Salin Artikel

Langkah Bijak Menghadapi Orang yang Masih Ragukan Vaksin Covid-19

KOMPAS.com - Masih banyak orang yang enggan divaksin Covid-19 karena ragu akan efektivitas dan khawatir mengenai efek sampingnya.

Keraguan ini membuat program vaksinasi pemerintah yang dilaksanakan belum bisa berjalan dengan optimal. Selain itu, orang yang belum divaksin juga membawa risiko menularkan virus pada sekitarnya.

Jika menemui orang yang meragukan vaksin di sekitar kita, dianjurkan untuk tidak langsung menudingnya sebagai anti vaksin.

Kecemasan akan produk kesehatan tersebut amat wajar, apalagi dengan berbagai informasi soal efek vaksin yang menyebar di media sosial.

Selain itu, ada banyak inovasi kesehatan dan istilah asing yang mungkin menambah keraguan tersebut.

Oleh sebab itu, cara terbaiknya adalah menghadapi orang tersebut dengan kebaikan hati dan sikap tidak menghakimi.

Sebaliknya, kita disarankan untuk bersikap terbuka dan informatif agar orang tersebut paham pentingnya menyegerakan vaksin.

Tidak semua orang yang belum divaksin adalah anti vaksin

Ada banyak alasan yang membuat seseorang masih enggan divaksin, bukan hanya karena anti vaksin.

Menurut, Kaiser Family Foundation Covid-19 Vaccine Monitor sekitar 16 persen orang ingin mendapatkan vaksin sesegera mungkin. Namun mereka menunggu untuk melihat bagaimana vaksin mempengaruhi orang lain atau akan mendapatkan vaksin jika diharuskan.

Survei yang sama menemukan bahwa 20 persen orang yang tidak divaksinasi khawatir akan efektivitasnya karena terlalu baru dan proses produksinya yang cepat. 

Sebaliknya, hanya 4 persen orang yang tidak divaksinasi yang mengatakan alasan utama mereka tidak mempertimbangkan vaksin covid-19 adalah karena mereka “tidak mempercayai vaksin secara umum.”

Hilangkan bias dan asumsi negatif

Hilangkan semua bias dan anggapan negatif soal orang yang belum mau divaksin. Penyebaran soal teori konspirasi vaksin tidak ada hubungannya dengan ras, pendidikan, suku maupun agama.

Pertimbangkan bahwa orang tersebut mungkin hanya bersikap waspada dan butuh lebih banyak data kesehatan. Sadarilah bahwa pemikiran setiap orang itu rumit dan mungkin alasan mereka tidak divaksin itu bersifat pribadi.

Bangun percakapan yang terbuka

Cobalah membangun percakapan yang terbuka soal Covid-19 tanpa melibatkan emosi. Kebanyakan orang memang masih mempertanyakan apakan virus tersebut nyata dan berbagai teori konspirasi lainnya.

Daripada langsung menilai pemikiran orang itu, ajaklah berdiskusi dengan data-data yang kuat. Sampaikan soal informasi yang kita miliki secara akurat tanpa bersikap emosional.

Mungkin saja mereka akan berubah pikiran setelah mendengar penjelasan kita. Namun janga terpancing emosi jika mereka tetap bersikukuh dengan pendapatnya.

Bersikap baik dan sopan

Mungkin kita merasa kesal dan sulit memahami pola pikir orang yang enggan divaksin. Namun jangan sampai itu membuat kita bersikap atau berkata-kata kasar.

Orang tersebut mungkin akan langsung menutup diri jika kita berkata atau berbuat yang tidak sopan. Sampaikan semua informasi yang kita miliki dengan sopan dan lembut agar lebih bisa diterima.

Pahami kendalanya

Penting untuk memahami alasan seseorang masih belum divaksin Covid-19 sampai saat ini. Mungkin saja mereka takut disuntik, sulit mengakses fasilitas kesehatan atau mendengar banyak kabar miring soal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Tanyakan alasan mereka, tentunya dengan cara yang baik dan sopan. Mungkin saja kita bisa membantu mereka misalnya mencarikan slot vaksin terdekat sesuai dengan kebutuhannya.

Gunakan kalimat sederhana

Penggunaan kalimat yang singkat dan sederhana khususnya jika kita berkomunikasi via chatting atau media sosial seperti postingan Facebook, balasan Twitter, dan komentar Instagram.

Hal ini berguna untuk menekan risiko kalimat kita disalahpahami oleh orang lain. Pastikan tidak berkata kasar, hate speech atau malah melakukan bullying.

Jika merasa perlu menanggapi seseorang yang memposting tentang keraguannya soal vaksin, pilih cara yang lebih pribadi, seperti mengirim DM.

Sesuaikan argumen

Sesuaikan argumen kita dengan narasi dan pendapat orang tersebut. Dialog kita akan lebih efektif jika menekankan manfaat vaksin tersebut bagi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.

Daniel Croymans, dokter di University of California, Los Angeles baru-baru ini memimpin sebuah penelitian yang menemukan bahwa bahasa "kepemilikan" membantu orang-orang agar lebih cepat divaksin.

Bahasa kepemilikan mengacu pada kata-kata yang menunjukkan bahwa vaksinasi terserah pada orang tersebut: “Klaim dosis Anda” atau “Vaksin telah tersedia untuk Anda,” misalnya.

Dalam studi Croymans, teks dengan bahasa kepemilikan lebih berhasil membuat orang tua mau divaksin dibandingkan teks yang menyertakan pesan informasi.

“Jika Anda pikir itu milik Anda, maka Anda akan lebih menghargai dan menghargainya,” kata Croymans.

Croymans mengatakan penelitian ini menyoroti pentingnya menciptakan pesan pribadi yang memberdayakan daripada mempermalukan orang-orang yang ragu-ragu terhadap vaksin.

Siapa pun yang ingin membantu membujuk orang lain untuk mendapatkan vaksin dapat mencoba taktik yang sama.

Saat berbicara dengan orang yang tidak divaksinasi, pertimbangkan kekhawatiran spesifik orang tersebut dan cobalah untuk mengatasinya dengan cara yang terasa relevan.

Jangan menggunakan jargon atau omong kosong. Ulangi kekhawatiran yang telah dibagikan orang tersebut untuk menunjukkan bahwa kita mendengarkan dan pikirkan apa yang dapat meyakinkan diri kita jika merasakan hal yang sama.

Berikan pengaruh baik

Pemerintah Indonesia sejak awal mengajak Ariel Noah dan Raffi Ahmad untuk mengkampanyekan vaksin. Keduanya dianggap sebagai influencer yang perilakunya diikuti dan dihargai banyak orang.

Perilaku mereka dianggap sebagai testimoni positif agar lebih banyak orang mau divaksin. Kita bisa menerapkan hal serupa untuk orang di sekitar.

Misalnya dengan menceritakan pengalaman dan keraguan yang sempat kita miliki serta bagaimana sampai akhirnya yakin untuk divaksin. Jelaskan soal manfaatnya dari sudut pandang pribadi untuk memberikan masukan yang lebih efektif.

Siapkan data

Siapkan data yang penting untuk mendukung dialog kita soal manfaat vaksin Covid-19. Gunakan pendekatan yang tepat termasuk sains, agama, maupun budaya.

Pilih mana yang paling cocok untuk orang tersebut agar diskusi bisa berjalan lancar. Jangan menggunakan pendekatan agresif dengan tema yang tidak dipahami orang tersebut karena pasti hanya akan memicu penolakan.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/09/17/135237520/langkah-bijak-menghadapi-orang-yang-masih-ragukan-vaksin-covid-19

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.