Salin Artikel

Pandemi Bikin Orang Indonesia Tidak Bahagia, Apa Pemicunya?

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 memberikan dampak buruk pada kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia.

Hal ini disimpulkan dari penelitian yang dilakukan kepada 3.686 responden dari 33 provinsi di Indonesia. Riset dilakukan oleh Aulia Iskandarsyah, M.Psi, pakar psikologi medis dari Universitas Padjajaran.

Hasilnya, 72 persen partisipan mengaku mengalami kecemasan sedangkan 23 persen melaporkan merasa tidak bahagia.

Gejala kecemasan yang dilaporkan termasuk kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir yang berlebihan, mudah marah dan kesal, serta adanya perasaaan sulit untuk rileks.

Analisis regresi berganda menemukan hal tersebut berkaitan dengan jumlah dan frekuensi pencarian informasi yang berkaitan dengan Covid-19.

Sedangkan, informasi tentang pengobatan dan skrining, perilaku pencegahan kesehatan yang dilakukan dan latihan fisik secara teratur, terkait pada tingkat kecemasan yang lebih rendah.

Tingkat kebahagiaan yang rendah terjadi karena jumlah dan frekuensi pencarian informasi serta keharusan untuk melakukan physical distancing.

Di sisi lain, tingkat kebahagiaan meningkat karena kaitannya dengan perilaku pencegahan kesehatan yang dilakukan dan latihan fisik secara teratur.

Riset ini juga menyatakan orang dengan status pekerjaan buruh dan kondisi sosial ekonomi rendah berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah.

Pada orang-orang tersebut, gejala depresi yang dilaporkan misalnya saja masalah tidur, kurangnya kepercayaan diri, kelelahan, dan kehilangan minat.

Pentingnya tidur untuk menjaga kondisi kesehatan mental

Inez Kristanti, psikolog klinis mengatakan kondisi kesehatan mental yang memburuk ini tak lain merupakan dampak dari kepenatan yang dirasakan selama pandemi. 

Demi terhindar dari virus, kita diharuskan melakukan berbagai aktivitas di rumah termasuk bekerja. Hal ini membuat banyak orang kesulitan mendapatkan istirahat yang cukup dan berkualitas.

Hal ini pula yang dapat memicu perasaan tidak bahagia, kecemasan dan berbagai emosi negatif lainnya.

Ia menyarankan, untuk memisahkan lokasi kerja dengan area tidur untuk meningkatkan kualitas istirahat malam kita.

"Kalau kerja dan tidur di tempat yang sama, tubuh jadi enggak terkondisikan untuk istirahat," terangnya secara daring pada Kamis (02/09/2021).

Selain itu, pakar kesehatan mental ini menganjurkan praktik pengaturan pernapasan dengan metode 4-7-8. Caranya, bernafas selama empat ketukan, tahan selama tujuh ketukan dan hembuskan selama delapan ketukan.

Hal ini memudahkan kita untuk beristirahat di malam hari, yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kesehatan mental maupun fisik yang prima.

Sejumlah praktik relaksasi lainnya juga bisa memudahkan kita untuk tidur termasuk dengan gerakan peregangan.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/09/02/162713520/pandemi-bikin-orang-indonesia-tidak-bahagia-apa-pemicunya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.