Salin Artikel

Orangtua Cerai Bikin Anak Rentan Sakit, Benarkah?

Penelitian ini, seperti diberitakan laman Popular Science, mengungkapkan, sebanyak 201 responden dipapar virus flu secara sengaja.

Dari sana terungkap, anak yang orangtuanya bercerai dan tidak berkomunikasi memiliki risiko terkena flu tiga kali lebih besar dibanding anak lain.

Namun, risiko ini tidak berlaku bagi anak korban perceraian yang orangtuanya masih menjalin komunikasi dengan baik. 

Tentu, studi kecil semacam ini tidak bisa menemukan hasil yang mutlak.

Kendati demikian, -jika benar, maka hal ini dapat mengindikasikan spektrum tingkat stres yang dialami seorang anak saat orangtuanya bercerai, bisa mendatangkan dampak jangka panjang. 

"Secara umum, kami menganggap studi ini sesuai dengan penelitian tentang stres dan kesehatan, sejauh lingkungan keluarga terasa berat dan penuh tekanan."

Demikian dikatakan salah satu peneliti Universitas Carnegie Mellon, Michael Murphy.

"Stres, terutama yang sedang berlangsung dan terus-menerus terjadi, bisa menimbulkan perubahan fisiologis yang mampu memicu berbagai penyakit seiring bertambahnya usia," kata dia.

Lagi pula, sejumlah penelitian lain pun telah menunjukkan, perceraian orangtua dapat menyebabkan munculnya berbagai dampak buruk bagi anak-anak. Mulai dari tekanan psikologis hingga perjuangan hidup di sekolah.

Bahkan, saat dewasa, anak-anak dari perceraian dapat memiliki masalah dengan hubungan sosial, dan mengalami penurunan level kesejahteraan psikologis dibanding teman sebayanya. 

Tentu saja, ini juga merupakan sebuah pernyataan generalisasi. Sebab, banyak pula anak dari keluarga yang bercerai yang justru lebih sejahtera dibanding mereka yang datang dari keluarga utuh.

Tak sedikit anak yang bisa keluar dari persoalan dan tekanan di dalam rumah, untuk kemudian menyesuaikan diri, dan muncul menjadi anak yang baik. Jadi, perpisahan orangtua tentu tak bisa dijadikan "kambing hitam".

"Nah, penelitian kali ini secara khusus menyasar kaitan spesifik antara perceraian orangtua dan tingkat ketahanan tubuh si anak," kata Murphy.

"Beberapa bukti menunjukkan situasi di mana orangtua dapat terus berkomunikasi dan bekerja sama dalam perawatan anak setelah perceraian mendatangkan pengaruh yang baik."

Dengan kata lain, gaya hidup dan sikap orangtua setelah perceraian lebih berpengaruh pada kesejahteraan anak, daripada keputusan perceraian itu sendiri.

Itulah mengapa Murphy dan rekan-rekan peneliti membagi 201 subyek tadi menjadi tiga kelompok.

Mereka adalah: orang-orang yang orangtuanya tetap menikah di sepanjang masa kecil si anak (109 subyek), dan orang-orang yang orangtuanya bercerai namun tetap berbicara (41 subyek).

Lalu, responden yang orangtuanya dilaporkan tidak pernah berbicara lagi setelah memisahkan diri dengan perceraian (51 subyek).

Murphy menyebutkan, saat penelitian digelar, mereka yang terlibat dalam riset ini berada dalam kondisi "kesehatan yang baik".

Mereka dikarantina di sebuah hotel selama enam hari, setelah menerima obat tetes hidung dari virus flu biasa.

Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap siapa yang mulai mengalami gejala.

Individu pada kelompok terakhir secara signifikan lebih cenderung menunjukkan tanda-tanda terkena flu, dibanding dua kelompok lain.

Kendati demikian, tetap sulit untuk menentukan seberapa akurat temuan ini.

Robert Emery, seorang profesor psikologi di Universitas Virginia yang tidak terlibat dalam penelitian ini ikut berkomentar.

Menurut dia, orang-orang yang bercerai dan tidak berbicara satu sama lain bukanlah obyek acak dalam populasi dalam sebuah riset. Sehingga, diperlukan penelitian lanjutan dari hasil tersebut.

Lagi pula, apakah tumbuh dengan dua orangtua yang tidak berbicara pasti menyebabkan masalah kesehatan?

Atau, apakah individu yang hidup dalam keluarga bercerai mutlak memiliki risiko penyakit yang lebih tinggi?

Tentu, sangat sulit untuk dipastikan. "Riset ini bak membandingkan apel dan jeruk," kata Emery.

Mengingat keterbatasan dalam hasil penelitian ini, Murphy pun menegaskan,  tidak bisa disimpulkan orangtua yang bercerai namun tetap "akur", pasti memiliki anak yang lebih sehat. Demikian pula sebaliknya.

"Anda pun bisa membayangkan, situasi di mana komunikasi dan kerjasama mungkin tidak terlalu berguna dalam kasus tertentu," katanya.

Dia mencontohkan, jika kasus kekerasan dalam rumah tangga menjadi pemicu perceraian, maka sangat mungkin kurangnya komunikasi antara orangtua justru menguntungkan anak-anak.

Kendati demikian, kata Murphy, penelitian ini mungkin bisa menunjukkan bahwa komunikasi bisa menjadi faktor dalam penelitian lain, yang dikaitkan dengan risiko dan efek perceraian bagi anak.

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/08/145510220/orangtua-cerai-bikin-anak-rentan-sakit-benarkah

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.