Tak Hanya Soal Kulit, Jerawat Picu Risiko Depresi - Kompas.com

Tak Hanya Soal Kulit, Jerawat Picu Risiko Depresi

Kompas.com - 07/02/2018, 22:00 WIB
.VIA THINKSTOCK .

KOMPAS.com - Akibat yang ditimbulkan dari jerawat di tubuh bukan hanya rasa sakit di kulit. Tapi, pada banyak orang, mereka lebih terganggu dengan perasaan malu.

Hal tersebut karena jerawat tersebut sering kali sulit ditutupi oleh foundation atau produk make up lainnya.

Tak jarang pula yang merasakan penurunan rasa percaya diri, menghindari situasi sosial, dan secara sadar mengisolasi diri. Terutama bagi para remaja.

Sejak lama, sudah banyak yang mengaitkan problem kulit wajah tersebut dengan kesehatan mental.

Baca juga: Kebiasaan Memencet Jerawat Justru Bikin Tambah Parah

Namun, studi terbaru menemukan fakta, mereka yang memiliki masalah jerawat cenderung berisiko tinggi mengalami depresi pada tahun-tahun pertama kulit mereka terpapar jerawat.

Studi yang dilakukan selama 15 tahun ini melibatkan 134.427 laki-laki dan perempuan serta 1.731.608 orang tanpa jerawat.

Sebanyak 18,5 persen mereka yang berjerawat merasakan depresi, sedangkan mereka yang tak memiliki jerawat juga merasakan depresi, namun jumlahnya tak lebih dari 12 persen.

Jumlahnya tidak terlihat terpaut terlalu jauh. Tapi, deraan depresi meningkat dramatis pada tahun-tahun berikutnya, seiring dengan pertumbuhan jerawat tersebut.

Risiko depresi yang meningkat hanya bertahan selama lima tahun setelah mereka memiliki jerawat. Sementara, pada tahun pertama risiko depresi mencapai 63 persen.

Baca juga: Cara Atasi Jerawat Batu yang Membandel

Ini mengindikasikan bahwa ada periode kritis yang harus diwaspadai terhadap seseorang yang memiliki kulit berjerawat terhadap kesehatan mental.

Pemimpin penelitian, Isabelle A Vallerand, menjelaskan, jerawat bukan sekadar masalah kulit, tapi memiliki dampak secara luas terhadap kesehatan mental.

"Bagi mereka yang memiliki kulit berjerawat, ini bisa dianggap lebih dari sekadar masalah kulit."

"Temuan ini bisa berdampak sangat signifikan terhadap kesehatan dan harus dipikirkan secara serius," ujar Vellerand.


Komentar
Close Ads X