Salin Artikel

Bagaimana Seharusnya Kita Merespons Curhat tentang Gangguan Jiwa?

Warganet menyoroti komentar juri INTM, Luna Maya dan Deddy Corbuzier terhadap salah satu kontestan, Ilene, yang menceritakan soal gangguan mental yang pernah dialaminya.

Ini diawali dari cerita Ilene tentang salah satu konsep fotonya di tepi pantai, di mana ia berhasil melawan depresi di masa lalu dan menerima diri apa adanya.

Deddy kemudian mengaku heran mengapa Ilene yang berwajah cantik dan memiliki tubuh tinggi jenjang mengalami depresi. Ternyata, setelah bertemu psikolog, Ilene baru tahu bahwa saat itu dirinya mengalami gangguan makan (eating disorder).

"Diagnosanya eating disorder, kayak pernah dua kali. Yang pertama jadi pengin makan terus yang kedua enggak pengin makan apa-apa," kata Ilene.

Luna Maya kemudian merespons ucapan Ilene dengan menyebut dirinya juga sangat suka makan.

"Saya suka banget makan, jadinya saya eating disorder kali ya," ucap Luna.

"Anda memang mental health, bu," sahut Deddy sambil tertawa.

"Oh gitu ya," sambung Luna. Kemudian Luna kembali melihat Ilene sambil mengungkapan rasa tidak percayanya, "hah serius?" dan Ilene hanya tersenyum.

Ilene juga menceritakan bagaimana tekanan di dunia model, bullying dan body shaming yang dihadapi membuat dirinya mengalami eating disorder.

Deddy kemudian merespons dengan menganggap hal itu wajar dan merupakan tuntutan kerja.

"Memang ketika menentukan sebuah profesi, tuntutannya jadi seperti itu, jadi saya tidak merasa itu sebagai body shaming kalau saya," ujar Deddy. "Mungkin aku aja kurang kuat pada waktu itu," jawab Ilene.

Komentar-komentar para juri mengundang berbagai respons dari warganet. Banyak yang menyayangkan komentar tersebut disampaikan pada orang yang pernah mengalami gangguan mental.

Psikiater dr Jiemi Ardian SpKJ turut mengomentari hal itu melalui tweet-nya.

Menurutnya, sering kali orang yang mengalami gangguan jiwa disalahkan atas kondisinya. Salah satu contohnya seperti yang terjadi di INTM.

Lebih lanjut, Jiemi mengatakan bahwa eating disorder bukan hanya urusan naik atau turun berat badan. Ada beberapa faktor lain yang berada di belakangnya, seperti trauma, depresi, gangguan kecemasan, tekanan lingkungan, dan lainnya.

"Nggak bisa disederhanakan jadi kesalahan personal orang yang ngalamin," kata Jiemi dalam tweet-nya.

Bagaimana seharusnya merespons cerita gangguan jiwa

Secara umum, kasus ini mungkin semakin membuka mata kita bahwa gangguan jiwa, termasuk gangguan makan, bisa terjadi pada siapa saja.

Merespons cerita seseorang tentang gangguan jiwa yang dialaminya mungkin terdengar sepele, namun masih banyak orang merespons secara tidak tepat.

Banyak para penderita gangguan jiwa enggan membicarakan kondisinya dan enggan mencari pertolongan karena adanya stigma yang masih melekat di masyarakat.

"Seakan dia adalah orang yang salah, malu karena kondisinya, merasa dia lah yang perlu memperbaiki diri karena tidak kuat atau kurang bersyukur, dan sejenisnya."

"Padahal ini isu kompleks dan perlu bantuan profesional, bukan isu kesalahan personal," ungkap Jiemi ketika dihubungi Kompas.com melalui pesan teks.

Kondisi ini membuat banyak penderita gangguan jiwa tidak mendapatkan pertolongan.

Bahkan, untuk untuk gangguan makan, banyak penderitanya yang tidak sadar bahwa kondisi yang dialaminya adalah gangguan jiwa.

Tak menutup kemungkinan kita akan menghadapi kondisi di mana orang dekat kita curhat bahwa dirinya mengalami gangguan makan atau gangguan jiwa.

Alih-alih menyederhanakan masalah yang dihadapi orang tersebut, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah memberikannya kesempatan untuk menceritakan kondisinya.

Menurut Jiemi, di momen itu kita bisa mulai memahami kondisi yang dialami orang tersebut, bukan langsung memaksakan pemahaman pribadi kita.

Hindari pula membandingkan kondisi tersebut dengan kondisi lainnya yang mungkin tidak akan bermanfaat bagi penderita.

"Ketika ada orang curhat, misal tentang gangguan makan yang dialami, ini adalah kisah emosional, maka hindari argumentasi rasional."

"Membandingkan penderitaan yang satu dengan yang lain dengan rasional bisa jadi tidak bermanfaat. Atau berargumen tentang yang kita pikir rasional tentang keluhan lawan bicara," ujar Jiemi.

Setelah mendengarkan ceritanya dan memberikan dukungan atas kondisi tersebut, kita bisa memberi saran untuk bertemu dengan profesional.

Asosiasi Gangguan Makan Nasional Amerika Serikat (NEDA), misalnya, mengatakan bahwa teman dan keluarga punya peran penting untuk membantu penderita mengidentifikasi kondisinya dan meminta bantuan profesional.

Apalagi, seperti yang diketahui, banyak penderita gangguan makan tidak sadar bahwa kondisi yang dialaminya adalah gangguan jiwa dan mereka malu mencari bantuan.

Membantu para penderita mencari bantuan profesional sama dengan membantu mereka untuk merasa lebih baik.

"Dan yang terakhir tentu mencari jalan keluar dengan bantuan profesional," tambah dokter yang berpraktik di Siloam Hospitals Bogor itu.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/03/23/121552920/bagaimana-seharusnya-kita-merespons-curhat-tentang-gangguan-jiwa

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.