Salin Artikel

8 Pertanyaan Seputar Wabah Virus Corona dan Ibu Hamil

Merebaknya virus corona atau Covid-19, telah membuat wanita hamil mempertanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan diri dan janinnya.

Mulai dari apakah mereka harus berhenti berpergian, apakah harus bekerja dari rumah, melakukan karantina sendiri, atau baik-baik saja melanjutkan kehidupan normal. 

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan seputar kehamilan dan wabah virus corona.

1. Apakah ibu hamil berisiko lebih tinggi?

Para ahli tidak tahu tentang hal ini. Sebab, Covid-19 adalah virus baru, tidak ada laporan ilmiah yang diterbitkan tentang apakah wanita hamil lebih rentan daripada populasi umum.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menunjukkan, wanita hamil memang mengalami pelemahan sistem kekebalan tubuh, dan mungkin lebih rentan terhadap infeksi pernapasan, termasuk Covid-19.

Berdasarkan data dari kasus sejenis yang pernah ada, seperti SARS dan MERS, beberapa ahli meyakini, wanita hamil mungkin berisiko lebih tinggi, tetapi data itu tetap terbatas dan tidak bisa dijadikan kesimpulan.

Untuk saat ini, baik CDC maupun American College of Obstetricians and Gynaecologists tidak merekomendasikan pedoman khusus untuk wanita hamil, selain pedoman umum bagi semua orang terkait wabah virus corona.

2. Langkah apa yang harus dilakukan ibu hamil?


CDC merekomendasikan masyarakat umum, termasuk wanita hamil, mengambil "tindakan pencegahan sehari-hari" demi membantu menghentikan penyebaran wabah ini.

Langkah tersebut termasuk mendapatkan vaksin flu, mencuci tangan, menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut, tinggal di rumah saat sakit, dan menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit.

Tindakan pencegahan lebih lanjut, termasuk menghindari keramaian direkomendasikan hanya untuk orangtua, atau orang dengan kondisi kronis parah seperti diabetes, penyakit jantung dan penyakit paru-paru.

3. Bolehkah wanita hamil berpergian?

Tidak ada petunjuk khusus yang melarang wanita hamil untuk berpergian. Dengan demikian, hal ini menjadi keputusan pribadi masing-masing orang.

Yang pasti, wanita hamil harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan termasuk ke mana tujuan, dan seberapa dekat kita dengan waktu persalinan. Selain itu, perlu pula disiapkan rencana cadangan.

4. Haruskah ibu hamil pergi ke RS jika merasakan gejala virus corona?


Wanita hamil harus menghubungi dokter sebelum pergi ke rumah sakit, jika dia menunjukkan gejala.

Kunjungan ke RS tidak selalu diperlukan, dan malah bisa membuat ibu hamil berisiko terkena penyakit lain.

Jika ibu hamil mengalami masalah pernapasan, maka dia harus segera mencari bantuan medis.

Virus corona memunculkan gejala mulai dari yang ringan sampai yang berat, termasuk batuk, demam, dan sesak napas.

Karena gejalanya mirip dengan pneumonia, influenza dan flu biasa, hanya tes diagnostik yang dapat memastikan apakah seseorang memiliki virus corona.

5. Amankah ke dokter untuk memeriksakan kandungan?

CDC dan ACOG di AS tak mengeluarkan pedoman khusus yang menyarankan wanita hamil untuk mengkarantina diri, atau tidak keluar rumah, termasuk memenuhi janji dengan dokter. 

Tentu saja, menghubungi dokter terlebih dahulu merupakan pilihan yang bijak. Dari sana akan didapat kepastian, tindakan pencegahan yang mereka ambil.

Kemudian, ambil tindakan pencegahan normal yang disarankan untuk orang-orang pada umumnya, termasuk mencuci tangan.

6. Bisakah virus corona ditransfer ke janin?


Tidak diketahui apakah seorang wanita hamil dengan virus corona dapat menularkan virus ke janinnya sebelum, selama, atau setelah melahirkan.

Ada beberapa kasus di mana bayi yang lahir dari wanita dengan virus corona, dan dalam kasus itu, tidak ada bayi yang dites positif untuk virus yang menyebabkan Covid-19. Demikian data CDC.

7. Haruskah wanita hamil memakai masker?

Tidak, kecuali wanita itu memang sudah sakit. Orang sehat tidak direkomendasikan memakai masker.

Selain itu, dokter memperingatkan risiko dari mengutak-atik -memakai dan melepas masker malah bisa menjadi bumerang dengan memaparkan kuman di tangan ke wajah.

CDC tidak memiliki panduan resmi tentang apakah akan melanjutkan menyusui dengan virus corona, karena masih banyak yang belum diketahui tentang virus tersebut.

Dalam konteks ketika ibu menyusui terserang flu, CDC merekomendasikan ibu terus menyusui, sambil mengambil tindakan pencegahan demi menghindari penyebaran virus ke bayi.

Ibu juga harus mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, dan jika sakit, pakailah masker saat menyusui.

Jika ibu dengan virus corona memompa ASI, ibu harus mengambil tindakan pencegahan, termasuk mencuci tangannya, ketika menyentuh, dan membersihkan pompa payudara.

CDC juga merekomendasikan seseorang yang tidak sakit untuk menyusui bayinya dengan ASI, jika memungkinkan.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/03/11/130228720/8-pertanyaan-seputar-wabah-virus-corona-dan-ibu-hamil

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.