Salin Artikel

Waspadai, Ini Tanda Anak Sudah Kecanduan "Gadget"

Faktanya, penggunaan gadget pada anak bukan harus dilarang, melainkan didampingi agar anak menggunakannya sesuai kebutuhan usia.

Sayangnya, beberapa orangtua bingung kapan dan bagaimana mengenalkan gadget pada anak.

Pada akhirnya, alih-alih memberi pendampingan, orangtua justru menjadikan gadget sebagai pengganti figur orangtua.

Selain memberikan sejak usia anak masih kecil, banyak orangtua memberi gadget secara penuh tanpa memberi batasan pada anak.

Hal ini pada akhirnya membuat orangtua kerap kesulitan meminta anak berhenti menggunakan gadget dan anak memiliki interaksi yang berlebihan dengan gadget-nya.

Kondisi ini lebih dikenal dengan istilah kecanduan gadget.

"Selama ini orangtua kan concern-nya menggunakan gadget sebagai pengganti figur orangtua, figur pengasuh."

"Tapi orangtua ini lucu. Ketika memberi gadget (pada anak), mereka memberi semuanya tanpa ada batasan."

Demikian diungkapkan oleh psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga, Roslina Verauli MPsi, Psi pada peluncuran virtual Huawei MatePad T10 Kids Edition, Rabu (16/6/2021).

Faktanya, kesulitan orangtua dalam memisahkan anak dengan gadget juga dibuktikan melalui penelitian yang ia lakukan.

Pada Mei lalu, Roslina secara khusus meneliti tentang pandemi Covid-19 dengan melibatkan sekitar 500 keluarga Indonesia.

Salah satu poin di dalam penelitian tersebut adalah kesulitan orangtua membatasi screen time atau waktu layar anak.

Di masa pandemi, sejumlah anak bahkan memiliki screen time di atas 5 jam sehari.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Psychological Association (APA) merekomendasikan anak hingga 18-24 bulan (2 tahun), kecuali video call, sementara anak usia 2-5 tahun tak lebih dari 1 jam per hari.

"Bayangkan ada anak yang screen time-nya 5,6,7 jam. Itu mengerikan sekali dan itu pun bukan ditujukan untuk kegiatan belajar tapi main game," tuturnya.

Penggunaan gadget berlebihan pada anak dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental.

Misalnya, masalah mata kering, kemampuan belajar anak terhambat, kurang konsentrasi, anak mengalami masalah emosional, dan lainnya.

Hal ini, kata Roslina, terjadi karena banyak orangtua belum memahami bagaimana mengenalkan gadget pada anak.

"Bukan soal kapan atau perlu atau tidaknya mengenalkan gadget tapi bagaimana mengelola agar gadget yang mereka miliki punya fungsi yang benar-benar optimal bagi tumbuh kembangnya."

"Jadi, (dengan gadget) pengetahuan umum anak berkembang tanpa perlu membuat mereka adiksi pada layar," ujarnya.

Lalu, seperti apa tanda anak kecanduan gadget?

Singkatnya, menurut Roslina, anak dikatakan sudah kecanduan gadget jika kemampuan atau fungsi sehari-harinya sudah terganggu karena interaksi yang berlebihan selama menggunakan gadget.

Adapun fungsi sehari-hari anak di antaranya bermain, belajar, berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga, hingga memenuhi kebutuhan biologis seperti tidur dan makan.

Mengenalkan gadget berdasarkan usia

Alih-alih melarang anak menggunakan gadget, sebaiknya orangtua mengenalkan gadget pada anak sesuai dengan kebutuhan usianya.

Berikut sejumlah panduannya berdasarkan usia anak:

  • Usia 2 tahun pertama

Di usia ini, gadget dapat menjadi media untuk merangsang skill sensomotorik anak. Misalnya, mengenal berbagai macam warna dan bentuk, hingga mengikuti gerakan dan nyanyian.

  • Usia 3-5 tahun

Di usia ini, proses belajar anak semakin berkembang. Anak bisa bereksplorasi lebih jauh, seperti menggambar di tablet atau membaca buku cerita.

Perbedaannya, fungsi gadget untuk anak usia 3-5 tahun bertambah menjadi bagian dari hiburan.

Anak boleh melihat sarana hiburan seperti video atau games, namun batasi penggunannya tak lebih dari satu jam. Ini didasari rekomendasi WHO dan APA terkait penggunaan gadget pada anak usia 2-5 tahun.

  • Usia 6 tahun ke atas

Di usia ini, anak sudah semakin mahir menggunakan gadget. Bahkan, sebagian anak mungkin sudah mampu melakukan pencarian di situs dan mengelola data-datanya.

Pada usia ini, fungsi gadget tak sebatas media belajar dan hiburan, melainkan bisa dijadikan alat komunikasi.

Namun pada intinya, orangtua harus tetap memberikan pendampingan agar anak menggunakan gadget secara tepat.

"Pahami dulu peran orangtua. Mau ngapain di usia anak yang sekian tahun."

"Yang pasti orangtua butuh terlibat dalam kegiatan anak bersama gadget dan tabletnya sehari-hari," ucap dia.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/06/17/101538220/waspadai-ini-tanda-anak-sudah-kecanduan-gadget

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.