Diet Garam Itu Biasa, Sudah Coba Diet Gula? - Kompas.com

Diet Garam Itu Biasa, Sudah Coba Diet Gula?

Ayunda Pininta
Kompas.com - 22/08/2017, 07:00 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Banyak penelitian yang telah mengungkap bahaya konsumsi gula berlebih bagi kesehatan. Namun, karena dampaknya kerap tak terlihat langsung, banyak orang yang bahkan tak meyakininya.

Karena itulah, Robert Lustig, MD, Profesor Pediatri di Divisi Endokrinologi di University of California, San Francisco, melakukan penelitian langsung pada responden remaja tentang dampak gula.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Obesity ini hanya berlangsung selama 10 hari. Walau singkat, namun penelitian ini sukses menunjukkan bahwa mengurangi gula tambahan secara dramatis dapat meningkatkan status kesehatan walau hanya dalam beberapa hari.

Lustig berharap, penelitian ini dapat memberikan bukti yang lebih nyata tentang bahaya gula berlebih. “Kalori dari gula adalah yang terburuk, kami membuktikannya,” kata Lustig.

Lustig dan tim peneliti melibatkan 43 remaja obesitas dengan kondisi metabolik yang kronis, seperti hipertensi dan kolestrol jahat.

Para periset mengubah jenis makanan responden selama sembilan hari, mengganti makanan ringan dan minuman yang mengandung gula tambahan seperti yogurt manis, jus kemasan, kue kering, dan sereal manis, dengan hot dog, bagel, buah, dan pizza.

“Kadar gula dalam kedua pola makan tadi sebenarnya sama, hanya saja saat anak-anak makan buah, tidak ada gula tambahan seperti yang terdapat dalam jus kemasan,” jelas Lustig.

Hasilnya amat "mencolok," kata Lustig, yang merupakan penulis utama studi. Meski responden makan dengan jumlah kalori yang sama, hanya menghilangkan gula tambahan dari makanan dan minuman, mampu memperbaiki hampir semua area kesehatan metabolik, seperti tekanan darah rendah, kolesterol LDL (kolesterol buruk), kadar gula darah, insulin, dan tes fungsi hati membaik.

Meski eksperimen ini dirancang bukan untuk menurunkan berat badan, responden mengatakan kepada periset bahwa mereka merasa lebih cepat kenyang selama menjalani diet rendah gula ini.

Lustig menyebut temuan ini sebagai bukti terkuat bahwa efek negatif gula bukanlah kalori atau obesitas. “Studi ini secara definitif menunjukkan bahwa gula secara metabolisme berbahaya bukan karena adanya penambahan kalori atau pengaruhnya terhadap berat badan, namun gula secara metabolik berbahaya karena gula adalah gula. Gula tambahan memberikan efek berbahaya tanpa menunggu seseorang menjadi obestitas," katanya.

Temuan ini menjadi indikasi yang jelas bahwa pembatasan gula tambahkan dalam makanan dan minuman keluarga sangatlah penting untuk meningkatkan kesehatan, termasuk mempengaruhi bagaimana tubuh Anda merasakan hasrat dan isyarat kenyang. 

PenulisAyunda Pininta
EditorLusia Kus Anna
SumberMSN.com
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM