Salin Artikel

Sepatu Minen Pakai Kulit Buaya hingga Gajah, Harganya Capai Rp 20 Juta

Dari luar hanya terlihat satu orang pria yang tengah memasuki tempat workshop Minen Leather.

Namun saat menginjakkan kaki ke dalam rumah, tampak keriuhan sekelompok pria yang merupakan perajin sepatu.

Ada yang sedang mengelem sol sepatu, menjahit kulit yang akan dijadikan upper sepatu, ada pula yang sibuk di depan laptop mengerjakan tabel seperti laporan keuangan.

Sang pemilik rumah sekaligus workshop Minen Leather, Ricky Dermawan mengatakan, sejak tinggal di kontrakan, ia kerap menyatukan tempat produksi dengan tempat tinggalnya.

Alasannya, sepatu Minen adalah karya seni yang bisa dipajang di rumahnya.

“Saya mulai membuat sepatu sejak kuliah tahun 2004-an. Tapi mulai kepikiran menjualnya tahun 2010 setelah lama melakukan riset dan belajar membuat sepatu yang baik,” ucap dia.

Di workshop yang apik itu, Ricky menyusun sepatunya menjadi dua bagian yakni deretan dress shoes formal dan bot.

Jika dilihat sekilas, sepatu-sepatu tersebut sudah terlihat elegan. Ketika melihat lebih dekat, detail sepatu tersebut rapi, dan presisi. Keren sekali.

Seperti -misalnya sepasang sepatu wingtip oxford yang ada di sana. Cutting maupun jahitan dan desain sepatu tersebut memberikan kesan elegan.

Sepatu ini pun terlihat lebih berbeda karena dipadupadankan dengan pattern wool bermotif monokrom. Kesan vintage menjadi sangat kental pada sepatu tersebut.

Ricky mengatakan, salah satu ciri khas Minen adalah metode patina shoes.

Yaitu proses finishing sepatu berbahan vegetable leather yang dilukis dengan cat khusus kulit dari Jepang dan Perancis. Hasilnya, sepatu Minen memiliki look yang elegan dan mahal.

“Jadi, kayak melukis di atas sepatu saja,” ucap dia.

Selain dress shoes, Minen menawarkan sepatu bot. Ada beberapa jenis bot yang ditawarkan, di antaranya bot daily, bot engineering, dan yang paling favorit adalah biker bot.

Bot produknya tidak begitu berat di kaki. Minen menggunakan pull up wax dengan dua lapis kulit, serta tiga lapis di bagian belakang, kemudian ditambah rubber.

Hingga kini, koleksi Minen mencapai 15 artikel, terdiri dari delapan artikel dress shoes, sisanya bot.

“Selain kulit sapi lokal kelas dunia, kami juga menggunaan kulit-kulit eksotik dari buaya hingga gajah,” tutur dia.

Itulah mengapa, harga yang dipatok Minen untuk pasar dalam negeri berkisar Rp 2,7-20 juta.

Semakin unik pesanan dan detail pengerjaan, harganya semakin tinggi. Sedangkan harga untuk  ke luar negeri dimulai Rp 3,5 juta, belum termasuk biaya kirim.

“Hampir rata-rata kita custom, mengacu pada model yang sudah ada. Kadang ada satu dua orang pesen bikin model dari dia dengan merek Minen,” ungkap Ricky.

Pasar sepatu Minen, sambung Ricky, berkisar di usia 20-50 tahunan. Selain di Indonesia, produknya dijual ke luar negeri seperti Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Bahkan, dulu ada Minen Perancis dan Australia. Jadi, pemilik toko di dua negara tersebut membeli putus sepatu Minen dan memajang di tokonya.

Namun tahun ini, karena ingin membenahi pasar dalam negeri, ia menghentikan dulu pengiriman sepatu ke dua toko tersebut.

Keunggulan lain dari sepatu Ricky adalah pengerjaannya yang cepat. Jika di tempat lain, custom sepatu membutuhkan waktu 1-3 bulan, di Minen, konsumen hanya butuh waktu 7-10 hari.

“Saya punya tiga perajin. Makanya kami sangat membatasi produksi hanya 50 pasang sepatu. Kalau permintaannya banyak,” imbuhnya seraya mengatakan omzet Minen Rp 200-300 juta per bulan.

Waktu layanan yang cepat ini, lanjut Ricky, sebagai bentuk pelayanan maksimal Minen kepada pelanggan.

Namun meski pembuatannya lebih singkat dibanding merek lainnya, ia menjamin pembeli tidak akan kecewa.

Bahkan, pembeli akan merekomendasikan sepatu Minen kepada teman maupun koleganya.

“Beli sepatu Minen itu jajan awet. Jadi lama orang gak balik lagi beli sepatu, paling kalo ada yang bosen. Atau banyak yang merekomendasikan ke teman-temannya,” ungkap dia.

Mengenai rencana ke depan, Ricky mengaku, akan terus berinovasi, menambah tenaga kerja hingga bisa meningkatkan produksi.

Menjaga Perajin

Persoalan bisnis sepatu yang mengemuka akhir-akhir ini adalah pembajakan perajin.

Hal itu pun dialami oleh Ricky. Perajin yang ia didik kemudian dibajak pengusaha sepatu lainnya.

Karena itu, ia memperlakukan perajin seperti keluarga. Bagi dia, perajin adalah seniman yang harus dihargai dalam setiap karyanya.

“Saya tidak pernah memperlakukan perajin seperti pegawai. Mereka istimewa. Mereka itu luar biasa. Saya memperlakukannya sebagai saudara dan seniman,” tutup dia.

https://lifestyle.kompas.com/read/2019/02/27/104337320/sepatu-minen-pakai-kulit-buaya-hingga-gajah-harganya-capai-rp-20-juta

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.