Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pahami, Pemeriksaan Tepat untuk Deteksi Diabetes

Sayangnya, sebagian besar orang tidak menyadari jika dirinya terkena diabetes. Kondisi inilah yang lantas membuat diabetes dijuluki sebagai silent killer.

Ya, banyak kasus diabetes yang baru diketahui setelah terjadinya komplikasi.

Nah, demi mencegah keadaan tersebut, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah rutin melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU).

Ahli endokrinologi Dr dr Sony Wibisono, SpPD-KEMD, FINASIM mengatakan, idealnya MCU rutin dilakukan setahun sekali ketika sudah memasuki usia 40 tahun.

Pemeriksaannya pun tidak sebatas gula darah. “Banyak komponen yang harus diperiksa untuk menentukan skor diabetes."

Demikian dikatakan Sony dalam webinar Bersama Diabetasol Sayangi Dia, Selasa (3/11/2020).

Sony mengatakan, penentuan skor menjadi penting untuk memprediksi diabetes ringan, sedang, atau berat.

Ada pun komponen yang diperiksa menyangkut usia, jenis kelamin, berat badan (masuk kategori obesitas atau tidak), tekanan darah, serta kadar gula darah dan kolesterol.

Selain itu, dalam pemeriksaan akan ditanyakan apakah memiliki riwayat keturunan diabetes dan lahir dengan berat badan lebih dari empat kilogram atau tidak.

Makin banyak komponen yang positif dari pemeriksaan tersebut, maka risiko diabetes semakin besar.

Hal ini juga lalu akan berpengaruh terhadap frekuensi untuk melakukan MCU.

Apabila pemeriksaan menunjukkan hasil normal, maka MCU selanjutnya bisa dilakukan 2-3 tahun sekali.

Namun, jika ada faktor risiko sedang atau berat, frekuensinya menjadi lebih sering yakni 3-6 bulan sekali.

Sayangnya, kesadaran masyarakat di Indonesia untuk memeriksakan kesehatan pun masih tergolong rendah.

“Tidak semua orang sadar untuk check-up rutin di usia 40 tahun. Misalnya ada hipertensi, yang diperiksa bukan hipertensinya saja, tapi harus dicek yang lainnya,” ujar Sony.

Pemeriksaan untuk mendeteksi diabetes memang harus dilakukan secara menyeluruh. Sebab ada faktor lain yang turut memengaruhi diabetes.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr dr Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE mengatakan, 25-30 persen diabetes terjadi karena gangguan kardiovaskular dan penurunan fungsi ginjal.

Apabila ditemukan risiko diabetes atau bahkan sudah diabetes, maka tata laksananya tidak hanya sekadar menurunkan kadar gula darah dalam batas normal.

“Harus mencegah komplikasinya, mengubah gaya hidup, mengatur makan, dan latihan rutin,” tambah Sidartawan.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/11/03/190500220/pahami-pemeriksaan-tepat-untuk-deteksi-diabetes

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.