Salin Artikel

5 Emosi Negatif yang Bisa Diubah Jadi Positif

Namun dapat dipastikan, kecemasan, rasa malu, kecemburuan, dan kesedihan bukanlah perasaan yang ingin dialami oleh siapa pun.

Tak jarang, ada sebagian orang yang merasa diliputi oleh emosi negatif mereka.

"Orang-orang dengan kepribadian labil terkadang kesulitan mengatur emosi mereka," kata psikolog, Perpetua Neo.

Acap kali pula, kita tidak menyadari apakah kita dapat mengatur diri kita sendiri atau tidak.

Jika emosi negatif tersebut terus meningkat, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam permasalahan yang bisa menjadi bencana.

Neo menambahkan, orang sering mencoba bersikap terlalu rasional karena mereka tidak ingin membiarkan emosi mereka mengambil alih.

Mereka pun tak ingin dilihat sebagai seseorang yang bereaksi berlebihan atau menangis sepanjang waktu.

Lingkaran setan inilah yang terjadi ketika kita menekan perasaan kita.

"Pergeseran perspektif akan menentukan bagaimana emosi kita dapat bermain seiring dengan rasionalitas. Itu sebenarnya yang jauh lebih baik," kata dia.

Kita mungkin tidak akan menikmati setiap emosi, tetapi kita bisa belajar membingkai ulang pikiran, dan bekerja dengan perasaan kita, bukannya melawannya.


Berikut ini adalah lima emosi yang kita anggap negatif, dan bagaimana kita dapat belajar menggunakannya untuk sesuatu yang positif.

1. Amarah

Jika kita marah, sering kali karena kita merasakan ketidakadilan. Orang yang lebih muda cenderung memiliki lebih banyak kemarahan.

Namun, seiring bertambahnya usia, kita mungkin mendapati bahwa kita tidak lagi memiliki dorongan untuk menjadi sangat marah seperti dulu.

Tetapi, amarah bisa disalurkan dengan benar.

Neo menjelaskan, kemarahan bisa menjadi bahan bakar yang sangat hebat untuk menciptakan rasa keadilan.

"Jadi, coba tanyakan pada dirimu sendiri, apakah ada ketidakadilan dalam hal ini? Jika itu adalah ketidakadilan yang nyata, apa yang bisa kulakukan?"

Kita semua memiliki setan kecil dalam diri dan penting untuk memahami apa sumber "makanan" iblis ini.


2. Kecemasan

Kecemasan berkembang pada diri manusia untuk mengajari kapan kita harus mundur dari situasi di mana kita menghadapi konflik.

Kecemasan adalah reaksi alami tubuh yang memperingatkan, bahwa kita berada dalam bahaya.

Tetapi reaksi tersebut telah terbawa ke kehidupan modern, meskipun kita tidak memiliki begitu banyak musuh yang harus dihadapi.

Apa yang terjadi di otak membuat kita cenderung mudah dikuasai kecemasan

"Kita harus bertanya pada diri sendiri, apa ini mengundang saya untuk berubah dalam hidup saya?"

"Apa yang menyebabkan saya menjadi tertekan dan takut?" kata dia.

Seringkali, itu adalah hal yang sangat mengobsesi, seperti hubungan yang buruk. Pada dasarnya, itu adalah diri kita yang menyuruh kita keluar dari situasi itu.

"Ketika kamu mengalami serangan panik, apa pikiran pertama yang muncul di kepalamu?"

"Karena pikiran ini adalah apa yang coba dikatakan tubuhmu, aku tidak aman, aku terjebak, itu mencerminkan apa yang terjadi," ujar Neo.

Selama kegelisahan yang terjadi bukan kelainan yang bisa menguasai seluruh hidup kita, itu justru bisa membantu kita menyoroti apa yang perlu diubah dari hidup kita.


3. Kecemburuan

Kecemburuan adalah emosi yang rumit, tetapi pada dasarnya itu adalah undangan untuk bertanya pada diri sendiri apa yang tidak kita sukai dalam suatu situasi.

"Kita cenderung lebih cemburu pada orang yang lebih mirip dengan kita," kata dia.

