Berpenghasilan Lebih Tinggi Buat Wanita Malu pada Pasangan - Kompas.com

Berpenghasilan Lebih Tinggi Buat Wanita Malu pada Pasangan

Kontributor Female, Rakhma
Kompas.com - 21/04/2017, 17:07 WIB
THINKSTOCK.COM Ilustrasi

KOMPAS.com –- Wanita dengan pendapatan lebih tinggi dari pria sudah bukan pemandangan yang langka pada zaman sekarang.

Seperti yang dipaparkan dalam riset oleh Ashley C Ford untuk Refinery29 pada tahun 2015 di Amerika Serikat, 38 persen istri ternyata berpenghasilan lebih tinggi dibanding suami mereka.

Namun, kebanyakan wanita ini ternyata juga memiliki perasaan yang campur aduk mengenai perannya sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga.

Ford sendiri yang bekerja sebagai redaktur dan pembicara berpenghasilan 70 persen lebih tinggi daripada pasangannya. Jadi, dia sangat memahami mengapa banyak wanita milenial merasa malu dan khawatir karena lebih berhasil dan sukses secara finansial ketimbang pasangannya.

Kondisi ini, menurut Ford, berdasarkan pola pikir klasik di mana pria harus menghasilkan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Nah, bila terjadi sebaliknya, masalah bisa terjadi.

“Konsekuensi emosional dan psikologis hampir tidak bisa dihindari karena kondisi yang demikian,” tulis Ford. Wanita merasa bersalah dan pria jadi mudah tersinggung, walaupun seharusnya tidak seperti itu.

Ford pun melaporkan bahwa banyak wanita memilih untuk mengabaikan kondisi ketimpangan kemapanan ini.

Sejumlah responden menginginkan agar pasangan mereka mulai mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi dari mereka. Sementara itu, sebagian responden lainnya lebih berharap ada pandangan baru pada budaya sosial.

Padahal, seharusnya siapa yang memperoleh penghasilan lebih banyak tidak menimbulkan masalah.

Akan tetapi, kenyataan berdasarkan riset Ford memperlihatkan bahwa yang umum terjadi justru dampak negatif pada wanita. Akibatnya, wanita millenial menjadi merasa cemas dan kesal.

“Wanita milenial percaya bahwa kondisi penghasilan mereka yang lebih tinggi bersifat sementara. Hal ini berbeda dengan pola pikir pria yang menganggap bahwa memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari pasangan memang sudah seharusnya,” jelasnya.

Penjelasan dan uraian Ford ini juga didukung oleh data dari Mona Chalabi dari fivethirtyeight.com.

Chalabi meringkas temuan University of Chicago Booth School of Business untuk NPR dengan mengatakan bahwa dalam sampel mereka, ketidakpuasan meningkat dan perceraian dapat terjadi karena penghasilan istri lebih tinggi daripada suami.

"Apakah si istri menghasilkan sedikit lebih banyak atau lebih banyak sebenarnya tidak menghasilkan banyak perbedaan," kata Chalabi.

University of Chicago juga menemukan bahwa seorang istri yang menghasilkan 5000 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 67 juta lebih banyak dari suaminya berisiko besar mengalami perceraian rumah tangga.

Beberapa wanita mungkin memang merasa tidak puas dengan hubungan mereka sendiri, tetapi apa yang banyak wanita-wanita ini ratapi adalah kesulitan untuk menafkahi keluarga dengan satu pendapatan.

Sebab, pendapatan biasanya mengalami stagnasi sementara biaya kebutuhan seperti pendidikan, perumahan, dan perawatan anak terus meningkat.

Akhir-akhir ini, tekanan menjadi pencari nafkah sangat sulit bagi pria dan wanita.

Namun, karena rata-rata wanita memiliki pendapatan yang lebih rendah daripada pria, terutama jika mereka memiliki anak dan masih harus melakukan pekerjaan rumah lebih banyak, beban sebagai pencari nafkah menjadi semakin berat, bahkan sebelum Anda memperhitungkan komentar dengki dari saudara dan tetangga.

PenulisKontributor Female, Rakhma
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberCNBC
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM