Salin Artikel

Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan

KOMPAS.com - Tadinya saya tidak mau dianggap latah mengungkit masalah Covid-19 – yang jika penyebarannya meledak di abad pertengahan, bisa dikira fenomena kutuk.

Tapi melihat apa yang terjadi hingga hari ini, khususnya perilaku manusia dalam mengantisipasi ancaman kesehatan dan kematian, rasanya seperti kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Mendadak sontak semua orang sadar diri untuk cuci tangan lebih sering, bahkan dengan cara yang benar – padahal sudah bertahun-tahun Kementerian Kesehatan berjuang melalukan sosialisasi cuci tangan pakai sabun.

Begitu pula dokter-dokter yang diwawancara sana–sini langsung hafal untuk menyebut soal pentingnya meningkatkan daya tahan tubuh dan rajin berjemur matahari.

Padahal sebelumnya, yang paling pertama disebut adalah ‘minum obat dengan teratur’.

Ada bagusnya juga sekarang kita menghadapi penyakit mengerikan yang belum ada obatnya – dan mungkin tidak akan ada, seperti virus-virus lainnya. Sehingga, preventif dan promotif menjadi tumpuan utama untuk tidak terinfeksi.

Walaupun angka kematiannya sekitar 3%, jauh lebih rendah dari kebanyakan penyakit menular lainnya, Covid-19 menimbulkan kepanikan luar biasa yang mendadak mengubah perilaku seluruh orang di dunia.

Daya tular yang tinggi, informasi simpang siur yang lebih banyak hoaks ketimbang data, serta naluri ‘untuk bertahan hidup’ membuat semua orang tiba-tiba waspada seakan bangun dari tidur lama.

Tak kalah menariknya respon sosial. Mulai dari oportunis ekonomis yang melihat peluang cari uang hingga aksi borong keperluan bertahan seakan-akan besok kiamat.

Belajar dari fenomena Wuhan: tautan berita hingga foto-foto mencekam dari hari ke hari membuat kesadaran akan wabah muncul.

Sayangnya, informasi itu tidak diolah oleh otak depan alias neo korteks manusia untuk dijadikan peta pembelajaran sekaligus rencana tertata menghadapi bencana.

Yang ada, stimulus apa yang dilihat dan didengar langsung mengaktivasi survival brain (jika tidak mau dibilang reptilian brain), sehingga reaksi yang timbul adalah panik dan ketidakwarasan.

Jauh dari kecerdasan, apalagi bicara munculnya literasi. Mulai dari borong masker hingga menimbun sembako.

Mekanisme pertahanan diri justru membuat manusia kelihatan tidak tahu diri. Yang mestinya si sakit menggunakan masker agar tidak menulari orang melalui percikan batuk dan bersin, atau cipratan tak sengaja saat berbicara, malah yang tidak sakit ketakutan sendiri.

Mereka menggunakan berbagai versi masker yang mustahil mencegah virus, karena molekul virusnya saja jauh lebih kecil ketimbang bahan maskernya.


Begitu pula semua ramuan ajaib penangkal virus mendadak dicari orang, laris manis.

Sampai jahe buat masak saja sulit didapat. Itu pun harganya per kilo lebih mahal ketimbang daging sapi. Satu resep viral, satu negara geger.

Padahal munculnya Covid-19 adalah peringatan keras, agar manusia mulai mengevaluasi hal-hal yang selama ini dijalankan seakan-akan ‘semua baik-baik saja’. Bahkan dianggap ‘sehat’. Sehat versi siapa?

Saya sempat ditanya oleh seorang jurnalis,”Dok, bukannya orang-orang di Tiongkok sana mestinya sehat-sehat ya? Kan mereka ngerti tuh macam-macam herbal dan sebagainya..”

Langsung ingatan ini melayang ke catatan perjalanan saya beberapa waktu yang lalu. Siapa bilang makanan orang Tiongkok itu sehat? Siapa bilang orang Tionghoa paham ilmu herbal seperti pendahulunya ribuan tahun yang lalu? Di zaman sekarang ini?

Mereka menyeduh ginseng sama seperti kita: demi iming-iming stamina. Bukannya paham ginseng untuk sindroma apa, dan bagaimana mengecek sindromanya.

Mereka juga penikmat roti putih buatan massal pabrikan, sama seperti kita: dioles selai kacang atau coklat merek ternama, sarapan mirip bule dengan havermut instan.

Di kota-kota besar bermunculan gerai-gerai ‘pangan kekinian’ – yang juga di ekspor ke negeri macam Indonesia.

Di mana manusia makan karena rasanya enak, tanpa perlu dibaca isinya apa.

Sejak revolusi kebudayaan, banyak arsip kuno dimusnahkan, tulisan-tulisan bijak para tabib dan ahli kesehatan Tiongkok malah dibawa kabur ke negeri barat, dipelajari dengan lebih seksama dan ditulis ulang dalam bahasa Inggris.

Betapa mengenaskan, saat ini orang belajar metode klasik kedokteran Tiongkok, justru dengan orang-orang Barat yang mampu menyelenggarakan kursusnya dengan berkelas dan penuh integritas, ketimbang di Asia sendiri yang mereduksi (jika tidak mau dibilang melecehkan) ilmunya sebatas ‘komplementer’ – embel-embel pendamping pengobatan Barat. Seperti pot bunga penghias teras nan megah.

Adanya wabah virus yang luar biasa ini semestinya menyadarkan orang untuk melihat ke belakang: Ada apa selama ini, yang membuat manusia tidak lagi sehat, dan mutasi virus begitu mudahnya menyerang?

Mengapa negeri hebat sekaya Indonesia, justru 96% rakyatnya tidak makan sayur dan buah dengan cukup? Ini bukan angka khayalan. Tercatat dengan baik dalam Riset Kesehatan Dasar RI tahun 2018.

Sayang belum ada pengecekan massal, berapa kadar vitamin D dalam tubuh manusia Indonesia, yang bisa jadi lebih dari separuhnya mengalami defisiensi parah – itu sebabnya mengapa virus mudah masuk, penyakit auto imun merebak. Padahal, negeri ini melimpah ruah dengan cahaya matahari.

Mengubah gaya hidup tidak mau, yang dicari justru masker dan jamu. Ini fenomena yang teramat menarik untuk dilewatkan juga.

Kenapa orang tidak mau berubah? Karena ‘hal-hal yang harus dikorbankan’ masih dianggap lebih berharga ketimbang apa yang ingin dicapai.

Menutup hidung dan mulut menggunakan masker lebih mudah, daripada harus berjemur di bawah matahari.

Mengejar wedang jahe lebih nikmat ketimbang mengupas buah dan makan sayur setiap hari. Berharap jahenya ampuh untuk mengusir virus.

Semoga generasi yang sekarang masih bersekolah di SD dan sedang belajar cuci tangan pakai sabun juga mau makan sayur dan buah.

Bukan sekadar buat lancar buang air, tapi pelajaran Biologinya perlu ditambah: bahwa serat larut adalah prebiotik yang membuat probiotik sebagai pendongkrak imunitas, sedangkan serat tidak larutnya mencegah kanker usus besar.

Baik serat larut dan tidak larut membuat rasa kenyang lebih lama, agar jajan bisa berkurang, obesitas tidak terjadi, dan gula darah selalu stabil.

Semoga wabah virus membuat kita kembali ke fitrah, waspada tanpa latah, mengembalikan kewarasan ketimbang kepanikan.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/03/10/061500420/covid-19--ujian-kesehatan-kesadaran-dan-kewarasan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.