Salin Artikel

Kebaya, Membalut Ketangguhan Perempuan dengan Keanggunan

Untunglah di tengah penetrasi busana-busana modern, masih ada segelintir orang yang dengan semangat menjaga warisan budaya seperti kebaya. Mereka bahkan gemar mengenakan kebaya pada kegiatan sehari-harinya.

Ini menjadi salah satu nilai yang diusung oleh Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya, yang meresmikan komunitasnya pada Selasa (20/2/2018).

Ketua Umum Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya, Rustiana menganggap kebaya bisa membawa dampak positif terhadap perilaku setiap perempuan yang memakainya untuk menjaga diri. Sebab kebaya menunjukkan keanggunan yang idealnya selaras dengan perilaku.

Bagi ia dan rekan-rekan notaris di komunitas tersebut, berkebaya juga menunjukkan kualitas.

“Berkebaya menunjukkan kualitas seorang notaris. Menunjukkan kematangan dan kualitas. Lebih dewasa dan matang dalam melayani,” ujarnya di Galeri Buana Alit, Jalan Moh. Kahfi 1, Jakarta Selatan.

Sementara itu, Pakar Batik Indra Tjahjani yang pada kesehariannya menggunakan kebaya dan batik, mengaku lebih nyaman dengan pakaian tersebut.

Untuk bawahan, misalnya, ia lebih nyaman mengenakan kain batik ketimbang rok atau celana biasa karena ia memiliki alergi dengan keringat sendiri.

Alergi tersebut tak dirasakannya saat mengenakan batik.

Senada dengan Rustiana, Indra juga meyakini kebaya bisa membawa kesan anggun bagi yang memakainya. Sebab, dengan memakai kebaya dan batik seseorang dipaksa untuk berjalan secara perlahan.

“Jalannya perlahan tapi di balik itu tetap punya ketangguhan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, kebaya sangat identik dengan perempuan Indonesia. Pada iklan tahun 1960an, misalnya, kebaya bahkan digunakan oleh bintang iklan. Misalnya pada iklan sampo atau alat jahit.

Model-model kebaya cenderung memiliki modifikasi yang tak terlalu banyak dengan tetap mempertahankan tampilan otentiknya. Hingga kini, kebaya juga masih dijadikan pakaian resmi oleh sejumlah pejabat daerah dan negara.

Di keluarga Keraton Yogyakarta, misalnya, surjan atau busana Kanjeng Sultan memiliki motif bunga-bunga (surjan Ontrokusuma). Pada masanya, motif tersebut hanya digunakan sebagai pakaian seragam para bangsawan Mataram.

“Kanjeng Sultan sendiri pakai yang berbunga-bunga. Jadi cukup indah dan memberikan kekhasan Yogya,” ujar Indra.

Begitu juga ibu negara dari masa ke masa, menurutnya, cukup sering terlihat di depan publik menggunakan setelan kebaya dan batik.

Ia meyakini ke depannya akan semakin banyak perempuan Indonesia yang nengenakan kebaya. Menurutnya, kebaya tak akan pernah ketinggalan jaman dan akan terus kekinian.

Apalagi kebaya saat ini sudah semakin dipercantik dengan desain-desain kekinian.

"Saya sangat optimis 2018 wanita-wanita Indonesia akan semakin banyak yang berkebaya, baik di acara resmi maupun tidak," tuturnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/02/20/191457220/kebaya-membalut-ketangguhan-perempuan-dengan-keanggunan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.