Salin Artikel

Penjualan Turun, Perajin Batik Lasem Bertahan Lewat Online

KOMPAS.com – Industri batik sedang mengalami krisis di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi lebih dari setengah tahun. Beberapa perajin dan pengusaha batik mengeluhkan omset penjualan yang terus mengalami penurunan.

Hal ini juga dialami oleh Ekawatiningsih, pemilik rumah batik Lumintu yang terletak di kawasan Lasem, Batang, Jawa Tengah.

Menurut Eka, penjualan sudah mulai menurun sejak bulan Maret yang lalu karena tidak ada lagi pengunjung atau wisatawan yang datang.

“Kalau di Lasem itu kan sama teman-teman yang dari Yayasan Kesengsem Lasem sebagai guide-nya. Nah, itu mulai 23 Maret kemarin sudah tidak terima tamu sama sekali,” ungkapnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (2/10/2020).

Meski begitu, Eka tidak dapat menjelaskan berapa banyak penurunan omsetnya. Sebab, memang wisatawan pun biasanya cuma datang di akhir pekan saja (weekend), jarang sekali ada yang berkunjung di hari-hari biasa.

Tidak hanya sepi pengunjung, omset yang mengalami penurunan ini pun disebabkan oleh banyaknya pesanan yang berasal dari luar kota harus dibatalkan, terutama untuk acara-acara pernikahan.

Untunglah ia tidak harus menjual aset seperti beberapa perajin lain yang mengalami kondisi lebih buruk.

“Kalau menjual aset sih ngga ya, saya untungnya dibantu teman-teman dari luar kota misalnya desainer muda Didiet Maulana, kontributor Kesengsem Lasem Agni Malagina, dan Komunitas Rajut Kejut yang sering mengadakan pasar online itu,” terangnya.

Selain itu, Eka juga mulai menginovasikan produk-produknya, tidak hanya dalam bentuk kain atau baju batik saja.

“Kemarin menjelang lebaran saya membuat sajadah dan sekarang masker. Kalau kain kan peminatnya sudah agak berkurang, terutama kalau yang kain halus di masa seperti ini kan turun penjualannya,” kata Eka.

Pandemi Covid-19 ini juga berdampak sampai pada perajin-perajin batik. Beberapa perajin batik bahkan ada yang harus dirumahkan karena tidak adanya pesanan.

Salah seorang perajin batik di rumah batik Lumintu Lasem, Sutimah (45 tahun) mengatakan, Ia sempat diliburkan sejenak akibat kosongnya permintaan batik.

“Iya sempat libur, tapi sekarang sudah mulai membuat batik lagi. Sekarang jadinya lebih banyak bikin masker batik tulis dan prosesnya juga cukup lama,” terangnya.

Saat ini, total perajin batik di rumah Lumintu Lasem berjumlah 8 orang. Selama omset penjualan menurun dan permintaan batik sepi, para perajin bekerja secara giliran. Jika dulu setiap hari masuk, sekarang hanya tiga hari saja.

Dengan adanya penjualan online dan permintaan terhadap masker yang lumayan banyak, membuat para perajin batik mulai bersemangat lagi untuk berkarya agar dapat bisa bertahan sampai pandemi ini mereda.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/10/02/181659120/penjualan-turun-perajin-batik-lasem-bertahan-lewat-online

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.