Salin Artikel

Berrybenka Perluas Pengalaman Belanja Offline Lewat Flagship Store

Langkah ini dilakukan untuk melanjutkan strategi omni-channel yang mulai difokuskan sejak tahun 2017 lalu.

Omni-channel merupakan gaya belanja yang dilakukan lebih dari satu channel, yaitu offline dan online.

CEO PT Berrybenka, Jason Lamuda menjelaskan, langkah ini untuk menambah kemudahan dan kenyamanan belanja kebutuhan fesyen.

Diwujudkan melalui fitur "bayar di toko" dan "retur di toko".

"Jadi bisa belanja online ambil dan bayarnya di toko. Atau kalau mau retur bisa di toko," kata Jason di Jakarta, Jumat (4/5/2018).

Berrybenka juga fokus mengembangkan produk fesyen merek sendiri.

Jason mengaku pihaknya tak menyangka respons pasar terhadap toko offline Berrybenka tergolong besar.

Saat ini, Berrybenka telah memiliki 20 offline store yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Penjualan pun semakin meningkat, terlebih jika diakumulasi dengan penjualan online.

"Dengan minat tentang barang-barang Berrybenka ini, ini menjadi hal utama untuk mendorong kami menjadi sebuah fashion brand," tuturnya.

Selain itu, Berrybenka melihat pusat-pusat perbelanjaan di Indonesia saat ini didominasi oleh toko pakaian dari luar negeri.

Sehingga, pengembangan toko offline ini diharapkan juga bisa menunjukkan bahwa label Indonesia bisa bersaing.

"Mungkin belum ada leading player yang berani buka. Kami mengisi gap itu untuk jadi leader, jadi pemenang di dunia ritel."

"Ke depannya siapa tahu bisa mulai ke luar negeri bawa nama Indonesia," tuturnya.

Andalkan harga dan gaya

Demi bisa bersaing dengan raksasa ritel lainnya, Berrybenka menyiapkan sejumlah strategi.

Misalnya, dengan menawarkan harga produk yang terjangkau. Mulai dari Rp 149-349 ribu.

Harga ini dianggap 'miring' dibandingkan raksasa ritel lainnya.

Terlebih produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang tak kalah baik dan juga mengikuti tren. Kedua, dari gaya mode yang ditawarkan.

"Kalau kita lihat, brand luar seringkali melihat tren Eropa atau Amerika Serikat. Cara berpakaian orang di dua kontinen tersebut sangat berbeda dengan Indonesia," ujar Jason.

Meski memiliki gaya berpakaian yang berbeda, namun orang-orang di Indonesia juga tetap ingin mengikuti tren.

Misalnya, ingin mengikuti tren pakaian yang digunakan aktris Hollywood.

Namun, dengan perbedaan kultur barat dan timur, tren tersebut kemudian disesuaikan.

"Jadi cara kita men-develop desain menyesuaikan dengn kekhasan Indonesia."

"Misalnya, motif bunga sedang tren. Tapi kita pilih mengembangkan jaket, bukan tank top," kata dia.

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/05/05/070000820/berrybenka-perluas-pengalaman-belanja-offline-lewat-flagship-store

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.