Salin Artikel

Mudahnya Mengakali Batasan Umur di Media Sosial

KOMPAS.com - Media sosial kini menjadi salah satu medium yang paling banyak digunakan orang-orang untuk berkomunikasi, termasuk anak-anak dan remaja.

Meski sebenarnya ada batasan usia untuk memiliki akun di media sosial namun nyatanya banyak orangtua yang membuatkan akun untuk anaknya, bahkan sejak bayi. 

Pemerintah Indonesia sempat menggulirkan wacana agar anak berusia kurang dari 17 tahun yang ingin mengakses media sosial harus mendapatkan ijin orangtuanya.

Masing-masing platform media sosial sebenarnya sudah memiliki batasan usia atau age restrictions untuk mengakses layanan mereka. Misalnya saja berusia minimal 13 tahun untuk mengakses Instagram, Twitter dan Youtube, atau minimal 14 tahun untuk memiliki akun di Tiktok.

Faktanya, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak dengan mudah dapat mengakali proses verifikasi usia di platform media sosial.

Verifikasi usia pada media sosial sebenarnya sangat penting guna mencegah anak-anak mengakses situs-situs tertentu yang tidak layak dibuka.

Hal tersebut tentu saja memunculkan banyak pertanyaan apakah media sosial sudah bisa menjadi ruang yang cukup aman bagi anak-anak atau justru harus dihindari.

Para peneliti dari Lero, Science Foundation Ireland Research Center for Software telah menemukan anak-anak sangat mudah melewati verifikasi usia apa pun hanya dengan berbohong.

Aplikasi yang termasuk dalam penelitian Lero ini mencakup Facebook, Instagram, WhatsApp, Snapchat, TikTok, Messenger, Skype, dan Discord.

Para peneliti melakukan studi pada April 2019-2020 dan menyimpulkan bahwa semua anak berhasil membuat akun media sosial dengan mengatakan usia mereka 16 tahun.

Sementara, situs media sosial tidak meminta bukti apa pun selain verifikasi usia dan hanya menjalankan sistem tanpa mengetahui anak-anak tersebut berbohong.

Kekhawatirannya adalah anak-anak yang menggunakan aplikasi ini tanpa pengawasan dan sepengetahuan orangtua mereka akan lebih rentan terpapar konten yang tidak sesuai.

Studi tersebut juga menemukan, jika seorang anak memasuki sebuah aplikasi dan pada awalnya menggunakan usia aslinya, maka aplikasi itu akan menonaktifkan pendaftaran.

Tetapi, kalau pengguna membuat ulang akun dengan usia 16 tahun atau lebih, situs akan membiarkan mereka masuk tanpa pertanyaan, serta tidak perlu bukti.

Tim peneliti pun melihat beberapa teknik pengenalan usia seperti pengenalan suara yang digunakan untuk mencoba dan memverifikasi bahwa pengguna memasukkan usia yang benar.

Namun, cara itu juga terbukti mudah dilewati hanya dengan memutar rekaman suara orang yang lebih tua.

Meskipun solusi untuk masalah ini mungkin belum jelas, orangtua melindungi anak-anak dari akses informasi yang mungkin tidak pantas dan berbahaya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/03/30/135543620/mudahnya-mengakali-batasan-umur-di-media-sosial

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.