Sulitnya Memahami "Siapa Kita" - Kompas.com

Sulitnya Memahami "Siapa Kita"

Kompas.com - 03/09/2012, 10:42 WIB

KOMPAS.com - Sungguh tidak mudah untuk memahami “siapa” sosok seseorang yang sebenarnya, bila kita menyimak profil diri orang tersebut yang ia tuliskan di data diri akun jejaring sosialnya, seperti facebook maupun twitter. Banyak orang lebih sering melihat diskrepansi antara apa yang dituliskan mengenai dirinya dengan keadaan yang sebenarnya. Ada orang yang melabel dirinya sebagai pakar atau “master” di bidang ini itu, padahal tidak memiliki pendidikan atau pengalaman yang mendukung.

Dalam proses seleksi, para rekruter pun kerap kecele karena kesan yang ditangkap dan dituliskan pada resume jauh berbeda dengan saat individu muncul dalam proses wawancara. Terlepas dari adanya keinginan seseorang untuk men-"citra"-kan diri, kekeliruan ini biasanya diawali dari kemampuan orang untuk melihat dua hal: apa yang ia ketahui tentang dirinya serta pandangan orang mengenai dirinya.

Seorang teman yang menyatakan keheranannya karena ada individu yang bisa-bisanya tidak "ngeh" dengan gambaran dirinya yang sebenarnya. Seolah ada “blindspot” atau “sisi gelap” bagi si empunya karakter. Ada orang yang sering mengeluarkan kata-kata sarkatis dan menyerang orang lain, namun ia menganggap itu hal yang sah-sah saja.  Padahal, bagi orang di sekitarnya sikapnya itu sangat mengganggu. Ada orang yang mengatakan ia ramah dan "sering tersenyum", sementara orang lain sama sekali tidak menganggap demikian.

Dalam ajang pencarian bakat, kita melihat ada individu merasa sangat berbakat menyanyi, padahal suaranya sama sekali tidak merdu didengar. Seringkali terjadi, individu shock ketika mengetahui pandangan orang mengenai dirinya. Ada yang kemudian mengatakan pemberi masukan sekadar “dislike” atau tidak menyukai dirinya. Ada orang yang bahkan sampai-sampai berkeras mengatakan “I am who I am” dan kemudian tidak melakukan apa-apa untuk meluruskan diskrepansi yang ada. Bukankah ini sangat merugikan dan menghambat pengembangan diri kita?

Sebuah hasil penelitian mengatakan bahwa penilaian kita terhadap kekuatan, kelemahan, dan penyebab kegagalan kita, ternyata berkorelasi rendah dengan penilaian orang lain terhadap diri kita yaitu sekitar .40. Artinya, kita tidak "tahu" tentang diri kita, seperti yang kita sangka. Di sisi lain, kita semua pasti setuju, bahwa kalau kita ingin lebih sukses lagi, kita perlu mengenal kekuatan dan kelemahan diri kita sendiri. Jadi, radar untuk mencari dan mendapatkan penilaian yang tepat mengenai diri kita perlu kita aktifkan.

Kesalahan terletak di otak kita
Seorang penulis, Sidney J. Harris, pernah mengatakan: “Ninety per cent of the world’s woe comes from people not knowing themselves, their abilities, their frailties, and even their real virtues. Most of us go almost all the way through life as complete strangers to ourselves”.

Gejala “stranger to ourselves” ini sebetulnya pasti tidak dikehendaki oleh orang yang bersangkutan. Kesalahan sebetulnya terletak di otak masing-masing individu. Kita tidak selalu tahu apa yang terjadi dalam pengolahan otak, karena ini terjadi di luar kesadaran kita. Otak kita, seperti halnya sebuah komputer yang menganut hukum efisiensi, akan melakukan processing seefisien mungkin, dan mengikuti hukum prioritas yang ada. Hal-hal yang bisa diolah segera dan dianggapnya penting, akan diproses, sementara yang memerlukan processing lebih dalam dan panjang akan masuk dalam “antrean pengerjaan”.

Umpan balik, akan masuk dalam antrian pengerjaan, seperti halnya "post it" yang ditempel di agenda kita. Ada masanya otak kita kemudian menyembunyikan “post-it” tersebut ke “kolong meja”, yaitu ke area bawah sadar. Dengan begitu, “kesadaran" otak kita jadi jernih kembali untuk bisa mengolah tugas-tugas "here and now". Namun, tanpa disadari kita menyembunyikan fakta penting yang sebetulnya bisa menjawab alasan-alasan mengapa kita sukses dan mengapa kita gagal.

