Salin Artikel

Pakai Label "Made in USA", New Balance Digugat Konsumen, Kenapa?

Karena baru-baru ini, produsen sepatu yang berpusat di AS, New Balance, digugat oleh lima konsumennya. 

Para penggugat berargumen, NB telah menyesatkan pelanggan dengan memasarkan banyak sepatunya dengan tag marketing "Made in USA".

Padahal, sebanyak 30 persen dari isi sepatu tersebut -mereka yakini- sebenarnya diproduksi di luar negeri dengan menggunakan tenaga kerja asing.

Selain menyesatkan pelanggan, hal ini juga bertentangan dengan peraturan yang ditetapkan oleh Federal Trade Commission (FTC).

FTC menetapan perusahaan hanya dapat memberi label produk sebagai "Made in USA" jika tidak ada konten asing di dalamnya sama sekali.

Kasus ini pun menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang apakah konsumen benar-benar dapat memercayai label "Made in USA"?

Dan, apakah mereka akan terus membayar mahal untuk barang yang diklaim sebagai buatan AS?

Ini adalah masalah yang terus mendapatkan perhatian, karena akhirnya beberapa perusahaan mempertimbangkan untuk mengalihkan manufaktur kembali ke AS, guna menghindari gangguan yang bisa melumpuhkan rantai pasokan.

Mengklaim sebagai buatan AS

Selama beberapa dekade, NB telah mencap diri sebagai perusahaan sepatu buatan AS.

Pada kotak sepatunya pun, New Balance dengan bangga menyatakan, sepatu itu telah dibuat di AS selama lebih dari 75 tahun.

Tetapi, selama tiga dekade terakhir, New Balance telah berulang kali mendapat kecaman karena salah mengartikan produknya.

Berdasarkan investigasi Wall Street Journal dari tahun 2014, terungkap, hanya sekitar 70 persen dari sepatu New Balance yang menunjukkan material dan tenaga kerjanya berasal dari AS.

Dan pada 1990-an, FTC melakukan tindakan penegakan hukum terhadap NB karena membuat klaim tentang manufaktur dalam negeri. Tetapi, kemudian FTC membatalkannya setelah pertempuran hukum yang kontroversial.

Ada pun kelima konsumen yang mengajukan gugatan terbaru pada bulan Desember lalu berpendapat bahwa NB sengaja menjual beberapa sepatu dengan menampilkan bendera AS dan kata "USA" di lidah sepatu.

Langkah itu -tentu saja, dilakukan untuk menunjukkan bahwa sepatu tersebut dibuat di AS.

Gugatan tersebut -seperti disebut di atas, juga mengungkapkan, sepatu New Balance mengandung sebanyak 30 persen bahan yang dibuat di luar negeri.

Masalahnya, banyak konsumen yang kemudian tertipu dan bersedia membayar lebih untuk produk yang mereka yakini dibuat di AS.

Sementara itu, penelitian tahun 2019 dari Alliance for American Manufacturing dan FTC juga menunjukkan bahwa 60 persen konsumen bersedia membayar hingga 10 persen lebih mahal untuk produk buatan AS.

"Ada nilai nyata yang terkait dengan label 'Made in the USA'. Jadi, memastikan label dijaga, dilindungi, dan ditegakkan dengan baik sangat penting."

Demikian penuturan Presiden Alliance for American Manufacturing, Scott Paul.

Benar dibuat di AS?

Namun menurut laman Fast Company, New Balance mengaku bahwa 70 persen sepatunya yang diberi label "Made in USA" benar-benar dibuat di AS.

New Balance juga menyebutkan, perusahaan mereka memiliki empat pabrik di New England yang mempekerjakan sekitar 1.000 pekerja AS untuk membuat sepatu tersebut.

Namun faktanya, bagaimana pun juga definisi internal New Balance tentang apa artinya "Made in USA" telah bertentangan dengan definisi hukum yang ditetapkan oleh FTC.

Masa depan merek buatan AS

Sebagian besar perusahaan AS diketahui berfokus untuk menemukan biaya tenaga kerja serendah mungkin selama bertahun-tahun.

Hal inilah yang mendorong mereka untuk mencari pabrik di negara-negara berupah rendah seperti China dan Bangladesh.

Tetapi menurut Willy Shih, seorang profesor di Harvard Business School  dengan spesialisasi dalam masalah manufaktur dan rantai pasokan, sekarang ada biaya baru yang perlu dipertimbangkan para produsen.

Terutama dua tahun terakhir, sejak pandemi menyebabkan gangguan besar dalam rantai pasokan global dan membuat biaya pengiriman melonjak.

"Mereka harus bergulat dengan banyak biaya produksi lainnya. Mulai dari pengiriman hingga inventaris yang tertunda," ungkap Shih.

Sehingga, mau tidak mau, beberapa produsen fesyen harus mengalihkan sebuah tempat atau lokasi di wilayah AS untuk menjadi pusat manufaktur mereka.

"Ini akan memakan waktu bagi perusahaan untuk mengatur rantai pasokan domestik," kata Paul.

"Namun pada akhirnya, kita dapat melihat lebih banyak merek membuat produk dengan aturan ketat FTC tentang apa yang dapat diberi label 'Made in USA' dan konsekuensinya," ujar dia.

Di satu sisi, ini juga memungkinkan konsumen untuk lebih percaya terhadap barang-barang berlabel "Made in USA", yang sesungguhnya dan bahkan membayar mahal untuk itu.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/01/07/152522020/pakai-label-made-in-usa-new-balance-digugat-konsumen-kenapa

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.