Susi dan Perjuangan Merawat Pasien yang Menanti Ajal - Kompas.com

Susi dan Perjuangan Merawat Pasien yang Menanti Ajal

Unoviana Kartika
Kompas.com - 17/07/2013, 14:02 WIB
Shutterstock Ilustrasi pasien kanker


KOMPAS.com —
Kematian pasien sering dianggap "kegagalan" bagi dokter dan perawat. Namun, tidak bagi perawat Susi Susilawati (36). Baginya, menghadapi pasien yang meninggal bukanlah suatu kegagalan.

Susi merupakan salah satu dari segelintir tenaga medis yang melayani asuhan paliatif. Menurut dia dan tenaga asuhan paliatif lainnya, kematian adalah hal yang wajar karena setiap manusia pasti akan mengalaminya.

"Yang penting adalah kondisi pasien di saat-saat terakhir menuju kematiannya. Bagaimana pasien tidak mengalami nyeri, siap menghadapai kematian, serta keluarga bisa menerima," paparnya dalam SEHATi Bicara di Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Asuhan paliatif merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya yang menghadapi banyak masalah terkait penyakit mengancam jiwa melalui pencegahan dan upaya meringankan penderitaan dengan deteksi dini, pengkajian menyeluruh dan penanganan nyeri serta masalah lain baik fisik, psikososial, dan spiritual.

Di Indonesia, lembaga penyedia asuhan paliatif masih terbilang jarang. Paradigma tenaga medis, bahkan masyarakat pada umumnya yaitu orang sakit perlu disembuhkan. Padahal, bagi penderita penyakit-penyakit mengancam jiwa yang sudah stadium lanjut, yang dibutuhkan bukan lagi usaha untuk menyembuhkan, melainkan kenyamanan dan rasa terlindungi.

"Terkadang pasien hanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan melalui usapan atau melalui perbincangan mengenai impian mereka. Hal itu dapat membantu meredakan nyeri yang mereka alami," tutur perawat dari Yayasan Rumah Rachel, penyedia layanan asuhan paliatif ini.

Ia mengatakan, dukungan secara psikologis dengan memberikan kasih sayang tersebut sudah termasuk dalam definisi asuhan paliatif. Dan hal tersebut dapat dilakukan oleh siapapun yang mau memahami pentingnya asuhan ini bagi seorang pasien.

Menjadi perawat asuhan paliatif sejak tahun 2008, Susi telah menuai banyak pengalaman menyentuh baginya. Salah satunya ketika ia harus merawat seorang anak dengan HIV/AIDS.

Anak laki-laki itu masih berusia 7 tahun. Sejak kedua orangtuanya meninggal, ia hanya diurus tantenya. Virus HIV yang menggerogoti tubuh mungilnya membuat harapan hidupnya kian menipis.

Namun, sejak Susi merawatnya, perlahan semangatnya bangkit. Anak itu pun mampu tersenyum dan bercerita layaknya anak sehat. Gizi buruknya pun semakin membaik.

Hingga suatu saat kondisi anak itu menurun drastis. Kematian seakan sudah di depan mata. Namun ia menolak keras dibawa rumah sakit.

"Aku enggak mau ke rumah sakit lagi, sakit ditusuk-tusuk dokter. Aku nyaman di sini, aku mau ditemani perawat Susi," ujar Susi menirukan anak itu.

Meski memang hari itu jadwal Susi untuk merawat anak itu, namun hari itu juga Susi mendapat kabar ada pasien lainnya yang sudah dalam keadaan kritis. Susi pun dalam dilema, namun akhirnya memilih untuk datang ke pasien kritis, lantaran pertimbangan keadaannya lebih buruk daripada si anak laki-laki tersebut.

Esoknya, Susi baru mendatangi rumah si anak laki-laki. Betapa terkejutnya ia mendapati si anak laki-laki duduk di depan pintu rumah dalam keadaan lemas, menunggunya.

Kemudian ia tahu, anak itu sudah menunggunya dari kemarin tanpa mau meninggalkan pintu. Anak itu percaya Susi akan datang untuk mengajaknya bercerita, meringankan rasa nyerinya. Namun Susi tak kunjung datang, ia pun tak mau beranjak hingga Susi datang.

"Dari kejadian itu saya menyadari, betapa pentingnya peran saya untuknya. Betapa pentingnya saya memberikan dukung psikologis untuknya daripada tindakan medis di rumah sakit," tutur Susi.

Tantangan

Asuhan paliatif sejatinya merupakan asuhan multi-disiplin yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien di saat-saat menuju akhir hayatnya. Asuhan paliatif sudah diakui secara internasional yang artinya asuhan ini merupakan salah satu unsur penting dalam penyediaan layanan kesehatan yang menyeluruh bagi pasien.

Program manager Yayasan Rumah Rachel Nurhanita mengatakan, karena masih terbilang jarang, asuhan paliatif di Indonesia pun harus menghadapi tantangan tak sedikit. Tantangan bisa berasal dari keluarga dan lingkungan pasien, birokrasi, bahkan dari rekan sejawat medis.

"Umumnya keluarga dan lingkungan pasien masih belum dapat menerima asuhan paliatif, mereka masih mengharapkan kesembuhan," ujarnya.

Maka tak heran, meskipun telah diberi asuhan paliatif, namun ketika kondisi pasien turun, keluarga masih mengusahakan pasien untuk mendapatkan tindakan medis. Contohnya pasien kanker stadium 4. Saat kondisi pasien menurun, keluarga masih meminta dilakukan kemoterapi. Padahal, usaha itu belum tentu berhasil dan malah akan memberi rasa tidak nyaman bagi pasien.

Begitu pula birokrasi yang sering menyulitkan terkait rujukan dan pemesanan obat. Atau rekan sejawat yang masih menganggap asuhan paliatif bukan sebagai komponen layanan kesehatan.

Asuhan paliatif di Indonesia, tutur Nurhanita, masih memerlukan pengembangan agar kualitasnya semakin baik. Sebagai penggiat asuhan paliatif, Nurhanita sering berdiskusi dengan penyedia asuhan paliatif di negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

"Negara-negara itu sudah lebih baik asuhan paliatifnya, kita harus banyak belajar dari mereka," katanya.

Kendati bukan satu-satunya penyedia asuhan paliatif di Indonesia, menurut Nurhanita, Rumah Rachel dapat memberikan layanan yang terpadu, terutama bagi pasien anak-anak. Saat ini Rumah Rachel memiliki 139 pasien dengan penyakit AIDS maupun kanker stadium 4.

PenulisUnoviana Kartika
EditorAsep Candra
Komentar
Terkini Lainnya
Close Ads X