Ini Daftar 10 Negara Tersehat di Dunia (Bag 2) - Kompas.com

Ini Daftar 10 Negara Tersehat di Dunia (Bag 2)

Kompas.com - 25/04/2015, 12:25 WIB
Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Kemajuan teknologi kedokteran dan kesadaran dalam pencegahan penyakit telah meningkatkan angka harapan hidup secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Perbaikan ini tidak merata, namun kondisi kesehatan terus bevariasi antarbangsa.

Untuk menilai keadaan kesehatan suatu negara secara menyeluruh,  Wall St. mengulas sejumlah faktor yang secara umum dikategorikan sebagai indikator kesehatan, ukuran akses, atau ekonomi. Negara paling sehat dipimpin oleh negara yang memiliki nilai keseluruhan tertinggi, sementara negara terendah, yakni Sudan menerima angka paling rendah.

Berikut adalah bagian kedua dari 10 negara tersehat di dunia.

5. Jepang
Angka harapan hidup: 79,9 tahun (tertinggi ke-4)
Angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran): 2,1 (terendah ke-3)
Biaya kesehatan per kapita: $4.752 (tertinggi ke-11)
Tingkat pengangguran: 4 persen (terendah ke-32)

Dengan jumlah penduduk 127 juta orang, Jepang merupakan negara dengan penduduk terbanyak dalam peringkat 10 negara tersehat di dunia. Ironisnya, mereka mempunyai angka kematian tertinggi dalam daftar ini, yakni 10 dari 1.000 orang. Sekitar seperempat dari populasi mereka berusia di atas 65 tahun pada 2014, dan itu menjadi bukti umur panjang dan kesehatan masyarakat Jepang.

Satu faktor yang berpartisipasi dalam tingkat kesehatan mereka yakni angka obesitas orang dewasa di Jepang hanya 3,3 persen. Jumlah tersebut merupakan terbaik ketujuh di dunia dan paling baik di antara 10 negara tersehat.

Di samping ranking tingginya, Jepang memiliki tingkat merokok yang relatif tinggi pada pria dan wanita, serta tingkat emisi CO2 yang tinggi yaitu 9,2 metrik ton per kapita. Itu hampir dua kali lipat rata-rata global yang sebesar 4,9 metrik ton per kapita. Tingkat tuberkulosis di Jepang berkisar 18 per 100.000 orang, jauh di bawah tingkat global dengan total 126 per 100.000 orang.

4. Luxemburg
Angka harapan hidup: 79,1 tahun (tertinggi ke-16)
Angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran): 1,6 (terendah)
Biaya kesehatan per kapita: $7.452 (tertinggi ke-4)
Tingkat pengangguran: 5,9 persen (terendah ke-63)

Dengan anggaran layanan kesehatan terbesar keempat, Luxemburg juga memiliki hasil kesehatan terbaik keempat. Negara di Eropa ini juga memiliki tingkat kematian terendah pada bayi dan anak di bawah usia 5 tahun. Tetapi seperti kebanyakan 10 negara tersehat, Luxemburg relatif memiliki angka kematian yang tinggi. Namun alasannya cukup kuat, karena secara keseluruhan negara tersebut memiliki angka konsumsi alhokol pada penduduknya hingga 11,9 liter per kapita, serta angka obesitas tinggi yang mencapai 23,1 persen.

3. Swiss
Angka harapan hidup: 80,6 tahun (tertinggi ke-2)
Angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran): 3,6 (terendah ke-24)
Biaya kesehatan per kapita: $8.980 (tertinggi ke-2)
Tingkat pengangguran: 4,4 persen (terendah ke-40)

Dengan angka harapan hidup tertinggi kedua dari seluruh dunia, Swiss merupakan negara tersehat nomor tiga di dunia. Negara ini memiliki 3,9 dokter per 1.000 penduduk, dengan rasio tertinggi kesembilan dari 172 negara yang ditinjau. Swiss menduduki peringkat atas meskipun memiliki angka kematian yang juga tinggi, yaitu 9 kematian per orang serta faktor risiko yang lazim.

Konsumsi alkohol per kapita di Swiss yakni 10,7 liter yang hampir 73 persen lebih tinggi daripada rata-rata di dunia. Diperkirakan 22 persen wanita dewasa dan 31 persen pria dewasa merokok. Insiden tuberkulosis di Swiss pun mencapai 6,5 kasus per 100.000 orang, menjadikan Swiss negara tertinggi ke-16 di dunia terkait tuberkulosis.

Di samping kebiasaan kurang sehat tersebut, hampir seluruh warga Swiss sangat sehat, kemungkinan disebabkan oleh anggaran pelayanan kesehatannya. Anggaran tahunan sebesar $8.980 per kapita merupakan angka tertinggi kedua secara global.

2. Norwegia
Angka harapan hidup: 79,9 tahun (tertinggi ke-5)
Angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran): 2,3 (terendah ke-6)
Biaya kesehatan per kapita: $9.055 (tertinggi)
Tingkat pengangguran: 3,5 persen (terendah ke-22)

Norwegia menghabiskan lebih banyak anggaran pada layanan kesehatan dibanding dengan negara lainnya. Pengeluaran tahunan untuk layanan kesehatan mereka berjumlah $9.055, memimpin Swiss dan Amerika Serikat. Norwegia pun mempunyai tingkat kematian tinggi, yakni 8,4 kematian per 1.000 orang, enam kali lebih  banyak dari Qatar. Namun tingkat kematian bayi dan anak di bawah lima tahun serta angka harapan hidup bayi termasuk dalam jajaran 10 besar dari seluruh dunia.

Negara di Eropa Utara ini memiliki perekonomian yang kuat, serta para penduduknya memiliki akses ahli dan fasilitas kesehatan terbaik di dunia. Mereka memiliki akses dan pelayanan terbaik kedua, tercermin dari air bersih dan seluruh masyarakat yang memiliki akses listrik. Setidaknya ada 4 dokter per 1.000 orang di negara ini, dan ini tergolong paling tinggi.

1. Qatar
Angka harapan hidup: 77,6 tahun (tertinggi ke-28)
Angka kematian bayi (per 1.000 kelahiran): 7,0 (terendah ke-44)
Biaya kesehatan per kapita: $2.029 (tertinggi ke-25)
Tingkat pengangguran: 0,5 persen (terendah ke-2)

Sementara Qatar menduduki peringkat pertama negara tersehat versi 24/7 Wall St, ini satu-satunya negara dari 10 negara tersehat tidak memiliki sistem pelayanan kesehatan nasional. Mereka sedang dalam proses peralihan ke jaminan universal.

Qatar berencana mencakup biaya kesehatan seluruh penduduknya pada akhir tahun ini. Dengan 7,7 dokter per 1.000 orang, sistem kesehatan mereka sudah sangat baik. Negeri timur tengah ini sangat baik dalam bidang kesehatan, akses, dan langkah-langkah ekonominya, terutama pada tingkat kematian yang relatif rendah secara keseluruhan yakni 1,4 kematian per 1.000 orang, serta angka kematian ibu yang juga relatif rendah.

Negara ini melindungi warganya dari penyakit dengan cara pemberian vaksin. Sebanyak 99 persen anak-anak di Qatar menerima vaksin DPT dan campak. Namun seperti di beberapa negara makmur dan sehat lainnya, Qatar ternyata memiliki tingkat obesitas tertinggi kedua di dunia. (Purwandini Sakti Pratiwi)

EditorLusia Kus Anna
SumberMarketWatch,
Komentar
Terkini Lainnya
Close Ads X