Mengenal Tanda Depresi pada Pasien Kanker dan Cara Mengatasinya - Kompas.com

Mengenal Tanda Depresi pada Pasien Kanker dan Cara Mengatasinya

Kompas.com - 03/02/2017, 15:15 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Depresi adalah kesedihan persisten yang mengganggu aktivitas dan kemampuan untuk melaksanakan peran di rumah, tempat kerja, masyarakat, atau sekolah.

Depresi meliputi perasaan sedih, "down" dan putus asa. Depresi dan efek sampingnya bisa memengaruhi baik pria maupun wanita.

Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi depresi pada pasien kanker. Obat yang umum diresepkan untuk pasien kanker pun dapat menjadi salah satu faktor risiko.

Ada banyak jenis obat yang memiliki efek samping depresi. Contohnya adalah: analgesik, antikonvulsan, antihistamin, agen anti-inflamasi, anti keganasan, agen kemoterapi, hormon, agen imunosupresif dan steroid.

Proses pengobatan yang panjang dan berat juga bisa meningkatkan potensi depresi pada pasien kanker. Banyak pasien kanker yang sedang menjalani sesi terapi kemoterapi, mengalami depresi atau ketidakstabilan emosi.

 

Tanda-tanda depresi

Jika Anda atau kerabat Anda mengalami lima atau lebih gejala berikut yang bertahan selama satu minggu atau lebih, besar kemungkinan itu adalah depresi:

- Suasana hati berubah-ubah.

- Penurunan minat dalam melakukan kegiatan yang biasa dilakukan bersama dengan keluarga dan teman-teman.

- Ketidakmampuan untuk menikmati hidup.

- Gelisah atau seperti mati rasa.

- Kelelahan yang mendalam dan kehilangan energi.

- Perubahan pola tidur (tidur sepanjang waktu atau insomnia).

- Perubahan nafsu makan (kehilangan atau pertambahan berat badan).

- Penurunan libido.

- Kesulitan berkonsentrasi dan membuat keputusan.

- Kesulitan memenuhi peran sehari-sehari.

- Merasa sangat tidak puas atas apapun

- Merasa bersalah atau seperti Anda sedang dihukum.

- Negatif ketika berbicara tentang diri Anda.

- Sering bicara tentang "betapa tidak bergunanya hidup ini" atau "ingin mengakhiri semuanya".

 

Pendampingan untuk meringankan depresi pada pasien kanker

Orang yang sehat tidak ingin menanggung beban emosi sendirian, bayangkan bagaimana dengan orang yang sedang menderita sakit berat seperti kanker. Ya, mereka juga perlu untuk didampingi.

Dalam mendampingi pasien kanker yang sedang mengalami depresi, paling utama adalah Anda harus mau mengerti keadaannya.

"Pertama yang harus dipahami adalah, kelemahan fisik sangat rentan memengaruhi emosi. Bayangkan, mau bergerak saja susah. Mau makan, susah menelan. Tak heran jika orang yang sedang sakit, apalagi sakit berat, menjadi depresi," kata Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si Psikolog, Psikolog di Klinik Terpadu UI Depok dan Klinik Tiga Generasi di Jakarta Selatan.

Lebih lanjut wanita yang akrab disapa Nina ini mengatakan, sebaiknya Anda sebagai pendamping atau kerabat pasien, tidak memaksakan kehendak kepada Si Sakit, sekalipun itu untuk kebaikannya sendiri.

"Beberapa pasien kanker, karena depresi dan merasa tidak akan sembuh, lalu menolak minum obat. Hadapi dengan sabar, jangan nyinyir apalagi marah dengan berkata seperti 'Kamu mau sembuh atau tidak? Makanya harus minum obat!'. Hal seperti ini tidak dianjurkan," kata Nina lagi.

Sebaliknya, hadapi kemauan pasien dengan sabar. Misalnya, 'Oh, kamu mau tidur dulu ya baru minum obat?'. Atau, tanyakan kepada pasien apa yang membuatnya nyaman sehingga mau terus minum obat.

Pengertian terhadap kondisi pasien, kemauan untuk mendengarkan keluh kesahnya, akan mendorong pasien mengeluarkan unek-unek, sehingga energi negatif dalam dirinya terkuras.

"Jika energi negatif sudah keluar, akan lebih mudah muncul kesadaran dalam diri si pasien untuk terus berobat, atau untuk mau makan," jelas Anna.

Anda pun bisa menawarkan kepada pasien untuk bergabung dengan supporting group atau bertemu dengan penyintas kanker. Keduanya berguna untuk membangun lagi semangat pasien.

Hanya perlu diingat, menawarkan tidak sama dengan memaksa. Biarkan pasien memutuskan untuk dirinya sendiri.

Tak jarang, rasa sakit fisik yang dialami pasien membuat kemampuan kognitifnya berkurang. Walhasil, mungkin saja saran Anda untuk bergabung dengan supporting group tidak bisa langsung dicerna dengan baik saat itu juga.

"Anda boleh mengingatkannya lagi satu atau dua minggu kemudian, dengan baik-baik. Tidak dengan memaksa," pesan Anna.

Tambahan dari Robin Hershkowitz, direktur program untuk kanker wanita di CancerCare di New York City, Anda juga bisa menganjurkan kepada pasien untuk membuat jurnal berisi apa yang dia rasakan dan pikirkan setelah menjalani tiap sesi pengobatan. Jurnal itu adalah sarana pelepasan emosi, yang bisa Anda berdua diskusikan.

Tak ada salahnya juga mengajak dokter ikut membaca dan berdiskusi. Ini supaya dokter tahu jika pasien merasa berat atau semakin menderita (atau sebaliknya) dengan pengobatan yang diberikan. Dengan demikian dokter bisa mencarikan solusinya.

EditorBestari Kumala Dewi
Komentar
Close Ads X