Jadi, kita cenderung lebih cemburu, misalnya, pada teman satu sekolah kita, bukan cemburu pada Bill Gates.

Ini terjadi mungkin karena kamu dan temanmu itu memiliki latar belakang yang sama dan kamu pikir kamu seharusnya berada di tempat mereka berada.

Merasa cemburu bukan berarti kita orang jahat, tetapi itu bisa menimbulkan kebencian.

Cara terbaik untuk membingkai ulang kecemburuan adalah melalui kejujuran, yaitu bertanya pada diri sendiri: bagaimana kita bisa sampai ke tempat yang kita inginkan itu.

Misalnya, jika cemburu pada foto-foto teman kita di media sosial. Cobalah berpikir objektif tanpa memikirkan hal buruk.

"Mungkin ada bagian dari hidupnya yang tidak sempurna juga, dan itu tidak masalah," kata Neo.


4. Rasa bersalah

Rasa bersalah terkadang sangat terkait dengan empati. Ini perasaan tegang karena melakukan sesuatu, atau gagal melakukan sesuatu, jadi sering kali ini semua berkaitan dengan kewajiban kita.

"Jika kamu belum melakukan sesuatu, tanyakan pada dirimu sendiri, apa rasa bersalah ini memberitahuku tentang apa yang perlu aku ubah dalam hidupku?"

"Atau mungkin itu memberitahumu bahwa kamu melakukan terlalu banyak. Bagaimana kamu bisa membingkai ulang kesalahan ini?" kata dia.

Jika kita merasa bersalah setiap saat dan setiap hari, tanyakan pada diri sendiri apa alasannya.

Sebab, sangat tidak mungkin bagi kita untuk bisa membantu semua orang. Jadi, semua tanggungjawab itu tidak harus selalu jatuh di pundak kita setiap saat.

Seringkali, kata Neo, perasaan ini hadir karena kita tidak menjaga diri kita sendiri.

"Jadi tanyakan pada dirimu sendiri, bagaimana aku bisa memiliki lebih banyak empati untuk diriku sendiri?" ujar dia.


5. Malu

Rasa malu yang salah tempat sangatlah berbahaya.

Dalam beberapa kasus, rasa malu yang intens dapat menciptakan tipe kepribadian gelap, seperti narsisme.

Sebab, rasa ini mendorong kebencian ke dalam diri, dan menggunakannya untuk melindungi diri mereka sendiri.

Rasa malu adalah semua tentang identitas dan perasaan ketegangan tentang diri kita dan siapa diri kita.

Seringkali, itu cenderung diperbesar di kepala kita, dan kita merasa identitas kita buruk.

"Jadi, ketika kita merasa malu, itu adalah undangan untuk memeriksa kembali hidup kita dan cara kita memandang diri kita sendiri," kata dia.

Rasa malu dapat membantu kita mundur dan melihat berbagai cara untuk menyerang diri sendiri secara sia-sia. Misalnya, masalah kesehatan mental kita atau masalah hubungan kita.

Terkadang, melihat kembali sumber rasa malu bisa membuat kita sadar bahwa suara-suara yang mengkritik kita bukanlah datang dari diri sendiri, tetapi seseorang dari masa lalu.

Neo menambahkan, rasa malu juga merupakan undangan untuk pengampunan karena seringkali kita tidak pernah memaafkan diri kita sendiri.

"Seperti, ketika aku berumur tujuh tahun aku melakukan sesuatu dan aku masih malu pada diriku sendiri."

"Dan itu bukan hal yang benar-benar baik untuk dipertahankan, hingga saat kamu berusia 28 atau 35 tahun. Itu sangat melelahkan," kata dia.

Jangan ditahan

Hal terburuk yang dapat kita lakukan dengan emosi negatif adalah menahannya.

Neo mengatakan, kondisi ini hanya akan membuatnya lebih ganas dan lebih kuat ketika meledak.

"Kamu tidak ingin mencoba menjadi terlalu rasional, atau yang aku sebut "memodifikasi" kognitif emosi negatifmu. Karena itu adalah sumber bencana," ujar dia.

https://lifestyle.kompas.com/read/2019/05/12/130000120/5-emosi-negatif-yang-bisa-diubah-jadi-positif

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.