Mod Style, Eksistensi Kaum Buruh - Kompas.com

Mod Style, Eksistensi Kaum Buruh

Kahfi Dirga Cahya
Kompas.com - 14/05/2017, 14:43 WIB
KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Mod style

JAKARTA, KOMPAS.com - Look smart, rapi dan bersih. Tiga kata itu gambaran umum dari busana Mod, sebuah fenomena sosial yang mulai berkembang di London, Inggris pada akhir tahun 1950-an. Penggagas aliran ini merupakan kaum buruh yang ingin mempertahankan penampilan gaya hidup mapan di tengah carut-marut perekonomian.

“Mereka ingin menunjukkan, meskipun dari kalangan bawah, gaya kita tetep necis, rapih dan terlihat smart,” kata pemilik label Swingin Venus, Echi kepada Kompas Lifestyle di sela-sela acara Jakarta Mods May Day 2017, Parkir Timur Senayan, Jakarta, Sabtu (13/5/2017).

Budaya Mod mulai tersebar di era tahun 1960-an. Subkultur ini sempat bergesekkan dengan aliran rock, namun mereda di akhir tahun 1960-an. Subkultur Mod kembali bangkit di Inggris di akhir era tahun 1970-an, kemudian diikuti di Amerika Utara awal era tahun 1980-an.

Sebelum mendalam, perlu diketahui Mod berasal dari kata Modernis, yang terinspirasi dari jazz modern pemuda kulit hitam di Amerika Serikat dengan busana elegan. Asal usul lain yang tak kalah menarik dikemukakan Hebdige dalam bukunya Subculture. Ia mengatakan bahwa budaya gangster memengaruhi Mod, baik dari mafia Italia-Amerika atau pun gangster Inggris. Pengaruh itu pun merambah hingga busana para penganut Mod, baik pria atau wanita.

KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYA Mod style dari desainer Swingin Venus
Untuk pria, mereka biasa memiliki rambut rapih, tidak panjang atau pun cepak. Selain itu, menggunakan baju kerah lengan panjang. Bisa juga menggunakan parkah atau sejenis jas. Celana yang dipakai pun berjenis bahan, bukan jeans. Kemudian mereka biasa menggunakan sepatu loafer.

“Paling penting, busana mereka harus slim-fit,” kata Echi.

Sementara untuk perempuan identik dengan rok pendek dan berwarna cerah. Dua identitas ini merupakan bagian dari perlawanan gaya busana saat itu, di mana perempuan cenderung memakai rok di bawah lutut dan warna-warna gelap.

“Kemudian make up itu lebih menghidupkan mata, eyelash (bulu mata) atas bawah lebih berani, seperti doll look (wajah boneka) gitu,” kata dia.

PenulisKahfi Dirga Cahya
EditorWisnubrata
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM