Salin Artikel

Cegah Stres akibat Undangan Rapat dan Ngobrol di “Zoom”

KOMPAS.com – Sejak dunia di landa pandemi sekitar tiga bulan lalu, kehidupan sosial banyak orang berubah drastis. Kini mayoritas orang harus melakukan swakarantina di rumah. Tak ada lagi acara kumpul-kumpul dengan teman dan keluarga.

Berkat teknologi kita mengganti rapat dan pertemuan fisik secara virtual lewat aplikasi. Kini hampir setiap hari kita menerima undangan untuk melakukan pertemuan melalui Zoom, Facetime, Skype, atau Whatsapp video.

Awalnya mungkin kita merasa senang karena tetap bisa menjaga tali silaturahmi, tetapi karena sudah terlalu sering, lama-lama kita justru jadi terbebani dengan berbagai undangan itu dan merasa stres.

Menurut psikolog dan psikoterapis Cate Campbell, sangat dipahami jika sebagian orang kini merasa kewalahan dengan agenda sosial secara virtual.

Di lain pihak, kita merasa tak enak jika menolak ajakan untuk ngobrol secara virtual dengan orang lain.

“Kita takut jika menolak untuk terhubung dengan teman dan keluarga selama isolasi di rumah, jadi kita berusaha terlibat dengan banyaknya sosialisasi virtual. Tapi, hal ini menyebabkan tekanan baru,” kata Campbell seperti dikutip dari Insider.

Bagi sebagian orang, ngobrol dengan teman-teman bisa membantu mengurangi perasaan tertekan saat swakarantina, tapi tak sedikit yang hal itu justru menjadi beban.

Kerja otak

Rapat dan ngobrol secara virtual juga diketahui membuat otak bekerja keras. Tidak seperti pertemuan secara fisik, saat melakukannya lewat aplikasi kita hanya bisa melihat tapi tidak bisa mendengar dengan jelas.

Pertemuan virtual yang dihadiri banyak orang juga membuat percakapan kurang efektif karena kita tidak bisa mengenali sikap peserta rapat lain.

Fokus yang terbagi-bagi itu juga membuat kita merasa lebih cepat lelah. Apalagi jika dalam sehari kita harus melakukan beberapa pertemuan serupa.

Sebagian perusahaan dan juga komunitas juga melakukan komunikasi berlebihan. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dikomunikasikan lewat email atau teks, tetapi tetap dilakukan pertemuan virtual.

Untuk mengurangi rasa kelelahan, sebaiknya pertemuan virtual dibuat tidak terlalu sering atau durasinya dibuat lebih singkat. Yang terpenting adalah pesan yang ingin disampaikan diterima oleh seluruh peserta.

Tips lain adalah mengurangi jumlah peserta sehingga pertemuan lebih nyaman dan setiap orang bisa berbicara dengan leluasa dan didengar.

Sosialisasi

Konselor psikologi Gurpreet Singh mengatakan, tidak semua undangan ngobrol virtual dengan teman harus dipenuhi.

“Perasaan terpaksa, apa pun alasannya, untuk melakukan sesuatu yang tidak begitu kita inginkan bisa menyebabkan stres. Rasa terpaksa itu juga bisa timbul dari sosialisasi, baik itu dilakukan secara fisik atau virtual,” katanya.

Evaluasi apakah sosialisasi virtual itu memberikan tambahan energi atau sebaliknya. Jika kita memang tidak bisa memenuhi undangan tersebut, sampaikan kepada teman secara sopan.

Toh, menjalin silaturahmi tidak harus melalui pertemuan virtual, kita juga bisa melanjutkan komunikasi melalui teks.

Tidak perlu merasa tidak enak, karena setiap orang butuh ruang dan setiap orang saat ini sedang sibuk dengan banyak hal di rumah. Teman yang baik seharusnya bisa mengerti.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/28/171500620/cegah-stres-akibat-undangan-rapat-dan-ngobrol-di-zoom-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.