Salin Artikel

Tanda Masyarakat Alami Kejenuhan Pandemi

KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama setahun, sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan secara formal dunia memasuki pandemi, pada 11 Maret 2020.

Pandemi ini bukan sekadar penularan penyakit, tapi juga memaksa manusia mengadopsi gaya hidup baru, mulai dari cara bekerja, bersekolah, hingga bersosialisasi. 

Menurut sosiolog Daisy Indira Yasmine, manusia dibekali kemampuan untuk beradaptasi dalam kondisi apa pun. Namun, berapa lama bisa bertahan dalam situasi yang baru tergantung masing-masing individu.

“Pasti ada batas kemampuan bertahan. Pada satu titik kita akan merasa jenuh dengan perubahan-perubahan yang diminta untuk dilakukan. Itu disebut dengan pandemic fatique atau kejenuhan pandemi,” papar Daisy dalam acara talkshow yang digelar Frisian Flag Indonesia dan Forum Ngobras secara virtual (22/3).

Kejenuhan pandemi ini bisa terlihat dari rasa stres karena tidak jelas kapan situasi ini akan berakhir, atau justru merasa pasrah jika tertular penyakit dari pada tidak bisa melakukan hal yang diinginkannya. Itu sebabnya banyak yang mulai abai dengan protokol kesehatan.

Sosiolog dari Universitas Indonesia itu menjelaskan, kejenuhan pandemi sebenarnya juga sudah diprediksi oleh WHO. Kejenuhan ini muncul bertahap dari waktu ke waktu, datang dan pergi.

Gelombang kejenuhan pandemi antara lain bisa dilihat dari grafik penularan Covid-19 yang fluktuatif.

“Misalnya pada masa liburan atau hari raya, angkanya naik lagi. Ini memang paling sulit mempertahankan protokol kesehatan. Masyarakat lebih mengutamakan relasi keluarga, kegembiraan, dan kesenangan yang dirasakan, sehingga abai pada protokol kesehatan,” ujarnya.

Kejenuhan pandemi tidak hanya dialami pada saat ada krisis kesehatan publik yang berlarut-larut seperti pandemi Covid-19, tetapi juga saat seseorang menderita penyakit kronis.

“Kita pun kalau terkena penyakit kronis bisa memengaruhi kekuatan mental dalam menghadapi hal tersebut, demikian juga halnya dengan pandemi,” ujar Daisy.

Berfokus pada masyarakat

Untuk mengatasi kejenuhan pandemi sehingga masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan, Daisy menyebutkan pentingnya regulasi yang berfokus pada manusia atau masyarakat.

“Semua kebijakan harus berbasis riset, kebijakan juga tidak bisa dipukul rata dan harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya untuk lansia bagaimana atau untuk orang muda bagaimana,” paparnya.

Selain itu, kebijakan juga harus dibuat dengan melibatkan anggota masyarakat sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek.

“Yang penting juga adalah bagaimana manusia bisa tetap menjalankan kehidupan sehari-hari tapi mengurangi risiko tertular. Kebijakan tidak bisa ekstrem, tapi harus memahami kesulitan hidup yang dihadapi anggota masyarakat,” katanya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/03/24/172835220/tanda-masyarakat-alami-kejenuhan-pandemi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.