Imunisasi Cegah Radang Paru pada Anak - Kompas.com

Imunisasi Cegah Radang Paru pada Anak

Kompas.com - 10/03/2017, 16:44 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyakit radang paru atau pneumonia menjadi penyebab utama kematian pada anak berusia kurang dari lima tahun di dunia, termasuk Indonesia. Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi.

Dr.Nastiti Kaswandani, spesialis anak, menjelaskan pneumonia disebabkan oleh virus atau bakteri. "Sekitar 50 persen kasus disebabkan karena bakteri pneumokokus, 20 persen karena influenza tipe B, dan sisanya karena jamur atau virus," paparnya dalam diskusi media bertema "Harapan Baru Eradikasi Pneumonia di Indonesia," di Jakarta (10/3/2017).

Pneumonia banyak menyerang bayi berusia kurang dari dua tahun karena sistem imun mereka yang belum matang, menurunnya antibodi yang didapat dari ibu saat lahir, serta kolonisasi kuman penyebab pneumonia yang tinggi.

Penularan penyakit ini lewat udara, terutama percikan ludah saat batuk, bersin, atau berbicara.

Perlindungan untuk anak dari penyakti ini bisa dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang sehat bagi balita, misalnya memberikan ASI eksklusif, mencuci tangan dengan sabun, pemberian nutrisi yang cukup, hingga menghindari polusi di dalam dan luar rumah.

Pencegahan yang tak kalah penting adalah imunisasi lengkap. Vaksin pneumokokus (PCV) dianjurkan untuk bayi berusia kurang dari satu tahun. Namun, vaksin ini belum masuk dalam program imunisasi rutin nasional.

Walau demikian, menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementrian Kesehatan, dr.Wiendra Woworuntu, M.Kes, pemerintah berencana memasukkan vaksin pneumokokus untuk digunakan di Indonesia.

Sebagai langkah awal, pada bulan Oktober 2017 Kementrian Kesehatan akan melaksanakan demonstrasi program imunisasi pneumonia di tiga kabupaten di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang menyasar bayi berusia kurang dari satu tahun.

"Tahapan untuk menjadi program vaksin nasional masih panjang karena perlu dilanjutkan dengan surveilan selama tiga tahun. Selain itu harus dipastikan dulu ketersediaan vaksinnya ada," kata Wiendra.

Wiji Johar Santoso dari LSM Mitra Samya di Lombok menyambut baik demonstrasi vaksin pneumonia di Kabupaten Lombok. Saat ini angka kematian bayi di Pulau Lombok sangat tinggi, menyumbang kontribusi terbesar kematian bayi (76,73 persen) di tahun 2014. Angka ini merupakan akumulasi dari 5 kabupaten kota di Pulau Lombok dengan insiden tertinggi di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.


EditorLusia Kus Anna
Komentar
Terkini Lainnya

Close Ads X