Selalu Mengantuk di Siang Hari? Hati-hati Gejala Hipersomnia - Kompas.com

Selalu Mengantuk di Siang Hari? Hati-hati Gejala Hipersomnia

Lily Turangan
Kompas.com - 12/08/2015, 09:06 WIB
Shutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Tidur malam sudah cukup, tapi kok masih mengantuk terus?  Dan itu terjadi bukan cuma satu atau dua kali, tapi hampir setiap hari. Jika Anda merasa selalu ingin tidur padahal sudah cukup tidur, mungkin Anda mengalami hipersomnia.

Hipersomnia adalah kantuk berlebihan, terlihat dari tidur malam yang berkepanjangan, sulit mempertahankan keadaan terjaga pada siang hari, atau episode tidur yang tidak diinginkan pada siang hari. Menurut World Sleep Foundation, ada tiga tipe hipersomnia yaitu hipersomnia berulang,  idiopatik dan post-trauma.

Hipersomnia berulang memiliki gejala terjadi kantuk hebat berulang tanpa kenal waktu. Penderitanya bisa tidur 16-20 jam sehari. Hipersomnia idiopatik adalah gangguan neurologis, di mana penderitanya tidur malam dalam jangka waktu lama tetapi tidak menyegarkan. Sehingga, siang hari tetap mengantuk, meski sudah tidur siang dalam waktu lama, penderita tetap merasa kurang tidur.  Hipersomnia post-trauma, terjadi pada orang yang mengalami cidera otak atau syaraf di kepala. Biasanya, hipersomnia jenis ke-3 sembuh dengan sendirinya dalam hitungan minggu atau bulan atau ketika cideranya sembuh.

Kenali pemicunya

Kurang tidur dalam jangka waktu lama disinyalir jadi salah satu penyebab hipersomnia. Misalnya, kebiasaan begadang yang pada satu titik akan membuat tubuh dan otak kelelahan dan menuntut tidur yang sangat panjang dalam jangka waktu yang lama juga. Pemicu lainnya adalah:

- Faktor lingkungan terdekat, seperti pasangan yang tidurnya mengorok dan kehadiran bayi baru yang minta disusui setiap tiga jam sekali walau di tengah malam.

- Shift kerja berubah-ubah. Jam biologis yang tidak tetap, akan mengacaukan ritme sirkadian (ritme internal tubuh) dan membuat otak sulit bersinkronisasi mengatur waktu tidur.

- Kondisi mental yang tidak sehat seperti cemas berlebih, depresi, kekecewaan yang mendalam seringkali membuat seseorang susah tidur dan terbangun tengah malam.

- Penggunaan obat-obatan tertentu, alkohol, kafein, pemakaian pil tidur dan antihistamin

- Kondisi medis seperti hipertiroid, asma dan rasa nyeri kronis.

- Jetlag atau perubahan zona waktu yang terlalu jauh jaraknya

- Gangguan tidur yang tidak segera ditangani seperti sleep apnea (gangguan tidur karena napas), insomnia dan narkolepsi.

Yang harus dilakukan

Cara mengatasi hipersomnia adalah dengan menghindari pemicunya. Diperlukan kemauan untuk mengubah gaya hidup seperti:

- Tidak mengonsumsi alkohol, kafein dan bahan-bahan lain yang dapat membuat jadwal tidur terganggu

- Atur jadwal tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari

- Rutin berolahraga 20-30 menit setiap hari atau minimal tiga kali seminggu

- Tenangkan diri dan rileks sebelum tidur. Jika doa dan pasrah kepada Yang Kuasa dirasa membantu, lakukanlah.

- Jangan merokok karena sama seperti kafein, nikotin juga bisa menunda waktu tidur Anda.

- Mandi dengan air hangat dapat membantu tubuh untuk rileks

- Ciptakan suasana kamar yang nyaman

Jika semua upaya di atas telah dilakukan, tapi tidak banyak membantu, segera temui dokter atau psikiater. Biasanya, dokter akan meresepkan obat antidepresi dan monoamine oxidase inhibitor. Mohon diingat konsumsi imipramine dan obat-obatan yang bersifat stimulan dalam waktu lama bisa meningkatkan risiko darah tinggi. Konsultasikan dengan dokter tentang hal ini, juga tentang efek samping lain terkait kondisi tubuh atau alergi Anda (jika punya alergi). 

PenulisLily Turangan
EditorBestari Kumala Dewi
SumberWebMD,
Komentar
Close Ads X