Salin Artikel

Optimisme, Stres, dan Coping Stress di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Christine Hadinata dan Riana Sahrani

SUDAH satu tahun lebih masyarakat Indonesia dan dunia menghadapi krisis kesehatan yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani penyebaran pandemi tersebut.

Salah satu upaya pemerintah adalah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Namun, PPKM menyebabkan individu tidak dapat beraktivitas seperti biasa, sehingga menimbulkan masalah kesehatan psikologis pada individu, salah satunya adalah stres.

Berdasarkan International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2020, telah terjadi peningkatan stres selama pandemi yaitu dengan prevalensi stres sedang dan stres tinggi pada individu dibawah usia 25 tahun.

Selaras dengan hal tersebut, dilansir oleh Journal of Medical Internet Research tahun 2020, terdapat 86 persen stres yang diakibatkan karena penurunan interaksi sosial.

Namun tidak semua orang akan memiliki tingkat stres yang sama, hal ini dikarenakan banyak faktor yang dapat menimbulkan stres.

Perlu diperhatikan bahwa stres tidak dialami pada semua orang. Hal ini dapat disebabkan adanya perbedaan individu dalam menanggapi situasi stres.

Faktor kepribadian, misalnya trait optimistis versus pesimistis menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Menurut psikolog Amerika sekaligus peneliti tentang optimisme, yakni Charles S Carver, definisi optimistis adalah sejauh mana individu memiliki harapan positif terhadap masa depan mereka.

Individu yang optimistis memiliki sumber penyelesaian masalah yaitu dengan cara pandang positif terhadap kondisi stres.

Individu yang optimistis juga memiliki tingkat kehidupan lebih baik dan memiliki sumber daya psikologis yang dapat membantu individu dalam mengatasi kesulitan.

Berdasarkan Journal Psychological Science tahun 2010 individu yang optimistis dapat menghadapi stres, serta dapat meningkatkan sistem imun tubuh dengan sikap tersebut.

Meningkatnya kekebalan tubuh tentunya menjadi sangat penting terutama di situasi pandemi ini, di mana dengan kekebalan tubuh yang baik dapat mengurangi risiko terinfeksi Covid-19.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Partono dan Rosada dalam Jurnal Studi Keislaman tahun 2020, yaitu ketika individu sedang mengalami stres maka tubuh akan mengeluarkan sejumlah hormon stres yang dapat mematikan imunitas tubuh yang disebut shutdown the immune system.

Apabila individu tersebut merupakan orang yang optimistis, maka ia akan tetap berusaha terlibat dalam keadaan stres. Akan tetapi, individu pesimistis akan berusaha menghindari atau melarikan diri situasi stres yang dialami.

Namun demikian, sikap optimistis saja tidak dapat melindungi individu dari situasi stres, apabila kondisi stres terjadi dalam jangka waktu panjang dan dapat menurunkan kekebalan tubuh.

Selaras dengan pernyataan tersebut, Segerstrom dalam Journal Brain, Behavior, Immunity tahun 2007, meneliti tentang kekebalan mahasiswa yang optimistis dan pesimistis.

Pada penelitian tersebut ditemukan mahasiswa yang optimistis cenderung merasakan stres lebih sedikit, karena merasa lebih mampu untuk mengatasinya.

Namun saat tuntutan stres semakin berat, mahasiswa yang optimistis mengalami tingkat kekebalan tubuh yang lebih rendah serta kurang mampu mengelola stres dibandingkan mahasiswa yang pesimistis.

Hal ini disebabkan individu yang optimistis menggunakan strategi problem focused coping dalam menyelesaikan masalah atau melakukan sesuatu untuk mengubah sumber stres.

Berdasarkan Psychology Today tahun 2010, dengan judul artikel "The Trouble with Optimism", individu yang optimistis menggunakan problem focused coping secara terus-menerus, sehingga kurang dapat menilai situasi secara lebih objektif.

Problem focused coping merupakan penyelesaikan masalah dengan bertindak langsung untuk mengatasi sumber masalah tersebut, serta berusaha untuk mengubah situasi dengan cara mengubah kondisi lingkungan tersebut.

Individu yang optimistis memiliki keyakinan yang kuat pada harapan dan sikap "can-do".

Mereka merasa mampu menyelesaikan masalah tersebut, serta berusaha mengubah situasi yang sebenarnya tidak dapat diubah. Mereka meyakini dapat mencapai apa yang diinginkan dengan berusaha keras.

