Salin Artikel

5 Kebiasaan Minum yang Buruk untuk Kesehatan Liver

Organ ini juga membantu membuang racun dari aliran darah.

Oleh karena itu, penting agar kita tidak membanjirinya dengan zat yang dapat menghalangi fungsi penting tersebut, seperti alkohol dan gula tambahan.

Diketahui, penjualan alkohol melonjak di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2020 karena lebih banyak orang menghabiskan waktu di rumah, dan memerangi tingkat stres akibat pandemi Covid-19.

Nah, hal tersebut akhirnya memicu orang-orang untuk menderita penyakit liver.

Rumah Sakit Keck di Los Angeles baru-baru ini melaporkan, penerimaan untuk hepatitis alkoholik dan gagal hati meningkat sebesar 30 persen tahun lalu, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Lompatan kasus tersebut memang sebagian besar terkait dengan penyalahgunaan alkohol.

Di samping itu, ada pula kebiasaan buruk minum lainnya yang dapat merusak hati, seperti yang dilansir dari laman Eat This Not That berikut ini.

1. Wanita yang minum lebih dari segelas alkohol

Pedoman diet USDA terbaru terus mengatakan, minum hingga satu gelas minuman mengandung alkohol setiap hari tak mengganggu kesehatan wanita secara keseluruhan.

Namun, menurut sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Public Health melaporkan, seorang wanita sehat kemungkinan  mengembangkan penyakit hati sirosis yang lebih besar ketika minum alkohol setiap hari.

Maka, bagi para wanita disarankan untuk tidak meminum lebih dari satu gelas minuman alkohol setiap hari (atau kurang), demi menjaga hati dalam kondisi yang prima.

2. Pria minum lebih dari dua gelas alkohol

Pedoman Diet USDA merekomendasikan agar para pria membatasi konsumsi alkohol tak lebih dua  gelas per hari, juga untuk menjaga kesehatan.

Atau, mengikuti standar minum alkohol di AS yang didefinisikan tidak boleh lebih dari 14 gram alkohol.

Kendati demikian, sebuah studi tahun 2019 di jurnal Hepatology menyatakan, wanita memiliki risiko cedera hati yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria untuk tingkat konsumsi alkohol apa pun.

Dalam studi yang berbeda, ditemukan pria (dan wanita) di atas usia 50 tahun berisiko lebih tinggi mengalami sirosis dan kerusakan hati non-sirosis, ketika mereka hanya minum alkohol tanpa makan.

Sehingga, minum alkohol saat makan mungkin menjadi kunci untuk mencegah penyakit hati pada pria yang lebih tua.

Penelitian juga menunjukkan, seringnya pesta minuman keras cenderung menyebabkan kerusakan hati. 

3. Anak-anak sering minum soft drink

Menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam Journal of Hepatology, 90 persen dari 271 anak dan remaja mengalami obesitas karena kebiasaan menenggak soft drink dan minuman manis lainnya setidaknya sekali seminggu.

Biopsi hati juga mengungkapkan, 37,6 persen anak-anak memiliki kondisi yang disebut steatohepatitis nonalkohol (NASH), yang merupakan bentuk penyakit hati berlemak nonalkohol (NAFLD).

Mereka yang mengidap NASH mengalami penumpukan lemak di hati, yang disertai dengan peradangan dan kerusakan sel hati.

Hal ini dapat menyebabkan jaringan parut di hati atau sirosis, yang kemudian dapat menyebabkan kanker hati.

Para peneliti pun menyarankan agar anak-anak menurunkan asupan fruktosa untuk menurunkan risiko NASH dan NAFLD.

Batasi konsumsi soft drink dan minuman manis pada anak-anak untuk dapat membantu mencegah timbulnya kondisi hati yang rusak.

4. Minum soda diet pada orang dewasa

Salah satu keuntungan memilih soda diet daripada soda biasa adalah kita melewatkan semua kelebihan gula tambahan.

Namun, sebuah penelitian menunjukkan, ada satu kesulitan besar untuk menempuh rute bebas gula.

Menurut studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam The Canadian Journal of Gastroenterology, orang yang minum soda diet lebih mungkin menderita penyakit hati berlemak nonalkohol (NAFLD) sedang hingga parah.

Maka sebaiknya batasi asupan segala jenis minuman yang bersoda, terutama minuman dan makanan yang manis.

5. Mengonsumsi segala jenis soft drink

Sebaian besar soft drink menggunakan sirup jagung fruktosa tinggi (HFCS) sebagai salah satu dari tiga bahan teratas.

Gula buatan yang sangat manis dari sirup jagung telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Namun, penelitian National Institutes of Health juga menunjukkan, asupan HFCS yang tinggi dapat memicu penyakit NAFLD.

Faktanya, satu penelitian mengungkapkan, tikus yang mengonsumsi makanan kaya HFCS untuk jangka waktu yang lama mengalami kerusakan pada usus.

Semakin sedikit HFCS yang kita konsumsi, semakin banyak kita akan mengurangi risiko NAFLD dan masalah kesehatan yang buruk lainnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/02/13/083504820/5-kebiasaan-minum-yang-buruk-untuk-kesehatan-liver

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.