Salin Artikel

Nonton TV sampai Tertidur Memicu Masalah Kesehatan, Ini Penjelasannya

KOMPAS.com— Menonton film dan drama favorit di televisi setelah melewati hari yang melelahkan memang terasa menyenangkan. Tertidur di depan TV sebelum menyelesaikan film yang ditonton mungkin sudah jadi kebiasaan banyak orang.

Menurut National Sleep Foundation, dua pertiga orang dewasa di seluruh dunia tertidur di depan televisi mereka. Mendengar suara TV sebagai latar belakang saat kita akan tertidur memang membuat nyaman.

Kebisingan, alur cerita , dan rasa kebersamaan dapat membantu menenangkan banyak orang hingga mereka tertidur.

Kebiasaan ini tampak tak berbahaya. Namun rupanya, hal ini menjadi penyebab sejumlah masalah tidur, yang pada akhirnya dapat mengurangi kualitas dan kuantitas tidur kita.

Menyalakan TV sebelum tidur dapat mendorong kita untuk begadang lebih lama dari biasanya. Terlebih jika penasaran dengan kisah drama favorit yang membuat kita ingin menyaksikan satu eposide lagi, hingga akhirnya waktu tidur pun mundur.

Selain itu, jenis tayangan yang ditonton sebelum tidur juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Tertidur setelah menyaksikan adegan kekerasan atau ketegangan dapat menimbulkan perasaan cemas atau tidak nyaman, yang mengakibatkan sulit untuk tidur.

Terakhir, dan yang paling menonjol adalah cahaya yang terang, juga disebut cahaya biru, dari TV memengaruhi kualitas tidur dengan mengganggu ritme sirkadian alami tubuh.

Ketika kita mengantuk dan merasa sudah waktunya untuk tidur, tubuh mulai memproduksi melatonin. Melatonin adalah hormon yang dibuat di otak dan tujuannya adalah membantu tertidur.

Produksi melatonin meningkat pada sore hari dan malam hari dan mulai menurun di pagi hari saat matahari terbit dan tubuh akan merasakan hampir waktunya untuk bangun.

Cahaya biru yang dihasilkan oleh TV akan mengganggu produksi melatonin tubuh, dan mengelabui otak agar berpikir bahwa sebenarnya belum waktunya untuk tidur.

Cahaya biru mengurangi jumlah melatonin, sehingga kita akan sulit tidur. Begitu tertidur, cahaya biru masih dapat mendatangkan malapetaka dengan menunda dimulainya tidur REM, menyebabkan kita merasa lelah di pagi hari bahkan setelah istirahat sepanjang malam.

Pengaruh TV pada kesehatan

Tertidur di depan TV memengaruhi lebih dari sekadar kualitas tidur. Sebuah studi baru yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine menemukan bahwa tidur dengan TV menyala di kamar mungkin menjadi faktor risiko kenaikan berat badan, kelebihan berat badan, dan obesitas.

Penelitian itu mengamati 44.000 wanita di Amerika Serikat dan menemukan bahwa mereka yang tidur dengan TV atau lampu menyala bertambah 5 kg atau lebih selama periode 5 tahun.

Ditemukan juga bahwa peserta memiliki peluang 22 persen untuk menjadi kelebihan berat badan dan 33 persen kemungkinan menjadi obesitas.

Sekali lagi, cahaya biru pada TV yang harus disalahkan. Gangguan ritme sirkadian tubuh juga dapat memengaruhi metabolisme yang akhirnya menyebabkan tubuh bertambah gemuk.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/01/03/181500220/nonton-tv-sampai-tertidur-memicu-masalah-kesehatan-ini-penjelasannya

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.