Salin Artikel

Terungkap, Infeksi Covid-19 Serang Kesehatan Mental Jangka Panjang

Kendati demikian, sebuah penelitian baru menunjukkan, Covid-19 sendiri dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.

Sebuah penelitian baru yang diterbitkan di jurnal The BMJ menyebutkan, orang yang tertular dan selamat dari Covid-19 memiliki risiko tinggi mengalami berbagai gangguan kesehatan mental.

Bahkan, gangguan tersebut bisa berlangsung hingga satu tahun setelah fase akut penyakit. .

Masalah kesehatan mental tersebut antara lain adalah gangguan kecemasan dan depresi, gangguan penggunaan opioid, dan gangguan tidur.

"Yang paling mengejutkan adalah risiko gangguan mental ini juga terjadi pada orang-orang yang menderita Covid-19 ringan dan tidak memerlukan rawat inap."

Demikian dikatakan peneliti utama dalam riset ini, Direktur Pusat Epidemiologi Klinis di Veterans Affairs St. Louis Health Care System, Ziyad Al-Aly.

Untuk penelitian ini, peneliti menggunakan data dari ratusan ribu pasien yang sempat dinyatakan positif Covid-19 melalui tes polymerase chain reaction (PCR) antara Maret 2020 dan Januari 2021.

Rata-rata, semua pasien tersebut tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan mental selama minimal dua tahun sebelum dinyatakan positif Covid-19.

Para peneliti kemudian membandingkan perkembangan kesehatan mental para pasien tersebut dengan dua kelompok orang yang belum pernah tertular Covid-19.

Kelompok pertama merupakan mereka yang tidak terinfeksi, tetapi mengalami tantangan pandemi yang sama seperti isolasi, pengangguran, dan kehilangan orang yang dicintai.

Sementara kelompok kedua merupakan pasien penderita gangguan kesehatan mental dari masa prapandemi antara Maret 2018 hingga Januari 2019.

Hasilnya, ditemukan, mantan pasien Covid-19 masing-masing 41 persen dan 39 persen lebih mungkin menderita gangguan tidur dan depresi jika dibandingkan dengan dua kelompok tersebut.

Selain itu, mereka juga 35 persen lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dan 38 persen lebih mungkin menderita stres serta gangguan penyesuaian, seperti post-traumatic stress disorder (PTSD).

Untungnya, hanya 4,4-5,6 persen dari peserta penelitian yang didiagnosis menderita depresi, kecemasan, stres, dan gangguan penyesuaian.

Lalu, para peneliti juga menemukan, pasien Covid-19 memiliki peningkatan risiko untuk masalah gangguan kognitif seperti kabut otak dan kebingungan sebanyak 80 persen.

Selain itu, Covid-10 juga membuat 55 persen dan 65 persen lebih mungkin untuk masing-masing diberi resep antidepresan dan obat kecemasan.

"Pasien dengan depresi dan kecemasan juga tidak merespons pengobatan dengan baik. Covid telah menghasilkan jenis kecemasan dan depresi berbeda yang lebih sulit diobati.”

Demikian kata Kepala Departemen Forensik dan Psikiatri The Autonomous University of Barcelona, Antonio Bulbena.


Bagaimana Covid-19 berdampak pada kesehatan mental

Ada beberapa teori mengapa gangguan kesehatan mental ini terjadi.

Bulbena dan Al-Aly mengatakan Covid-19 berpotensi menyebabkan gangguan atau perubahan biokimia otak.

Menurut Al-Aly, infeksi Covid-19 diketahui menyebabkan peradangan di dalam otak dan sumsum tulang belakang, serta perubahan pada sinapsis saraf.

Kondisi tersebut menghasilkan kadar serotonin yang rendah yang terkait dengan depresi dan kecemasan.

Lalu dalam studi baru lalu lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Nature, para peneliti menemukan, penderita Covid-19 mengalami penurunan kognitif yang terkait dengan penurunan ukuran rata-rata otak.

Ketebalan materi abu-abu otak yang terkait dengan penciuman dan memori peristiwa pun menurun.

Lebih lanjut, pemindaian otak peserta mengungkapkan bahwa penurunan kognitif dikaitkan dengan hilangnya sel-sel otak di otak kecil, yang memainkan peran penting dalam fungsi mental.

Virus influenza memang dapat menyebabkan brain fog, namun, virus corona dapat menyebabkan peradangan dan berdampak pada bagian otak yang berbeda. Bahkan, risikonya tetap lebih tinggi.

Lalu selama pandemi, Al-Aly dan rekannya juga menemukan bahwa pasien Covid-19 34 persen lebih mungkin menderita gangguan penggunaan opioid.

Hal ini disebabkan karena risiko peningkatan resep opioid juga meningkat sebesar 76 persen, sementara risiko gangguan penggunaan zat lain seperti alkoholisme meningkat sebesar 20 persen.

"Pasien cenderung menyembunyikan kebiasaan penggunaan narkoba mereka dan sering tidak diperhatikan karena dokter juga ragu untuk mengungkapkannya,” kata Bulbenna.

“Temuan penelitian ini juga memperkuat perlunya kebijakan kesehatan masyarakat untuk menangani masalah ini," tambah dia.

Apa yang perlu dilakukan saat tertular Covid-19?

Segera setelah pulih dari Covid-19, identifikasi awal gejala apa pun yang terkait dengan gangguan kesehatan mental menjadi sangat penting.

"Praktisi perawatan kesehatan perlu menyadari bahwa ada peningkatan risiko gangguan kesehatan mental untuk pasien Covid-19. Ini akan membantu mencegah masalah yang jauh lebih serius di masa depan," kata Al-Aly.

Ia juga merekomendasikan, saat pulih dari Covid-19, sangat penting untuk beristirahat dan membiarkan tubuh pulih guna mendapatkan kembali keseimbangan pasca infeksi

"Jika orang yang menderita Covid-19 dapat meluangkan waktu untuk menghormati tubuh dan waktu istirahatnya, kondiri mereka mungkin akan lebih baik dalam jangka panjang," ujar Al-Aly.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/03/17/110000220/terungkap-infeksi-covid-19-serang-kesehatan-mental-jangka-panjang-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.