Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Melirik Kapas yang Berkelanjutan untuk Cegah Kerusakan Lingkungan

KOMPAS.com - Kapas menjadi salah satu bahan yang paling sering digunakan dalam industri tekstil.

Meskipun kapas adalah serat alami yang dapat terurai di akhir masa pakainya, kapas adalah tanaman yang bisa menyebabkan kerusakan lingkungan.

Seorang konsultan mode berkelanjutan, Alice Wilby menjelaskan, bahwa kapas sangat boros air terutama saat penanaman dan proses pembuatan menjadi busana.

Membuat satu celana jins bisa mengambil antara 10.000 dan 20.000 galon air. Lalu, membuat sebuah kaos bisa menghabiskan 3.000 galon air.

Dia menambahkan, pertanian kapas juga menggunakan pestisida dan bahan kimia beracun yang meresap ke dalam tanah, serta bisa mencemari air.

"Kapas sebagai tanaman bisa mendatangkan malapetaka bagi manusia dan planet, bahkan sebelum diubah menjadi pakaian," katanya kepada The Independent.

Menurut Fashion For Good, produksi kapas konvensional menyumbang seperenam dari semua pestisida yang digunakan secara global. Ini berdampak pada petani dan komunitas lokal dengan bahan kimia berbahaya.

Sebuah klaim yang didukung oleh angka dari WHO menunjukkan, di negara berkembang sekitar 20.000 orang meninggal karena kanker dan mengalami keguguran akibat bahan kimia yang disemprotkan pada kapas konvensional.

Oleh sebab itu, sebaiknya produksi kapas dilakukan semaksimal mungkin untuk membatasi jejak lingkungannya dengan menggunakan lebih sedikit pestisida, lebih sedikit air, dan mempertimbangkan kondisi kerja.

"Produsen, merek, dan pengecer harus menggunakan kapas yang berkelanjutan,agar lingkungan tidak semakin rusak," terang direktur WRAP, Peter Maddox.

Berangkat dari permasalahan tersebut, produk kapas Cotton USA mendorong pertumbuhan industri tekstil dengan menggunakan kapas berkualitas tinggi yang berkelanjutan.

Perwakilan Cotton Council International (CCI) Indonesia, Andy Do mengatakan, Cotton USA mulai menerapkan program U.S. Cotton Trust Protocol® (USCTP), yang merupakan standar baru agar kapas dapat ditanam dengan lebih berkelanjutan.

"Lebih 3,8 miliar produk telah menggunakan Cotton USA sejak 1989. Label Cotton USA™ adalah tanda kepercayaan dan kualitas bagi konsumen," terangnya dalam seminar online melalui aplikasi Zoom, Selasa (15/12/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Executive Director CCI, Bruce Atherley menambahkan, tren memproduksi kapas yang lebih ramah lingkungan sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu oleh Cotton USA.

Dia yakin dengan ditetapkannya program USCTP ini dapat memberikan peningkatan ketersediaan sumber kapas dan keragaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Walaupun dengan adanya pandemi Covid-19, kami ingin memberikan sistem yang ramah pengguna, data yang dapat diverifikasi, dan berkualitas," jelasnya.

Sehingga, para pelaku industri tekstil tetap dapat beradaptasi pada perubahan perilaku dan tren konsumen dengan meningkatkan kualitas material mereka.

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/12/16/091953820/melirik-kapas-yang-berkelanjutan-untuk-cegah-kerusakan-lingkungan

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.