"Telecommuting", Tren Baru Dunia Kerja - Kompas.com

"Telecommuting", Tren Baru Dunia Kerja

Kompas.com - 29/04/2013, 18:35 WIB

KOMPAS.com — Banyaknya meeting atau kegiatan yang harus dihadiri di luar kantor, lokasi kantor yang jauh dari pusat bisnis, sementara kemacetan semakin parah, membuat banyak pekerja mengalami stres. Stres yang mereka alami ini akan berakibat pada menurunnya konsentrasi dan produktivitas kerja.

Namun, kelelahan fisik dan stres akibat kondisi Ibu Kota ini seharusnya bisa Anda atasi. Terlebih lagi, berkembangnya teknologi membuat para pekerja semakin dimudahkan dalam menjalankan aktivitasnya.

"Tren bekerja sekarang ini adalah telecommuting. Cara kerjanya memungkinkan Anda bisa bekerja dari mana pun secara online, tanpa harus ke kantor," ungkap Dhyoti Roro Rasmi Basuki, Head of Public Relation Intel Indonesia, saat perkenalan teknologi Telecommuting di Segarra Cafe, Ancol, Jakarta Utara, Senin (29/4/2013).

Di kebanyakan negara berkembang, telecommuting menjadi tren baru di dunia kerja. Menurut survei yang dilakukan Ipsos (lembaga penelitian) di berbagai negara, pekerja yang sudah mengaplikasikan telecommuting di Timur Tengah dan Afrika berkisar 27 persen, Amerika Latin (25 persen), Asia Pasifik (24 persen), dan Eropa (9 persen).

Sementara di Indonesia sendiri, dengan jumlah pekerja hingga 34 persen, telah berkembang menjadi negara kedua terbesar setelah India (56 persen) dalam hal telecommuting. Berarti, kita tidak ketinggalan-ketinggalan amat kan?

Dengan data global ini, bisa diasumsikan bahwa 3 dari 10 pekerja dari seluruh dunia sepakat memilih untuk bekerja secara online ketimbang mengutamakan kehadiran fisik di kantor atau di kantor klien.

"Tingginya minat masyarakat terhadap kultur bekerja online ini tidak hanya bisa mengurangi tingkat stres yang dialami, tetapi juga membantu terciptanya work-life balance, khususnya bagi perempuan," tambahnya.

Selain itu, berkurangnya stres juga diharapkan bisa membantu meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja karyawan karena tugas-tugas dikerjakan dengan santai dan suasana hati yang senang. Namun, Dhyoti juga mengungkapkan untuk meningkatkan kultur kerja online ini dibutuhkan mental personal yang bertanggung jawab dan kepercayaan penuh antara karyawan dan perusahaan.

EditorDini

Terkini Lainnya

'Despacito' dan Fenomena Lagu Dewasa di Tengah Dendangan Anak-anak

"Despacito" dan Fenomena Lagu Dewasa di Tengah Dendangan Anak-anak

Feel Good
Aku Indonesia, Ruang Anak Berkreasi

Aku Indonesia, Ruang Anak Berkreasi

Feel Good
Pujian ‘Masa Kini’ yang Ingin Didengar Wanita

Pujian ‘Masa Kini’ yang Ingin Didengar Wanita

Feel Good
Memindahkan Musik Elektronik Ibiza ke Bali

Memindahkan Musik Elektronik Ibiza ke Bali

Feel Good
Mengajarkan Toleransi pada Anak Lewat Buku

Mengajarkan Toleransi pada Anak Lewat Buku

Feel Good
Game of Thrones Mengalahkan Situs Porno

Game of Thrones Mengalahkan Situs Porno

Feel Good
Di Usia Berapa Kenaikan Berat Badan Paling Berisiko?

Di Usia Berapa Kenaikan Berat Badan Paling Berisiko?

Eat Good
Negara Mana dengan Perempuan Paling Puas Bercinta?

Negara Mana dengan Perempuan Paling Puas Bercinta?

Feel Good
Sikap Posesif yang Berpotensi Merusak Hubungan

Sikap Posesif yang Berpotensi Merusak Hubungan

Feel Good
Rahasia di Balik Aturan Berbusana Keluarga Kerajaan Inggris

Rahasia di Balik Aturan Berbusana Keluarga Kerajaan Inggris

Look Good
Cara Efektif Memperbarui CV dalam 10 Menit

Cara Efektif Memperbarui CV dalam 10 Menit

Feel Good
Negeri Pusing Jadi Bancakan Orang Asing

Negeri Pusing Jadi Bancakan Orang Asing

Feel Good
Melawan Mitos Susah Kenyang kalau Belum Makan Nasi

Melawan Mitos Susah Kenyang kalau Belum Makan Nasi

BrandzView
Berkaca pada Orang Sukses, Bagaimana Caranya Memulai Hari?

Berkaca pada Orang Sukses, Bagaimana Caranya Memulai Hari?

BrandzView
Masuk ke Situs Porno Butuh Data Kartu Kredit

Masuk ke Situs Porno Butuh Data Kartu Kredit

Feel Good
Close Ads X