Ayo, "Dongkrak" Kecerdasan Anak Pakai Mainan - Kompas.com

Ayo, "Dongkrak" Kecerdasan Anak Pakai Mainan

Kompas.com - 15/02/2018, 20:00 WIB
.Getty Images/Dorling Kindersley RF .

JAKARTA, KOMPAS.com - Mainan tak hanya sebagai hiburan anak, karena kini bisa membantu meningkatkan kecerdasan anak.

Nah, untuk mendapatkan benefit tersebut, pastikan orangtua melakukan dengan cara benar. Antara lain dengan tidak meninggalkan si kecil main sendiri.

Demi mengetahui tips ini lebih jauh, Kompas Lifestyle bertanya langsung kepada pakar mainan dari Early Learning Centre (ELC), Bayu Wijanarko.

Berikut ini adalah tips yang bisa dilakukan orangtua agar mainan dapat membantu mendongkrak kecerdasan anak.

1. Ketahui ketertarikan anak

Sebelum membelikan anak mainan, ketahui dulu apa yang menarik bagi anak. 

Untuk mengetahui ketertarikan itu, dapat dimulai saat si kecil berusia 18 bulan - dua tahun. Sebab, pada fase tersebut, anak sudah mulai bisa berbicara.

Baca juga: Orangtua, Perhatikan Kualitas Mainan Anak Saat Membelinya

"Jadi dia tahu, kalau dia tertarik, dia menyebut apa yang dia suka. Misalnya anak laki suka bola, mobil, robot dan segala macam," kata Bayu saat acara ELC, Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Ketertarikan ini penting agar dia dapat lebih mudah belajar, karena dia bermain dengan yang dia suka.

2. Sesuai rentang usia

Setelah tahu apa yang anak sukai, pastikan mainan sesuai dengan rentang usianya.

Untuk anak berusia 18 bulan sampai dua tahun, karakteristik si anak baru pada tahap belajar membaca, mengenal huruf, warna hingga angka.

"Nah kita bisa gunakan flash card, karena flash card kan ada gambar dan bisa berganti-ganti jenis gambar utama, entah tentang otomotif, warna," kata dia.

3. Interaksi

Terakhir, langkah terpenting berupa interaksi antara orangtua dan anak saat bermain.

Jika tanpa interaksi, permainan akan monoton dan tidak mendapatkan benefit.

Baca juga: Banyak Anak Sudah Pintar Pilih Sepatu Sendiri

"Misalnya kita kasih flash card aja, tanpa interaksi, dia akan lihat oh ini mobil, bola, tapi dia enggak ada interaksi dua arah," kata Bayu.

Jika ada kehadiran orangtua, maka bisa tercipta interaksi dua arah seperti, 'Ini mobil. Oh kalau mobil kamu warna apa? Mobil kamu jenis apa?' atau 'Eh ekskavator keren, fungsinya apa sih?'.

Komunikasi dua arah, kata Bayu, amat berguna untuk memperkaya imajinasi anak.

"Dia mungkin belum tahu informasi yang kita sampaikan secara utuh, tapi dengan informasi itu akan memperkaya imajinasi dia untuk memvisualisasikan saat mereka melihat di kemudian hari," kata Bayu.

Bayu mencontohkan, saat anak melihat ekskavator, anak dapat menjawab dengan baik saat ditanya fungsinya. Targetnya adalah mencapai pemahaman si anak.

"Meskipun belum melihat secara aktual, tapi informasi yang kita bangun dua arah saat bermain tadi, itu akan meningkatkan imajinasi anak," ungkap Bayu.

Baca juga: Pengeluaran untuk Liburan Keluarga Lebih Bermanfaat Ketimbang Beli Mainan Anak


Komentar
Close Ads X