Pertama dalam Sejarah, Gunung Api Tak Aktif di Papua Niugini Meletus - Kompas.com

Pertama dalam Sejarah, Gunung Api Tak Aktif di Papua Niugini Meletus

Resa Eka Ayu Sartika
Kompas.com - 10/01/2018, 18:34 WIB
Gunung setinggi 500 meter yang diyakini tidak pernah meletus, memuntahkan asap tebal, di pulau kecil Kadovar, Papua Nugini, sejak Jumat (5/1/2018). (Samaritan Aviation via Facebook) Gunung setinggi 500 meter yang diyakini tidak pernah meletus, memuntahkan asap tebal, di pulau kecil Kadovar, Papua Nugini, sejak Jumat (5/1/2018). (Samaritan Aviation via Facebook)

KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah gunung berapi di Papua Niugini meletus. Sebelumnya, gunung ini diperkirakan tidak aktif.

Pada Minggu (7/1/2018), gunung berapi setinggi 265 meter di Pulau Kadovar itu memuntahkan abu setinggi ribuan meter ke udara. Erupsi gunung ini dimulai sejak Jumat (5/1/2018).

Para ahli khawatir erupsi tersebut dapat menyebabkan tanah longsor dan berpotensi tsunami. Hal inilah yang kemudian memaksa ratusan warga untuk mengungsi.

"Karena kecuraman pulau ini, tanah longsor mungkin terjadi dan bersamaan sengan sifat eksplosif magma, tsunami dapat terjadi," kata pihak Observatorium Vulkanologi Rabual dikutip dari The Independent, Minggu (7/1/2018).

Baca juga: Gunung Ini Naik Pangkat Jadi Gunung Tertinggi di Inggris, Kok Bisa?

"Itu muncul dari citra satelit dan foto udara yang dimulai dengan aktivitas vulkanik ringan dari celah bagian tenggara. Tampaknya celah itu terbuka tepat di dalam dinding barat dari jaring yang turun sampai setinggi permukaan laut," sambung pihak observatorium.

Cheyne O'Brien, petugas prakiraan di Darwin Volcanic Ash Advisory Centre menyebut bahwa awan abu terlempar pada ketinggian 2.133 meter dan membentuk asap abu yang bergerak ke arah barat laut.

"Hanya emisi abu vulkanik yang (keluar) terus menerus saat ini," kata O'Brien.

O'Brien juga mengatakan bahwa asap abu tersebut belum menimbulkan bahaya pada pesawat terbang. Tapi hal itu bisa berubah jika angin mengarah ke bandara Wewak, Papua Niugini.

Chris Firth, seorang ahli vulkanologi di Macquarie University, Australia menyebut tidak ada catatan yang bisa dikonfirmasi tentang letusan gunung Kadovar sebelumnya.

Namun para ilmuwan berspekulasi bahwa ini bisa menjadi salah satu dari dua "pulau terbakar" yang disebutkan dalam jurnal bajak laut Inggris abad ke-17 dan petualangan maritim, William Dampier.

Firth menyebut Dampier mungkin telah mencatat letusan terakhir Kadovar saat melakukan pelayaran untuk mencari "Terra Australis", benua yang dianggap mitos.

Karena itu, banyak ahli vulkanologi tertarik untuk mengamati perilaku gunung ini sekarang.

"Sulit untuk memprediksi apa yang mungkin terjadi, karena tidak ada perbandingannya," ungkap Firth.

Baca juga: Benarkah Gunung Api di Islandia Akan Segera Meletus?

PenulisResa Eka Ayu Sartika
EditorResa Eka Ayu Sartika
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM