Mengusir Pikiran Bunuh Diri - Kompas.com

Mengusir Pikiran Bunuh Diri

Kompas.com - 30/07/2016, 11:00 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Pikiran untuk mengakhiri hidup akan timbul dalam diri seseorang ketika ia merasa putus asa dan merasa tidak ada gunanya lagi hidup.

Bila belakangan ini Anda juga memiliki pikiran untuk bunuh diri, hal pertama yang harus Anda ingat adalah kebanyakan orang yang berniat bunuh diri dan bertahan hidup merasa sangat lega karena mereka tidak jadi mengakhiri hidupnya.

Ketika tercetus keinginan bunuh diri, biasanya mereka mengalami perasaan yang sangat putus asa dan tidak tahu ke mana harus mencari pertolongan. Mereka juga merasa tidak bisa mengontrol hidupnya dan banyak hal tak juga membaik.

Satu-satunya hal yang dirasa masih bisa dikontrol adalah apakah mereka hidup atau mati, dan melakukan bunuh diri seolah menjadi satu-satunya pilihan. Padahal ini adalah pikiran yang keliru.

Beberapa pemikiran yang sering menyertai ide bunuh diri antara lain, tak mau lagi merasakan derita, tidak punya pilihan, merasa orang yang buruk dan tidak layak hidup, merasa orang yang dicintai akan lebih baik tanpa saya, dan sebagainya.

Apa pun pikiran yang Anda miliki dan seberapa buruk Anda merasa, ingatlah bahwa hal itu tidak benar. Bila keinginan untuk bunuh diri timbul, ungkapkan hal ini pada orang terdekat dan jangan segan menerima bantuan.

Hindari menggunakan alkohol atau obat-obatan pada saat sedang sedih karena ini akan membuat perilaku Anda semakin impulsif.

Buatlah daftar hal-hal positif tentang Anda dan hidup Anda, lalu bacahlah daftar ini setiap kali rasa putus asa muncul.

Alihlah pikiran bunuh diri dengan membaca buku, berkumpul dengan teman atau keluarga, menonton film favorit atau film komedi, berbicara dengan orang yang dipercaya, serta tidur cukup (bila perlu minum pil tidur). Tundalah niat bunuh diri setidaknya selama 48 jam karena kemungkinan besar Anda akan berubah pikiran.

Salah satu hal paling penting adalah mencari penyebab mengapa Anda terpikir untuk bunuh diri, misalnya saja adanya gangguan jiwa seperti depresi, ketergantungan alkohol, menghadapi krisis hidup, atau kenangan yang menyakitkan. Diskusikan ini dengan psikiater yang bisa membantu Anda menentukan langkah terapi yang tepat.


EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X