Salin Artikel

Tantangan Pebisnis Kuliner di Masa Pandemi dan Tren Kuliner Tahun Depan

KOMPAS.com - Banyak bisnis yang terkena dampak akibat pandemi, termasuk bisnis kuliner atau food and beverages (F&B).

Tidak sedikit pemilik restoran dan tempat makan yang harus menutup usahanya sementara waktu, atau selamanya.

Kondisi ini juga dirasakan oleh Chef Ragil Imam Wibowo.

Dalam acara Road to Weekend Festival yang diadakan virtual oleh Harian Kompas pada Rabu (22/12/2021), Ragil mengaku sejumlah usaha miliknya harus ditutup karena konsep bisnis yang tidak sejalan dengan situasi pandemi.

Para tamu yang berkunjung ke restorannya lebih senang makan di tempat (dine in), ketimbang memesan makanan untuk dibawa pulang.

"Selama pandemi, kita tahu cara bisnis berubah. Kita selama ini bermain secara offline," terang Ragil.

"Kita juga berusaha untuk online, tetapi karena tamu-tamu kita lebih senang datang ke restoran, online kita belum sebaik offline."

Namun setidaknya, ia bersyukur tidak merasakan apa yang dialami pebisnis kuliner di mall atau pusat perbelanjaan.

"Untuk pengusaha kuliner atau tenant di mall, saya sedih dengernya. Semua permasalahan hampir mirip."

Menurut Ragil, banyak tenant di mall yang kesulitan memeroleh keringanan biaya sewa kendati bisnis sedang anjlok.

Lebih lanjut ia memaparkan, masalah lain yang dialami rata-rata pebisnis kuliner --termasuk dirinya-- yakni penjualan frozen food yang menurun.

"Di restoran kita, kita sudah berpikir bahwa orang-orang di rumah ingin masak sendiri. Kita pun menjalankan bisnis frozen food untuk beberapa lama," tutur Ragil.

"Tetapi di tengah-tengah momen di mana kita menemukan cara berjualan baru, ada kabar yang tidak enak. Beberapa teman kemudian ditanya masalah perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)."

Ragil mengaku tidak siap dengan perizinan terkait berjualan frozen food ini lantaran tidak ada imbauan sebelumnya.

Apalagi, ia mengetahui bahwa denda yang dikenakan kepada pebisnis relatif besar jika frozen food yang dijual tidak sesuai dengan aturan BPOM.

"Kita mau coba ngurus ke BPOM, perlu waktu lama juga kan," ungkap pria tersebut.

"Pada akhirnya kita setop dulu penjualan frozen good di e-commerce dan Instagram. Paling kita hanya berjualan di WhatsApp untuk tamu-tamu yang memang sudah langganan."

Pengalaman serupa juga dialami oleh pegiat kuliner Santhi Serad.

"Beberapa bulan lalu sempat beredar di WhatsApp mengenai perizinan tentang makanan beku. Perizinan ini agak menyulitkan kita sebagai pelaku bisnis makanan," cetus Santhi.

"Restoran kita juga punya beberapa produk makanan beku, tetapi akhirnya hanya kita jual kepada relasi-relasi via WhatsApp."

Ragil dan Santhi berharap agar pemangku kebijakan dapat membuat aturan yang jelas namun tidak merugikan pebisnis kuliner.

"Kita melihat akan lebih baik apabila hal-hal seperti ini dirangkul, perizinan dipermudah. Karena banyak sekali pebisnis yang tidak mengerti aturan ini," kata Ragil.

"Masalah ini juga dialami oleh UMKM. Padahal, frozen food itulah yang bisa menyambung hidup mereka di masa sekarang."

"Peraturan-peraturan semacam ini mungkin yang sebaiknya lebih dipermudah. Apalagi saat ini semua serba online, harusnya bisa lebih cepat," tambah Santhi.

Tren kuliner di tahun 2022

Diskusi ini juga membahas seperti apa tren kuliner di tahun depan.

Menurut Ragil, makanan berbasis nabati (plant-based) akan kian digemari, catat dia.

"Kalau ngomongin plant-based, Indonesia sebenarnya kaya akan makanan plant-based," terangnya.

"Kita ambil contoh nangka muda. Makanan ini menjadi makanan plant-based yang dicari di seluruh dunia, karena teksturnya paling mirip dengan daging."

"Sayangnya hal ini belum ditangkap sama petani kita di Indonesia. Untuk nangka muda, kita justru ekspor dari kebun-kebun di Vietnam," terangnya lagi.

Di sisi lain, Santhi memandang tren kuliner di tahun depan berkutat pada pilihan makanan yang lebih sehat.

"Ke depannya, saya lihat pola makan vegetarian, flexitarian, dan reducetarian akan semakin dipilih," ujar Santhi.

"Banyak orang sudah ke arah sana, mengurangi konsumsi daging dan meningkatkan asupan sayuran dan buah-buahan. Toko makanan dan toko online juga sudah mulai menjual makanan sehat."

"Makanan dan minuman fungsional, termasuk minuman probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan akan semakin booming. Jamu juga sama, dengan kemasan yang menarik dan trendi untuk anak-anak generasi sekarang," tambahnya.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/12/24/124921220/tantangan-pebisnis-kuliner-di-masa-pandemi-dan-tren-kuliner-tahun-depan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.