Salin Artikel

5 Kondisi Perempuan Perlu ke Dokter Kandungan Meski Masih Lajang

KOMPAS.com - Masih banyak perempuan belum terlalu memperhatikan kesehatan reproduksinya. Kebanyakan di antaranya merasa belum perlu melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi karena belum menikah.

Padahal, ada beberapa kondisi yang membuat seorang perempuan perlu memeriksakan diri ke Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) atau dokter kandungan.

Belum lama ini, sebuah unggahan di Twitter mengajak perempuan untuk tidak ragu pergi ke dokter Obgyn meski belum menikah, untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi.

"Gue abis cek USG!! Mau kasih tau, penting banget buat rutin cek ke dokter obgyn minimal setahun sekali, karena menyangkut kesehatan diri sendiri dan kalau mau punya anak, juga menyangkut kesehatan anak di masa depan nanti."

"Gue kesini (dokter Obgyn) karena gue kalo lagi menstruasi tuh bisa ampe tumpah-tumpah, banyak banget. Jadi akhirnya kakak gue ajak gue buat periksa rahim, Alhamdulillah normal dan sehat. Ternyata penyebabnya? Obesitas dan gaya hidup pas masih remaja. Iya, dampaknya sekarang," demikian isi tweet tersebut.

Jadi, kondisi apa saja yang membuat seorang perempuan perlu melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi, termasuk jika belum menikah?

Dr Muhammad Yusuf, Sp OG (K) Onk menuturkan, menurut rujukan dari berbagai perkumpulan dokter kandungan, tidak ada standar interval khusus kapan seorang perempuan disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi.

Namun, perempuan tetap dianjurkan melakukan skrining untuk mengidentifikasi potensi masalah kesehatan, misalnya untuk mendeteksi kanker payudara, kanker serviks, dan organ reproduksi secara umum.

Kanker payudara, misalnya, bisa terjadi bahkan pada perempuan remaja, terutama jika memiliki riwayat kanker payudara di keluarga.

Menurut Yusuf, kelompok perempuan yang berisiko menderita kanker payudara disarankan melakukan kunjungan ke dokter lebih sering dibandingkan orang yang tidak memiliki risiko.

"Jika tidak punya risiko di keluarga, kapan harus USG payudara atau pemeriksaan, bisa dimulai di atas usia 40 tahun," katanya kepada Kompas.com.

Sementara untuk kanker serviks, pada perempuan yang belum menikah, pemeriksaan bisa dilakukan berbarengan dengan vaksinasi HPV. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dan usia di atas 25 tahun dianjurkan skrining setiap tiga tahun sekali.

Sedangkan pemeriksaan organ reproduksi secara umum, tak ada anjuran waktu tertentu untuk melakukan pemeriksaan, kecuali terdapat keluhan.

"Walau begitu, saya sarankan 2-3 tahun adalah interval yang cukup untuk kelompok yng tidak berisiko," kata dokter yang berpraktik di Eka Hospital BSD itu.

  • Jika ada keluhan nyeri menstruasi yang sampai mengganggu aktivitas harian.
  • Mengalami pendarahan menstruasi yang banyak, biasanya sudah mengakibatkan anemia, lemas, hingga hemoglobin (Hb) rendah.
  • Lama menstruasi melebihi 14 hari.
  • Merasakan ada benjolan di perut.
  • Nyeri di luar masa menstruasi.

"Intinya kalau sudah ada keluhan atau sesuatu yang tidak normal di tubuh, saatnya mengunjungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucap Yusuf.

Menurut Yusuf, pasien bisa memulai dengan meminta dokter membantunya mengidentifikasi apakah organ reproduksinya masih sehat secara anatomi.

Bagi perempuan yang belum menikah, pendekatannya bisa menggunakan Abdominal ultrasonography (USG perut) atau Transrectal ultrasonography (USG melalui anus).

Pilihan konsultasi awal melalui telemedicine juga bisa digunakan. Namun, pada telemedicine dokter tidak bisa melakukn pemeriksaan fisik dan penunjang.

Oleh karena itu, pemeriksaan lanjutan harus tetap dilakukan secara offline.

"Pemeriksaan awal bisa melakukan konsultasi (telemedicine) saja tapi pertemuan berikutnya harus segera dikerjakan pada pemeriksaan offline."

"Hasil pemeriksaan offline bisa disampaikan dengan pemeriksaan online jadi akan lebih komprehensif kalau," kata Yusuf.

Jika bingung dengan banyaknya pilihan pemeriksaan kesehatan reproduksi, beberapa rumah sakit kini sudah menyediakan paket pemeriksaan.

"Sekarang rumah sakit banyak memberikan paket skrining yang disesuaikan dengan kasus-kasus yang paling banyak terjadi di populasi," ucapnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/10/05/211443920/5-kondisi-perempuan-perlu-ke-dokter-kandungan-meski-masih-lajang

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.