Salin Artikel

Gangguan Kecemasan Bisa Dipicu Faktor Genetik dan Perilaku Orangtua

KOMPAS.com - Gangguan kecemasan adalah jenis penyakit mental yang paling umum.

Menurut National Association on Mental Illness (NAMI), sebanyak 19 persen orang di AS mengalami gangguan kecemasan.

Penyebab paling umum adalah fobia (memengaruhi 8,7 persen orang AS), gangguan kecemasan sosial (6,5 persen), serta gangguan kecemasan umum (3,1 persen).

Di Indonesia, lebih dari 8,4 juta orang mengalami gangguan kecemasan, menurut survei Global Health Data Exchange tahun 2017 yang dilansir dari pemberitaan Kompas.com.

Para ilmuwan telah lama memperdebatkan faktor alam dan pemeliharaan dalam perkembangan manusia dan penyakit.

Kini diketahui, genetika berperan penting dalam perkembangan kecemasan. Dan para peneliti telah menemukan, gen pada kromosom 9 berhubungan dengan kecemasan.

Tetapi pengalaman kita dalam lingkungan, termasuk pengasuhan keluarga dan peristiwa tertentu, juga merupakan faktor penting.

Kita lebih mungkin mengembangkan gangguan kecemasan, jika anggota keluarga yang lain juga memiliki gangguan tersebut.

Penelitian telah menunjukkan, gangguan kecemasan memiliki tingkat heritabilitas 26 persen untuk kejadian seumur hidup.

Tingkat heritabilitas ini berarti 26 persen dari variabilitas mungkin mengembangkan kecemasan, karena faktor genetika.

Jadi, sekitar seperempat risiko kita mengembangkan kecemasan berasal dari faktor genetik.

Faktor-faktor lain, seperti pengalaman traumatis atau penyakit fisik, dapat memiliki dampak lebih besar.

Bahkan, keluarga kita masih bisa berkontribusi terhadap kecemasan dengan cara lain di luar genetika.

"Keluarga menyediakan gen dan lingkungan. Bisa jadi gen, anggota keluarga yang memberi contoh terkait kecemasan, atau kombinasi keduanya."

Demikian kata kata Elena Touroni, PsyD, psikolog dan direktur klinis My Online Therapy.

"Sulit untuk memisahkan gen dan lingkungan."

Satu studi tahun 2018 menemukan, anak dengan gangguan kecemasan tiga kali lebih mungkin mempunyai satu orangtua yang juga memiliki gangguan tersebut.

Para penulis penelitian menyebut, selain risiko genetik, perilaku "model" orangtua yang meningkatkan risiko anak mereka mengalami kecemasan sosial.

Misalnya, orangtua yang menghindari acara sosial mungkin secara tidak sengaja mengajari anak mereka melakukan hal yang sama.

Namun, seseorang yang dibesarkan oleh orangtua dengan kecemasan dapat mengurangi risiko mengembangkan gangguan kecemasan dengan belajar bagaimana mengelola kecemasan lewat teknik manajemen stres yang efektif.

Jika kita adalah orangtua yang mempunyai kecemasan, semakin awal kita mengajari anak tentang hal ini, maka akan semakin baik.

"Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menyadari fakta bahwa ada kemungkinan lebih tinggi kita cenderung cemas," kata Touroni.

"Buat upaya kesadaran untuk mempelajari teknik-teknik menenangkan pikiran, seperti perhatian."

"Selain itu, memiliki terapi psikologis akan membantu kita lebih memahami kecemasan orang-orang dalam keluarga, dan apa yang mereka tinggalkan membuat kita rentan terhadap hasilnya."


Kombinasi genetika dan peristiwa di kehidupan memicu kecemasan

Kita tidak perlu memiliki anggota keluarga dengan gangguan kecemasan untuk mengembangkan gangguan ini.

Stres atau peristiwa traumatis, misalnya, dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan.

"Kepercayaan inti utama yang mendasari setiap gangguan kecemasan adalah rasa kerentanan yang berlebihan di dunia, tentang diri kita atau orang yang kita sayangi," kata Touroni.

"Pada dasarnya, ini tentang memahami apakah pengalaman membuat kita mengembangkan keyakinan dunia adalah tempat yang berbahaya."

Secara khusus, pelecehan seksual anak dan kekerasan keluarga dapat menyebabkan peningkatan risiko kecemasan.

Selain itu, memiliki tiga atau lebih pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, seperti orangtua yang bercerai hingga pelecehan, erat kaitannya dengan kemungkinan lebih tinggi untuk mengembangkan kecemasan.

Berbagai pengalaman masa kanak-kanak yang berbeda dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa anggota keluarga bisa mengalami kecemasan, dan sebagian lain tidak.

Sebuah studi pada 2018 yang diikuti 49.524 anak kembar selama 25 tahun menemukan, seiring bertambahnya usia dan lingkungan mereka, pengaruh heritabilitas pada kesempatan mereka mengembangkan kecemasan berkurang.

Artinya, meskipun anak kembar berbagi genetika, faktor risiko mereka untuk kecemasan lebih dipengaruhi lingkungan daripada gen mereka.

Pada akhirnya, tidak ada serangkaian faktor pasti yang dapat memprediksi apakah kita akan mengembangkan kecemasan, atau tidak.

"Penyakit mental sangat berbeda dengan penyakit fisik. Kami tidak selalu dapat menemukan hubungan nyata karena ada banyak variabel," kata Touroni.

"Kesejahteraan mental kita dipengaruhi oleh begitu banyak faktor berbeda, dan karena itu, sulit mengisolasi muatan genetik dari pengaruh lingkungan."

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/22/145201620/gangguan-kecemasan-bisa-dipicu-faktor-genetik-dan-perilaku-orangtua

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.