Salin Artikel

Bagaimana Pecinta Traveling Tekan Hasrat Melancong Selama Pandemi

KOMPAS.com - Semua orang yang terpaksa harus berdiam diri di rumah karena pandemi Covid-19 pasti sudah rindu untuk berjalan-jalan ke luar rumah. Namun, jika keinginan untuk traveling itu sangat kuat, kemungkinan Anda mengalami dromomania.

Para ahli psikologi menyebutkan, dromomania adalah keinginan untuk jalan-jalan atau keluyuran yang tidak bisa ditahan. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan adiksi pada traveling.

Keinginan untuk traveling itu memang terpaksa harus ditahan. Kebanyakan negara saat ini menutup perbatasan atau bandara, maskapai penerbangan pun hanya memarkir pesawatnya selama pandemi.

Kita mungkin hanya bisa mengungkapkan keinginan jalan-jalan itu dengan menulis status atau mengunggah foto perjalanan di media sosial.

Tetapi, bagaimanakah para “pecandu traveling” menyesuaikan diri untuk hidup hanya di dalam rumah saja? Bagaimana para influencer atau travel blogger meredam keinginannya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri atau luar kota seperti sebelumnya?

Menurut psikolog yang mendalami psikologi perjalanan, Dr.Michael Brein, saat ini ada tendensi dari para pecandu traveling untuk memendam perilaku dan kebiasaannya.

Ia menjelaskan, melakukan perjalanan adalah cara yang paling mudah untuk seseorang mengembangkan rasa percaya dirinya.

“Pecandu traveling adalah mereka yang hidupnya terutama didorong oleh kebutuhan dan selalu ingin merasakan pengalaman dan kegembiraan dari tempat atau pengalaman yang baru,” kata Brein seperti dikutip dari South China Morning Post.

Di media sosial kita banyak melihat orang yang terus menerus bepergian dari satu kota atau negara lain. Para pelancong ini tak pernah lama diam di rumahnya, selalu berada di perjalanan.

Sementara itu, ketika dunia sedang berperang melawan virus corona dan tidak jelas kapan akan selesai, para pecandu traveling yang mengeluh di media sosial justru tidak menuai simpati warganet.

“Untuk orang-orang yang memang sering bepergian karena kebiasaan, lalu sekarang ini terus mengeluh, pasti warganet akan membungkam mereka. Kita harus tetap tinggal di rumah untuk menyelamatkan nyawa,” kata jurnalis travel dan penulis Lonely Planet, Valerie Stimac.

Beberapa influencer juga mengeluh penghasilan mereka menurun drastis selama wabah ini.

Menurut Brein, ada perbedaan antara pecandu traveling dengan orang yang senang liburan.

Pecandu traveling ini biasanya memiliki ciri punya rasa takut lebih rendah, berani mengambil risiko, selalu mencari kebaruan, gampang bersosialisasi dan ekstrovert, punya energi tinggi, serta selalu mencari kesenangan atau hedonistik.

Keterampilan baru

Yang terdampak oleh pandemi Covid-19 memang bukan hanya industri travel. Namun, menurut Stimac, jika selama ini Anda hidup dari industri ini, maka masa “istirahat” ini merupakan waktu yang tepat untuk mempelajari ilmu dan keterampilan baru.

“Sebagai contoh, saya sedang butuh skill baru agar bisa bertahan di industri travel yang berubah sangat cepat,” kata Stimac.

Ia menggunakan waktu di rumah saja untuk belajar membangun situs, promosi online dan SEO, serta cara mengedit video dan foto. Menurutnya, seorang penulis travel sangat butuh kemampuan digital di era traveling modern.

Penulis dan juga sutradara Leon McCarron juga berusaha mencari sisi positif dari kebijakan karantina yang diterapkan oleh otoritas.

“Dulu saya selalu bilang pada semua orang bahwa beberapa tahun lagi akan menulis buku. Saya rasa ini mungkin adalah saatnya,” katanya.

McMarron yang mengaku sebagai pecandu traveling ini mengatakan sebelumnya ia tidak pernah berada di satu tempat selama lebih dari dua atau tiga minggu.

Dia juga mengakui saat ini keuangannya sedang sulit. Ia tidak pernah mempersiapkan diri berbulan-bulan tanpa pemasukan dan juga masih punya kewajiban cicilan.

Rencana berikutnya

Hal lain yang bisa dilakukan selama masa karantina ini adalah melanjutkan impian atau rencana traveling selanjutnya.

“Inspirasi untuk destinasi di masa depan sangat penting untuk kesehatan mental kita. Saya rasa penting untuk membuat rencana positif dari hal di masa depan dan apa yang akan kita lakukan ketika sudah aman untuk melakukan perjalanan,” kata travel blogger Keri Allan.

Kita juga bisa mengikuti tur virtual yang kini tersedia di banyak situs. Bahkan kita bisa "mengunjungi" tempat-tempat yang selama ini mungkin hanya ada dalam bucket list kita.

Dalam situasi yang serba tidak pasti seperti sekarang, para pelancong juga wajib menyadari bahwa jika pembatasan-pembatasan sudah dihapus, mungkin butuh waktu lebih lama bagi sektor wisata untuk benar-benar pulih.

Walau begitu, sepertinya begitu dunia mulai aman, para pecandu traveling ini adalah orang pertama yang akan mengantri di pintu keberangkatan bandara.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/08/105937620/bagaimana-pecinta-traveling-tekan-hasrat-melancong-selama-pandemi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.