Tak Hanya Mengobati, Tapi Cari Akar Penyakitnya - Kompas.com

Tak Hanya Mengobati, Tapi Cari Akar Penyakitnya

Lusia Kus Anna
Kompas.com - 13/08/2017, 12:00 WIB
-Shutterstock -

BANGKOK, KOMPAS.com - Keluhan penyakit yang kita rasakan tak selalu merupakan penyakit itu sendiri. Seringkali obat-obatan yang diminum hanya menghilangkan gejalanya saja tapi akar penyakitnya tak ditemukan.

Belakangan paradigma "satu obat untuk semua" atau "satu obat untuk satu gejala" mulai ditinggalkan karena dianggap kurang efektif. Banyak pasien tak menerima manfaat dari obat yang dikonsumsi, bahkan mengalami efek samping padahal penyakitnya tidak sembuh.

Pendekatan baru dalam dunia kedokteran adalah personalisasi perawatan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah kedokteran fungsional (functional medicine).

Menurut penjelasan Dr.Worawit Kitisakronnakorn, direktur Being Better Hospital (BBH), rumah sakit kedokteran fungsional pertama di Thailand, kedokteran fungsional lebih menitikberatkan pada mencari akar masalah suatu penyakit agar kesehatan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

"Kedokteran fungsional bertujuan untuk mencari penyakit tersembunyi atau akarnya, dan menyembuhkannya. Ini akan menjadi model pengobatan untuk penyakit kronik di masa depan," kata Worawit dalam acara seminar yang merupakan bagian dari Health & Wellness 2017 di Bangkok (11/8/2017).

Kedokteran fungsional melihat tubuh sebagai satu kesatuan, bukan organ yang berfungsi sendiri-sendiri. Ia menjelaskan, seringkali pencetus sebuah penyakit kronik seperti diabetes, kanker, dan penyakit autoimun, adalah ketidakseimbangan dalam fungsi dasar fisiologis.

"Dokter akan mencari apa yang dibutuhkan tubuh tetapi kurang dan apa yang kelebihan sehingga harus dikurangi agar keseimbangan terjadi," ujarnya.

Kedokteran fungsional sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ini merupakan teknik pengobatan holistik yang sudah dikenal sejak berabad-abad silam, namun ditinggalkan.

"Dalam konsep ini, dokter akan melihat tubuh seperti pohon. Fungsi dokter harus mencari akar pohon. Daun yang jatuh mungkin hanya gejala dari masalah yang ada di batang atau akar pohon besar ini," kata dokter yang pakar di bidang pencegahan penyakit, pengobatan tradisional Tiongkok, dan akupuntur ini.

Tujuan dari kedokteran fungsional, menurut Worawit, adalah untuk menunda perburukan penyakit dan mengobati sampai ke akarnya.

Untuk mencari akar masalah sebuah penyakit, dokter akan melakukan serangkaian tes modern, mulai dari anamnesis, pemeriksaan darah, urine, hingga cek DNA jika diperlukan. "Dokter harus bekerja seperti detektif," ujar Warowit.

Ia memberi contoh penerapan kedokteran fungsional pada kasus seorang pasien anak perempuan berusia 9 tahun dari Jerman yang datang berobat dengan keluhan rambut rontok dan hampir botak. Ia didiagnosis mengalami alopecia autoimun.

Pengobatan steroid memang bisa menghentikan kerontokan rambut, namun memberi efek samping sehingga pengobatan dihentikan.

"Setelah kami melakukan pemeriksaan, ternyata gadis kecil itu sangat sensitif pada makanan tertentu sehingga ada gangguan pencernaan dan ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat," katanya.

Dokter lalu memberikan modifikasi pola makan dengan menghindari makanan yang bisa mencetuskan alergi dan juga suplementasi. "Ia diberi asam amino dan beberapa vitamin. Pola dietnya juga diubah menjadi tinggi protein dan rendah gula," kata Warowit.

Setelah 3 bulan, hampir semua keluhan pasien menghilang, termasuk rambutnya yang kembali lebat.

Untuk mencari penyebab sebuah penyakit memang tidak selalu mudah, terkadang diperlukan pemeriksaan yang lengkap. Dokter pun harus menyediakan waktu untuk berkomunikasi cukup dalam dengan pasien demi menggali latar belakang psikis yang dimiliki pasien.

"Setiap dokter juga harus menjadi psikolog bagi pasiennya," kata Dr.Kusuma Kunovongkrit yang memiliki spesialisasi bidang kedokteran rehabilitasi di BBH ini.

Terapi pengobatan kemudian disesuaikan dengan kondisi setiap pasien sehingga lebih tepat sasaran. Perubahan gaya hidup di bawah supervisi dokter juga mutlak dilakukan untuk mengobati akar dari sebuah penyakit kronis.

Pasien pun akan diajak untuk mulai meninggalkan gaya hidupnya yang tidak sehat dan memahami bahwa sehat bukan hanya tidak adanya penyakit.

PenulisLusia Kus Anna
EditorLusia Kus Anna
Komentar

Terkini Lainnya

Kiat Lancar Berbahasa Inggris saat Wawancara Kerja

Kiat Lancar Berbahasa Inggris saat Wawancara Kerja

Feel Good
7 Mitos Tentang Minuman Beralkohol

7 Mitos Tentang Minuman Beralkohol

Eat Good
Gaya Pacaran ala Generasi Milenial

Gaya Pacaran ala Generasi Milenial

Feel Good
Jangan Oleskan Pasta Gigi pada Luka Bakar

Jangan Oleskan Pasta Gigi pada Luka Bakar

Feel Good
4 Trik Agar Tak Mudah Pingsan Saat Upacara

4 Trik Agar Tak Mudah Pingsan Saat Upacara

Feel Good
Jangan 'Baper' ketika Nonton Drama Korea

Jangan "Baper" ketika Nonton Drama Korea

Feel Good
6 Cara Alami Meredakan Panas Dalam

6 Cara Alami Meredakan Panas Dalam

Feel Good
Tubuh Pria Penyuka Sayuran Lebih Wangi

Tubuh Pria Penyuka Sayuran Lebih Wangi

Eat Good
Mengapa Mudah Iri dengan Orang Lain?

Mengapa Mudah Iri dengan Orang Lain?

Feel Good
Ini Alasan Kenapa Kursi Pesawat Berwarna Biru

Ini Alasan Kenapa Kursi Pesawat Berwarna Biru

Feel Good
Banggalah dengan Warna Kulit yang Dimiliki

Banggalah dengan Warna Kulit yang Dimiliki

Feel Good
Kenapa Pilot dan Co-Pilot Tidak Makan Makanan yang Sama?

Kenapa Pilot dan Co-Pilot Tidak Makan Makanan yang Sama?

Eat Good
Apa Efek Menggunakan Steroid untuk Membesarkan Otot?

Apa Efek Menggunakan Steroid untuk Membesarkan Otot?

Look Good
Alami Kondisi Ini, Sebaiknya Tak Makan Selai Kacang

Alami Kondisi Ini, Sebaiknya Tak Makan Selai Kacang

Eat Good
Puma One, Sepatu 'Rancangan' Pemain Profesional

Puma One, Sepatu "Rancangan" Pemain Profesional

Look Good
Close Ads X