinsip Sari, setiap orang harus menemukan karakter gaya berpenampilan sendiri dan merasa nyaman dengan hal itu. Oleh karena itu, ia senantiasa menggali karakter klien untuk memformulasikan gaya yang pas. Bahkan, bentuk tubuh sama sekali bukan kendala untuk tampil menarik.

Gengsi tapi norak
Ciri berpenampilan seperti apa yang menggejala di kota seperti Jakarta? Salah satu yang dicermati Sari adalah kecenderungan orang urban Jakarta bergaya atas niatan gengsi. Akibatnya, tipe berpenampilan yang menjadi andalan mereka adalah sekadar mencantoli tubuh dengan baju dan aneka barang bermerek secara mencolok. Alih-alih jadi keren, malah terlihat snob dan norak. Baginya, boleh saja orang menggemari barang bermerek asalkan tahu bagaimana mempresentasikannya secara sepantasnya.

Apa yang membawanya pada profesi ini? Tak lain hasratnya pada dunia mode dan kecantikan. Sulung dari dua bersaudara ini sejak usia kanak-kanak sudah senang mengamati aneka gaya penampilan orang. ”Bahkan, sejak kecil, selera saya pada gaya vintage sudah terbentuk,” tutur Sari yang sempat mengenyam studi di Fashion Institute of Technology, New York, Amerika Serikat.

Sejak kecil pun, Sari kerap diajak sang ayah bepergian ke luar negeri. Di negeri-negeri asing itu Sari banyak mengamati mode dan gaya penampilan orang. Kini, semua catatan perjalanannya ke sejumlah negara diunggahnya di www.thestyletravelista.com yang memberi advis berpenampilan sembari jalan-jalan. Salah satu kegemaran Sari setiap kali pelesir adalah menyusuri pasar loak.

”Banyak desainer kelas dunia mencari inspirasi gaya dari jalanan, dari pasar loak. Saya juga cukup sering beli aksesori keren dari street market,” cetusnya disambung derai tawa.

Jauh sebelum terjun di dunia mode, Sari sempat mengecap dunia pertelevisian, yakni sebagai penyiar berita sekaligus reporter di sebuah stasiun televisi swasta. Beragam tema liputan dilalui, mulai dari politik, kriminal, hingga perkotaan. Sari tertawa-tawa gelak mengenang berbagai kekonyolannya—yang selalu mengutamakan penampilan chic saat liputan—selama menjadi wartawan.

Ia mengingat berbagai pengalamannya, mulai dari tersiram air got saat meliput kebakaran hingga naik pesawat Hercules. Kala itu, Sari mengaku tak kapok berpenampilan cantik setiap kali terjun di lapangan. Dia bahkan amat sadar dirinya kadang jadi cibiran sinis karena kepeduliannya tampil rapi di lingkungan yang tak peduli dengan penampilan.

”Walaupun seru, dunia itu ternyata memang tak cocok untuk saya. Ternyata kemudian, toh saya tetap jadi wartawan, bahkan hingga tujuh tahun, tetapi sebagai wartawan mode di majalah. Itu baru cocok untuk saya,” ujar Sari.

Begitulah perempuan riang ini. Tak ragu mengungkapkan kisahnya apa adanya. Bahkan, dia tak ragu menjadikan diri sendiri bahan guyonan. Pantas saja empat jam mengobrol dengannya nyaris tak terasa....

Jangan sampai salah kostum
Panggilan masuk ke telepon Sari di suatu siang. Sahabatnya berbicara di ujung telepon dengan nada sedikit panik. ”Seminggu lagi aku berangkat ke New York untuk beberapa acara yang pakai dress code segala. Masa aku harus belanja habis-habisan lagi,” katanya.

Sari gantian berbicara. ”Kamu jangan belanja dulu. Mending lihat isi lemari dulu, nanti kukasih tahu mana pakaian yang bisa dipakai dan padu padan,” ujar Sari.

Sari kemudian meminta sahabatnya mengirimkan surat elektronik berisi jadwal acara dan dress code yang ditetapkan. Sari juga tidak lupa meminta daftar koleksi kaus, kemeja lengan panjang, celana, sepatu, dasi, syal, jas, blazer yang dimiliki sahabatnya berikut model, warna, dan jenis kainnya. Pokoknya, dia minta informasi sedetail-detailnya.

Dua hari berselang, Sari telah menyusunkan daftar pakaian yang mesti dikenakan sahabatnya itu di setiap acara yang dia hadiri. ”Kamu hanya perlu beli kaus warna putih untuk dalaman blazer. Yang lainnya kamu sudah punya, tinggal dipadu padan aja,” ujar Sari.

Sahabatnya setengah tak percaya. ”Bener nih aku enggak perlu beli pakaian lagi?”

Sebagai konsultan penampilan, Sari memang tidak melulu menyarankan kliennya berbelanja pakaian dalam jumlah banyak sekadar untuk tampil di dua-tiga acara. Dia memilih menyarankan kliennya memeriksa terlebih dahulu isi lemari mereka. Sari tinggal membantu memadupadankan koleksi pakaian yang sudah ada. ”Yang terpenting jangan sampai salah kostum,” ujar Sari.

Dalam hal berbelanja, dia juga terbilang efisien. Sebelum membeli, dia pasti berpikir apakah pakaian, sepatu, tas, atau celana yang dia beli bisa dipadupadankan dengan koleksi yang dia miliki. Jika tidak, barang itu pasti dia campakkan. ”Kita harus pintar dalam berbelanja. Jangan sampai barang yang tidak kita perlukan dibeli,” katanya.

(Sarie Febriane/Budi Suwarna)

EditorDini
Close Ads X