Jumlah Penderita Skizofrenia di Yogyakarta Tertinggi Kedua Nasional - Kompas.com

Jumlah Penderita Skizofrenia di Yogyakarta Tertinggi Kedua Nasional

Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Kompas.com - 27/07/2016, 16:00 WIB
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Abu vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Kelud menyelimuti kawasan Perempatan Tugu, Yogyakarta, Jumat (14/2/2014) pagi. Hujan abu vulkanik mengakibatkan jarak pandang hanya berkisar 5 hingga 10 meter dan mengganggu aktivitas perekonomian di Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah penderita Skizofrenia (gangguan jiwa berat) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terbilang cukup tinggi. Bahkan di tingkat Nasional, DIY menduduki posisi nomor 2.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Pembayun Setyaningastutie mengatakan, di DIY angka skizofrenia memang cukup tinggi.

"Secara nasional posisi DIY ada di nomor 2 untuk angka Skizofrenia setelah Aceh. DIY tinggi karena pencatatanya baik dan detail, terlebih setelah kejadian bencana Gempa dan Merapi," ujarnya disela-sela acara peluncuran sistem rehabilitasi pasien Skizofrenia terintegrasi di DIY, Rabu (27/07/2016)

Pembayun menjelaskan, berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesda) tahun 2013, prevalensi jumlah penduduk DIY yang menderita gangguan jiwa berat sebesar 2,7 Persen.

Secara rinci, jumlah tertinggi penderita gangguan jiwa berat berada di Kabupaten Kulonprogo 4,67 persen, Kabupaten Bantul 4 persen dan kota Yogyakarta 2,14 persen, Kabupaten Gunungkidul 2,05 persen. Sedangkan Jumlah terendah ada di kabupaten Sleman 1,52 persen.

"Kita (DIY) itu 2,7 per mil. Artinya, dari 1000 penduduk, ada 2 sampai 3 orang," tandasnya.

Beberapa langkah yang dilakukan untuk pemerintah DIY adalah dengan mengintensifkan sosialiasi ke masyarakat. Kedua aktif dalam memberikan pendampingan. Sebab banyak masyarakat dan keluarga yang belum memahami bahwa orang dengan gangguan kejiwaan berat dapat sembuh dan kembali produktif.

"Kita membuat kegiatan dimana pihak keluarga dan masyarakat bersama-sama menurunkan stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa ," katanya.

PenulisKontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM