Salin Artikel

Covid-19 Varian Delta Menyebar, Ingat Lagi Tata Cara Isoman yang Tepat

Tak hanya Indonesia, varian yang pertama kali ditemukan di India ini juga sudah menyebar ke banyak negara lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Senin, 21 Juni 2021 bahwa varian delta adalah jenis virus corona tercepat dan terkuat yang pernah ada.

Selain itu, varian delta juga memiliki potensi menjadi lebih mematikan karena jangkauan penularan virusnya lebih besar dibandingkan varian lain.

Di sisi lain, kasus Covid-19 di Indonesia juga melonjak dalam beberapa hari terakhir, membuat kapasitas fasilitas kesehatan penuh dan kewalahan.

Lalu, bagaimana dengan tata cara isolasi mandiri (isoman), apakah ada perubahan menyusul menyebarnya varian delta ini?

"Sebenarnya tidak (berpengaruh terhadap tata cara isolasi mandiri). Tetap sama seperti yang dulu-dulu, karena kita juga tidak bisa memastikan dia kena varian baru atau bukan."

Demikian diungkapkan oleh dr Paulus Arka Triyoga, SpP, Dokter Spesialis Paru dari Eka Hospital Cibubur kepada Kompas.com, Kamis (24/6/2021).

Namun, Arka menegaskan pentingnya seseorang tetap melapor terlebih dahulu jika terkonfirmasi Positif Covid-19. Ini dilakukan sebagai bagian dari tracing atau penelusuran kontak erat.

Sebab, masih ada masyarakat yang malas atau takut melapor kemudian langsung melakukan isolasi mandiri.

"Dulu kan takutnya didatangi orang puskesmas, di-tracing. Padahal enggak juga kok, sekarang puskesmas mungkin sudah enggak ke tempat karena (kasusnya) sudah kebanyakan. Mereka juga per WA untuk pemantauan," katanya.

Secara rinci, berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan jika kita terkonfirmasi positif Covid-19:

  • Setelah mendapatkan hasil tes terkonfirmasi positif Covid-19, laporlah ke RT/RW, gugus tugas, atau puskesmas terdekat.
  • Jika hanya memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, fasilitas kesehatan akan menentukan apakah kita bisa melakukan isolasi mandiri sendiri di rumah.
  • Pastikan sarana dan prasarana di rumah memadai untuk isolasi mandiri. Misalnya, memungkinkan untuk tinggal di kamar terpisah dengan anggota keluarga lain.
  • Lakukan penelusuran kontak terhadap anggota keluarga yang tinggal di satu rumah. Jika ada yang terkonfirmasi positif Covid-19, pastikan turut melapor.
  • Jika kondisi rumah tidak memungkinkan untuk melakukan isolasi mandiri, sampaikan pada fasilitas kesehatan untuk dibantu mencarikan tempat isolasi mandiri.

"Kalau di rumah tidak bisa banget, padat, kamar cuma satu dan banyak yang kena, minta tolong pada puskesmas nanti bisa kok dibantu mencarikan tempat isolasi mandiri."

"Setiap Dinas Kesehatan juga punya tempat sendiri, seperti rumah sakit daruratnya," ujar Arka.

Hal penting saat isolasi mandiri

Ketika hendak melakukan isolasi mandiri, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Memiliki ruang isolasi yang baik

Diberitakan Kompas.com, Selasa (22/6/2021), Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro mengatakan bahwa ruang isolasi mandiri harus memiliki ventilasi dan aliran udara yang baik.

Jika kamar isolasi memiliki jendela, individu yang terkonfirmasi positif bisa membukanya untuk berjemur. Jika kadar oksigennya baik, ia juga bisa berolahraga di dalam ruangan atau beranda jika ada.

Diusahakan kamar isolasi terpisah dengan anggota keluarga lain yang sehat, apalagi jika ada anggota keluarga yang memiliki komorbid.

Hal ini dilakukan untuk memastikan individu tersebut tak menjadi sumber penularan virus terhadap anggota keluarga lain.

Jika ada ruangan yang terpaksa digunakan bersama, misalnya kamar mandi, pastikan ruangan dibersihkan setelah dan sebelum digunakan oleh anggota keluarga yang sehat serta usahakan memakai masker.

2. Mempersiapkan alat yang dibutuhkan

Tingginya kasus Covid-19 di tanah air membuat banyak rumah sakit penuh.

Menurut Arka, individu yang melakukan isolasi mandiri setidaknya memiliki termometer untuk mengukur suhu badan sendiri apakah mengalami demam atau tidak.

Selain itu, memiliki pulse oximeter juga bisa membantu mengetahui saturasi oksigen.

"Kalau sudah ada gangguan respiratorik, batuk atau napas berat, itu boleh kok beli saja pulse oximeter, dilihat saturasinya. Kalau sudah di bawah 93-95 persen itu peringatan," katanya.

3. Tidak ikut-ikutan pengobatan orang lain

Reisa mengungkapkan alasan lainnya mengapa individu yang terkonfirmasi positif tetap harus melapor ke tenaga medis atau fasilitas kesehatan. Selain untuk kepentingan pelacakan, hal itu juga dilakukan agar individu yang bersangkutan mendapatkan terapi dan penanganan yang tepat jika dibutuhkan.

Meskipun, beberapa individu yang tidak memiliki gejala mungkin tak perlu mengonsumsi obat.

"Jangan sampai sudah telat, menganggap tidak ada gejala, lalu gejalanya muncul begitu sudah telat, ya telat jadinya," ujar Reisa.

Kapan pengobatan selesai juga harus merupakan keputusan tenaga medis, bukan pasien.

Selain itu, hindari kebiasaan ikut-ikutan pengobatan orang lain karena kondisi setiap orang yang terinfeksi Covid-19 bisa berbeda-beda.

"Jangan ikut-ikutan pengobatan, "si tetangga minum ini, minum itu, cepat tuh sembuhnya". Belum tentu. Jadi berbeda-beda pada setiap tubuh pasien," ungkapnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/06/25/075508620/covid-19-varian-delta-menyebar-ingat-lagi-tata-cara-isoman-yang-tepat

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.