Tes Darah Sederhana Dapat Prediksi Risiko "Baby Blues" - Kompas.com

Tes Darah Sederhana Dapat Prediksi Risiko "Baby Blues"

Ayunda Pininta
Kompas.com - 19/03/2017, 12:42 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Para peneliti percaya, bahwa temuan mereka bisa menjadi cara efektif untuk mendiagnosa dan mengobati depresi pasca melahirkan

Melakukan tes darah sederhana bisa memprediksi kemungkinan terjadinya depresi pasca melahirkan yang kerap dialami oleh para ibu, ungkap sebuah penelitian.

Depresi pasca melahirkan atau umum disebut baby blues, dapat memengaruhi ikatan awal antara ibu dan bayi. Jika tidak ditangani, dapat memiliki dampak buruk terhadap perkembangan emosi bayi kelak.

Tetapi kini, para ilmuwan telah mampu menentukan tinggi rendahnya tingkat hormon 'anti-kecemasan' pada wanita hamil melalui tes darah sederhana.

Peneliti mengambil sampel dari 60 wanita selama kehamilan dan mengukur tingkat progesteron dan allopregnanolon, yaitu hasil dari pemecahan progesteron dan dikenal sebagai agen penenang berkat efek anti-kecemasannya.

Mereka menemukan, bahwa wanita yang memiliki tingkat yang lebih rendah dari hormon anti-kecemasan pada trimester kedua lebih mungkin untuk mengembangkan depresi setelah melahirkan.

Mereka juga menemukan, bahwa untuk setiap kenaikan nanogram pada hormon tersebut, peluang seorang wanita terkena baby blues turun hingga 63 persen.

Lauren Osborne, penulis utama studi dari John Hopkins Medicine, mengatakan, Banyak penelitian sebelumnya yang tidak menunjukkan, bahwa depresi postpartum akan terikat dengan tingkat aktual hormon kehamilan.

Mereka juga tidak mengidentifikasi cara konkret untuk mengatakan apakah seorang wanita akan mengalami depresi postpartum atau tidak.

"Setiap wanita memiliki tingkat tinggi hormon tertentu, termasuk allopregnanolon, pada akhir kehamilan, sehingga kami memutuskan untuk melihat sejak awal kehamilan untuk melihat apakah kami bisa lebih akurat dalam memprediksi depresi postpartum nantinya,” lanjutnya

Depresi pasca kelahiran memengaruhi lebih dari 1 dari 10 ibu. Bayi perempuan yang lahir dari ibu dengan gangguan tersebut (yang diabaikan) dapat mengalami kesulitan makan, tidur, dan berkembang secara normal.

Ibu yang menderita juga akan memiliki perasaan sedih terus-menerus, kehilangan minat dalam dunia yang lebih luas, memiliki kekurangan energi, merasa lelah sepanjang waktu, dan mengalami kesulitan untuk menjalin ikatan dengan bayi mereka.

Ibu dengan depresi pasca melahirkan juga mungkin mengalami pengalaman menakutkan seperti, merasa terganggu dengan kehadiran bayi, keinginan untuk menyakiti bayi mereka, hingga merasa tertekan dalam pengasuhan.

Sehingga, wanita yang mengalami depresi pasca melahirkan diharapkan segera menemui terapis untuk mendapatkan penanganan tepat.

PenulisAyunda Pininta
EditorBestari Kumala Dewi
SumberThe Sun,
Komentar
Terkini Lainnya

Close Ads X