Salin Artikel

"Breakthrough Infection", Saat Tertular Covid-19 Setelah Vaksinasi

Memang, fenomena breakthrough infection itu tidak jarang terjadi, namun, bukan berarti vaksin itu buruk.

Pasalnya, vaksin tentu tidak akan membuat kita 100 persen kebal Covid-19, tapi bisa mengurangi gejala berat jika tertular.

Salah satu contohnya terjadi pada Tori Gleason (41) yang telah mendapatkan dua kali injeksi vaksin pada Desember dan Januari silam, namun tertular Covid-19 setelahnya.

Gleason yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan tentu paham benar bahwa ia masih memiliki kemungkinan terinfeksi.

Namun, dia tetap bersyukur telah menerima vaksin saat terinfeksi.

“Saya yakin jika tidak mendapatkan vaksin, kerabat saya mungkin telah menyiapkan pemakaman saya."

"Benar-benar mengingatkan saya akan pentingnya mendapatkan vaksin,” ujar Gleason.

Sejauh ini, dalam uji klinis vaksin Moderna dan Pfizer mRNA disebut memiliki efikasi -alias tingkat kemanjuran hingga 95 persen dalam mencegah gejala, terutama gejala berat.

Kendati demikian, uji klinis tersebut hanya menilai orang yang sehat, jadi tak mengherankan bila breakthrough infection tetap bisa terjadi.

“Mereka tidak memasukkan orang yang tidak memiliki sistem imun normal atau mengonsumsi obat immunosuppressant karena mencoba menentukan kondisi terbaik vaksin.”

Demikian pandangan S. Wesley Long, MD, PhD, Direktur Medis Mikrobiologi Diagnostik di Houston Methodist, Amerika Serikat.

Begitu vaksin sampai ke populasi umum, persamaannya bisa berubah.

Tetap berisiko jika “lengah”

Terlepas telah divaksin atau belum, kita tetap berisiko tertular jika lengah, misalnya dengan terlalu dekat dengan orang lain atau tidak mengenakan masker.

Gleason menduga, dia tertular saat bertemu dengan seorang teman lama selama 45 menit saja.

Jadi, protokol tetap harus dipatuhi untuk mengurangi risiko breaktrough infection semacam ini.

Gejala ringan

Seperti sudah disebutkan di atas, mayoritas orang yang mengalami breakthrough infection hanya mengalami gejala ringan, dan bisa dirawat di rumah dengan isolasi mandiri.

Kendati demikian, risiko gejala berat bisa terjadi jika memiliki sistem imun buruk, berusia 65 tahun ke atas, atau memiliki kondisi tekanan darah tinggi dan diabetes.

Di luar mereka yang memiliki risiko tinggi, satu dari tiga penderita breaktrough infection bahkan tidak mengalami gejala apa pun, demikian paparan American Medical Association.

Intinya, vaksin tetap sangat bagus untuk mencegah gejala berat hingga dilarikan ke rumah sakit, bahkan kematian.

Pemilik sistem imun rendah

Ya, mereka yang memiliki sistem imun rendah atau lanjut usia lebih rentan terhadap infeksi.

Dalam sebuah studi di jurnal Clinical Microbiology and Infection, semua pasien yang mengalami breakthrough infection, dan dilarikan ke RS, ternyata merupakan penderita hipertensi dan diabetes.

Sementara itu, sampel CDC menyebutkan, mereka yang menglami breaktrough infection dengan gejala berat atau dilarikan ke RS sebagian besar (74 persen) merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas.

Lalu, seiring berkembangnya varian Covid-19, muncul perdebatan apakah diperlukan atau tidak suntikan booster (tambahan).

Pada 13 Agustus lalu, U.S. Food and Drug Administration mengatakan, suntikan booster dibutuhkan bagi beberapa penderita immunocompromised agar lebih terlindungi.

Kendati demikian, mereka yang telah divaksin namun bukanlah immunocompromised, belum bisa mendapatkan suntikan ketiga.

Tetap berhubungan dengan dokter

Lalu, jika kita merasa mengalami breakthrough infection, kita harus tetap melakukan tes kembali dan melakukan isolasi mandiri.

William Schaffner, MD, ahli penyakit menular di Vanderbilt University, Nashville, memberikan alasannya.

Dia mengatakan, mereka yang tertular namun telah divaksin tetap bisa menularkan pada orang lain, meski ketahanan virus jauh lebih pendek.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu mengontak dokter via hubungan telepon atau live chat meski tidak merasakan gejala berat.

Dokter akan membantu mengawasi perkembangan infeksi, dan dapat memerintahkan kita ke RS jika diperlukan.

Tetap jaga protokol kesehatan

Pada bulan Juli lalu, CDC memperbarui pedoman penggunaan masker, dan bagi mereka yang telah divaksin pun harus tetap mengenakan masker di ruangan tertutup di tempat umum.

“Dengan berkembangnya varian Delta yang lebih mudah menular, saya berpikir bahwa mengenakan masker di tempat umum, kerumunan, atau di sekitar mereka yang belum divaksin merupakan hal wajib,” ujar Beth Oller, seorang dokter asal Kansas.

Vaksin perlu

Meski kita masih bisa mengalami breakthrough infection, Oller menegaskan vaksinasi tetaplah pertahanan terbaik dalam melawan Covid-19.

Apalagi, vaksin yang telah ada sekarang tetap efektif dalam melawan varian Delta.

“Vaksinasi, mengenakan masker, menghindari kerumunan, semuanya dapat menurunkan risiko breakthrough infection,” tegas dia.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/09/01/134137320/breakthrough-infection-saat-tertular-covid-19-setelah-vaksinasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.