Pada akhirnya kondisi ini akan membuat individu menjadi kewalahan karena berusaha mengubah situasi, namun tidak dapat mengelola stres, sehingga respon imun menjadi gagal.

Bentuk coping stress

Lantas apa yang sebaiknya perlu dilakukan untuk bisa menangani stres dengan baik? Ketika kita sedang menghadapi situasi stres, sebaiknya kita kenali terlebih dahulu bentuk coping stress yang dapat digunakan.

Bentuk coping stress terdiri dari dua yakni emosional focused coping dan problem focused coping.

Emotional focused coping merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan tekanan emosional, yang terbagi menjadi dua:

  1. Emotional focused coping positif, yaitu misalnya mencari dukungan sosial, melakukan kegiatan positif yang dapat membantu suasana hati lebih baik, atau menerima kenyataan secara positif;
  2. Emotional focused coping negatif seperti menolak, berusaha melupakan keadaan, dan lain sebagainya. Problem focused coping merupakan upaya untuk mengurangi stres yang berfokus pada penyelesaikan masalah seperti problem-solving, manajemen waktu, dan lain sebagainya.

Kendala bagi individu yang optimistis apabila menggunakan satu jenis coping stress, yaitu problem-focused coping dalam menghadapi stres terutama di masa pandemi yang tidak kunjung usai dan tidak dapat diubah.

Individu menggunakan problem focused coping secara berkelanjutan tanpa diiringi pergantian jenis coping stress lainnya, yaitu emotional focused coping, sehingga menyebabkan individu tersebut kurang melihat masalah yang sebenarnya.

Perlu diperhatikan juga tidak ada jenis coping stress yang paling baik, gunakanlah jenis coping yang paling sesuai dengan Anda dan paling sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Perbedaan situasi dapat juga menyebabkan kita harus menggunakan jenis coping stress yang berbeda pula. Jenis coping stress yang berbeda akan memiliki hasil akhir berbeda juga.

Pada salah satu artikel Verywell Mind tahun 2021, problem focused coping membantu individu ketika perlu mengubah situasi, seperti menghilangkan hal stres dari hidup.

Sebagai contoh, jika individu berada dalam hubungan yang tidak sehat, yang membuat individu merasakan kecemasan dan kesedihan. Cara yang mungkin paling baik diselesaikan dengan mengakhiri hubungan (bukan menenangkan emosi).

Adapun emotional focused coping membantu ketika individu perlu menangani perasaan atau tidak ingin mengubah situasi seperti pada saat keadaan tersebut berada di luar kendali.

Misalnya, jika Anda berduka karena kehilangan orang yang dicintai, penting untuk menangani perasaan dengan cara yang positif (karena keadaan tersebut tidak dapat diubah).

Selaras dengan hal tersebut berdasarkan Michael Scheier, seorang profesor psikologi di Carnegie Mellon University -- dalam Journal of Personality and Social Psychology tahun 1987-- mengatakan, langkah sebaiknya yang dilakukan agar efektif dalam mengatasi masalah dengan menggunakan dua bentuk coping (emotional-focused positif dan problem focused).

Sebagai contoh pada saat menghadapi stres berkepanjangan seperti masa pandemi, dapat melakukan emotional focused coping yang positif seperti melakukan kegiatan yang disukai, bercerita kepada teman terdekat, meditasi, dan lainnya.

Pada saat kondisi emosi sudah stabil, individu dapat melihat masalah lebih jelas dan objektif.

Ketika sudah berada pada kondisi tersebut, individu dapat kembali menggunakan problem focused coping untuk mencari jalan keluar dalam memecahkan masalah seperti membagi waktu, meminta bantuan pada orang lain untuk mendapat masukan, membuat daftar to-do-list, atau membuat rencana, namun tetap menerima kondisi sebenarnya yang terjadi.

Berdasarkan penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa individu yang optimistis dapat menangani stres dengan baik dibandingkan individu yang pesimistis.

Hal ini disebabkan individu yang optimistis dapat menggunakan dua jenis strategi coping stress bergantian sesuai situasi yakni problem focused coping dan emotional coping stress positif.

Adapun individu pesimis menggunakan emotional coping stress negatif. Individu yang optimistis tidak dapat menangani stres di masa pandemi apabila menggunakan problem focused coping saja. Karena individu yang menggunakan problem focused coping saja tidak dapat melihat situasi secara objektif.

Christine Hadinata dan Riana Sahrani
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/08/22/140512320/optimisme-stres-dan-coping-stress-di-masa-pandemi-covid-19

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.