Salin Artikel

8 Alasan Mengapa Perempuan Berselingkuh

KOMPAS.com - Selama ini, dalam kehidupan sosial, laki-laki sering digambarkan sebagai gender yang lebih suka berselingkuh dibandingkan dengan perempuan.

Tetapi, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan gender perselingkuhan semakin menyempit, terutama di kalangan orang yang lebih muda.

Misalnya, sebuah studi dari The Kinsey Institute di Indiana University menemukan bahwa di antara peserta dengan usia rata-rata 31 tahun, tidak ada perbedaan gender yang signifikan dalam laporan perselingkuhan (23 persen laki-laki vs 19 persen perempuan).

Bahkan, Survei Sosial Umum (GSS) dari National Opinion Research Center juga menunjukkan bahwa persentase wanita yang selingkuh meningkat hampir 40 persen dari tahun 1990-2010, sementara tingkat perselingkuhan pria tetap stabil di angka 21 persen.

Beberapa mengaitkan peningkatan perselingkuhan ini karena adanya peningkatan tanggung jawab yang membuat kebutuhan dan keinginan perempuan modern juga semakin meningkat.

Melalui sudut pandang feminis dan kebebasan finansial, perempuan saat ini cenderung diposisikan lebih baik untuk mencari kepuasan emosional maupun seksual yang hilang dalam hubungan mereka.

"Kesenjangan bergeser ketika perempuan pergi bekerja, memiliki uang, dan pilihan untuk diri mereka sendiri. Dengan adanya pilihan, orang mencari apa yang disukai," jelas terapis pernikahan dan seks, Angela Skurtu M.Ed, LMFT.

Menurut dia, sekarang para perempuan lebih mengharapkan kebahagiaan, seks yang baik, sahabat, dan mungkin karir yang cemerlang, sama seperti laki-laki.

Di luar semua itu, ada beberapa alasan lain mengapa perempuan berselingkuh. Nah, untuk mengetahuinya lebih lanjut, Skurtu menjelaskannya seperti berikut ini.

1. Ketidakpuasan dalam hubungan

Hal ini dapat dilihat sebagai tema yang mendasari mayoritas motivasi perselingkuhan.

"Ketidakpuasan adalah awal mulanya," ujar Skurtu.

"Orang-orang yang berselingkuh mengatakan bahwa mereka berada dalam kondisi yang buruk," lanjut dia.

Ketika kesempatan untuk berselingkuh muncul, alih-alih menghentikannya, banyak yang justru melintasi batas.

Kebanyakan orang menjadikan kondisi yang menurutnya buruk sebagai alasan untuk membenarkan perilaku mereka ketika berselingkuh.

Tidak menemukan kepuasan dalam hubungan saat ini dapat memicu seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mencari kepuasan itu di tempat lain.

Beberapa orang bahkan menggunakan perselingkuhan (baik disadari atau tidak) sebagai cara untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan.

2. Harga diri yang rendah

Ketika perempuan memiliki harga diri (self-esteem) yang rendah, hal itu dapat mendorong mereka untuk mencari perhatian dari orang lain.

"Ketika ada orang yang menganggap kita menarik dan mulai menunjukkan perhatian yang terasa sangat menyenangkan, kita cenderung terhanyut," kata Skurtu.

Perempuan yang berselingkuh juga mungkin menggunakan perselingkuhan sebagai bukti bahwa mereka menarik dan bernilai.

Ketika satu hubungan asmara terasa hambar, akan ada rasa diabaikan atau tidak berharga, sehingga mereka mengejar minat romantis yang baru dan siklus itu berlanjut.

3. Ingin memenuhi kebutuhan emosional

Sementara penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang selingkuh dimotivasi oleh seks, perempuan yang selingkuh cenderung melakukannya untuk memenuhi kebutuhan emosional.

Dan dalam kasus perselingkuhan emosional, seks sama sekali bukan tujuan.

Apakah perselingkuhan itu bersifat fisik atau emosional, perempuan mungkin berselingkuh karena mereka mendambakan percakapan, empati, rasa hormat, pengabdian, pemujaan, dukungan, atau hubungan lain yang tidak ditemui dalam hubungan mereka saat ini.