Ketidak sadaran terhadap diri kita sendiri berkembang secara bertahap dan seorang ahli psikologi menyebutnya sebagai adaptive unconsciousness yang berkembang dari setiap momen sehari-hari, di samping refleksi diri dalam kesadaran berpikir kita. Di dalam kehidupan sehari hari kita tampil sebagai orang yang realistis dan praktis, namun di saat bersamaan sulit menerima masukan karena tidak adanya ruang yang cukup dalam otak kita untuk mengolah input. Bila terjadi kegagalan, maka penyebab kegagalan yang dicari hanya yang terlihat dan teraga saja, seperti kurangnya persiapan, waktu yang terlalu pendek, ataupun kesalahan orang lain yang terlibat dalam situasi tersebut. Padahal untuk bisa sukses, kita perlu betul-betul mencari inti permasalahan yang sebenarnya.

Kita butuh cermin yang jujur
Hal yang paling menguntungkan bagi individu adalah bila dalam perjalanan kariernya ia menemukan “coach" atau "peer"  yang tepat, karena penilaian mereka adalah jalan satu-satunya individu bisa mengenal diri secara lebih mendalam. Rekan kerja yang baik tidak akan berorientasi memberi pujian semata, namun akan berkonsentrasi untuk mengoreksi kesalahan. Jadi, kita memang perlu membudayakan “cinta feedback”, agar atasan, para senior, rekan maupun bawahan tidak sungkan untuk mengeluarkan penilaian terhadap kita.

Kita pun perlu menyadari bahwa mengandalkan penilaian berdasarkan keyakinan diri sendiri adalah bagian dari kekeraskepalaan yang berbahaya. Manusia mempunyai “social brain” di mana dia bisa meraba emosi dan sistem empati orang lain, namun ini tidak bisa dilakukan untuk diri sendiri. Inilah sebabnya, banyak perusahaan bahkan mengupayakan ajang feedback 360 derajat ini secara kontinyu. 

Sementara kita belajar untuk lebih banyak mengundang feedback, kitapun perlu mengembangkan sikap yang bisa membendung keterasingan kita terhadap diri kita sendiri. Kita perlu meningkatkan akuntabilitas dengan cara melihat masalah yang ada sebagai masalah kita, tanpa selalu mencari kambing hitam atau menyalahkan orang sekitar. Kita pun perlu mengembangkan karakter yang respectful di mana kita bisa lebih fokus, lebih mendengar, dan memperhatikan lawan bicara kita. Bila kita senantiasa mengedepankan sikap objektif, terbuka memberi penilaian dan berani menyemangati teman untuk "maju", maka paling tidak kita sudah berbuat amal kepada teman sendiri.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

EditorDini
Terkini Lainnya
Melihat Foto dan Video Korban Bom yang Viral Pengaruhi Psikologi
Melihat Foto dan Video Korban Bom yang Viral Pengaruhi Psikologi
Feel Good
Minuman Manis Rendah Kalori untuk Berbuka Puasa
Minuman Manis Rendah Kalori untuk Berbuka Puasa
Eat Good
Perhatikan Kandungan Nutrisi dalam Camilan Anak
Perhatikan Kandungan Nutrisi dalam Camilan Anak
Eat Good
4 Tahap Latihan Olahraga di Bulan Ramadhan
4 Tahap Latihan Olahraga di Bulan Ramadhan
Feel Good
Tunda Penuaan dari Dalam Tubuh dengan Berpuasa
Tunda Penuaan dari Dalam Tubuh dengan Berpuasa
Eat Good
Tak Perlu Dihindari, Rasa Sedih Juga Bermanfaat
Tak Perlu Dihindari, Rasa Sedih Juga Bermanfaat
Feel Good
Tiga Kesalahan Olahraga Saat Bulan Puasa
Tiga Kesalahan Olahraga Saat Bulan Puasa
Feel Good
Memasak Makanan Sendiri Bikin Hidup Lebih Bahagia, Mau Bukti?
Memasak Makanan Sendiri Bikin Hidup Lebih Bahagia, Mau Bukti?
BrandzView
Mengapa James Bond Minta Martini-nya Dikocok?
Mengapa James Bond Minta Martini-nya Dikocok?
Eat Good
Mengenang Gaya Ikonik Roger Moore di Film James Bond
Mengenang Gaya Ikonik Roger Moore di Film James Bond
Look Good
Waktu Terbaik Berolahraga Saat Bulan Puasa
Waktu Terbaik Berolahraga Saat Bulan Puasa
Feel Good
3 Posisi Bercinta yang Membuat Dia Terpuaskan
3 Posisi Bercinta yang Membuat Dia Terpuaskan
Feel Good
Pamer Kemesraan di Media Sosial, Apa Batasannya?
Pamer Kemesraan di Media Sosial, Apa Batasannya?
Feel Good
Berteman Tetap Bisa Seru tanpa Harus Bergosip
Berteman Tetap Bisa Seru tanpa Harus Bergosip
Feel Good
Ini Tips Merawat Sepeda Kesayangan Supaya Awet
Ini Tips Merawat Sepeda Kesayangan Supaya Awet
Feel Good
Close Ads X