"Beberapa orang meyakinkan diri mereka bahwa emosional bukanlah perselingkuhan yang nyata. Namun, sebagian besar perselingkuhan seksual dimulai dari emosional," jelasnya.

4. Kemarahan atau pembalasan

Beberapa perempuan memiliki gambaran ideal tentang bagaimana pasangan mereka harus berperilaku.

Ketika pasangan gagal memenuhi harapan dan tidak dapat memenuhi setiap kebutuhan atau keinginan mereka, hal itu dapat menciptakan perpecahan yang memberikan dorongan untuk berselingkuh.

Tak sedikit perempuan yang membenci pasangannya karena alasan lain seperti perselingkuhan pasangannya di masa lalu, dan menggunakan perselingkuhan mereka sendiri sebagai pembalasan.

5. Kurang merasa bahagia

Kita mungkin pernah mendengar istilah serial cheater atau orang yang berselingkuh karena sensasinya.

Mereka biasanya merindukan interaksi yang dipicu oleh endorfin, yang membuat hubungan baru menjadi begitu menarik.

"Saya pikir sebagai masyarakat kita tidak secara jujur membahas betapa membosankannya pekerjaan dan kehidupan keluarga pada waktu-waktu tertentu," terang Skurtu.

Faktanya, sebuah penelitian di situs kencan perselingkuhan AshleyMadison.com menemukan bahwa 67 persen wanita heteroseksual yang menikah berselingkuh untuk mencari gairah romantis.

Seperti laki-laki, banyak juga perempuan yang berselingkuh sekedar karena sensasi, bukan ingin meninggalkan suami mereka.

6. Ketidakpuasan seksual

Tidak puas secara seksual yang dialami oleh perempuan bisa juga membuat mereka berselingkuh, walau alasan ini tidak populer.

Faktanya, rata-rata perempuan yang berselingkuh mengakui bahwa mereka tidak lagi mengalami perasaan mendebarkan dan gairah dalam hubungannya, dan merindukan hal itu.

Meski demikian, Skurtu percaya perselingkuhan jenis ini secara historis berpusat pada pria alias lebih banyak dilakukan pria.

"Mungkin ada ekspektasi bahwa pada titik tertentu, seks bukanlah bagian besar dari pernikahan sehingga selingkuh adalah hal yang diperlukan perempuan," tuturnya.

7. Kesepian

Perempuan yang berselingkuh mungkin memiliki pasangan yang bekerja sepanjang hari, meninggalkan mereka di rumah bersama anak-anak terus menerus.

Mungkin mereka kehilangan tempat untuk berbagi, bercerita, berkeluh kesah, sehingga mencarinya pada sosok lain.

"Apa pun alasannya, kesepian atau perasaan terisolasi dapat menjadi alasan yang sempurna untuk sebuah perselingkuhan," ungkap Skurtu.

"Ketika seseorang merasa kesepian dan ada orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan yang didambakan, maka perselingkuhan bisa terjadi," tambah dia.

8. Keterikatan yang tidak aman

Teori keterikatan menunjukkan bahwa masa kanak-kanak dapat memengaruhi bagaimana kita memandang dan berperilaku dalam hubungan kita sebagai orang dewasa.

Cara pengasuhan yang diterima anak akan menentukan gaya keterikatan sebagai orang dewasa, yakni aman, tidak aman/cemas, atau menghindar.

Orang-orang yang mengidentifikasikan diri dengan gaya keterikatan yang tidak aman/cemas dan penghindar lebih cenderung menunjukkan karakteristik yang mengganggu hubungan romantis yang sehat.

Selain itu, mereka lebih cenderung berselingkuh karena mereka mencari kepastian dari pihak ketiga karena mengalami kecemasan pada hubungan dengan pasangan resminya.

"Perasaan pernah sepenuhnya bahagia atau aman dalam diri sendiri ini menjadi alasan mengapa perempuan berselingkuh," imbuhnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/10/09/080129620/8-alasan-mengapa-perempuan-berselingkuh

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.